Dalam beberapa tahun terakhir, cara manusia belajar mengalami perubahan besar. Teknologi digital, internet, dan kecerdasan buatan telah membuka akses tak terbatas terhadap sumber belajar. Anak-anak kini dapat mempelajari matematika melalui video daring, memahami sejarah dari podcast, bahkan belajar bahasa asing melalui aplikasi interaktif.
Fenomena ini menimbulkan satu pertanyaan penting: apakah di masa depan kita masih memerlukan guru?
Konsep belajar mandiri atau self-directed learning sebenarnya bukan hal baru. Tokoh-tokoh besar seperti Thomas Edison atau B.J. Habibie banyak menimba ilmu melalui eksplorasi pribadi. Namun, konteksnya kini berbeda. Dahulu, kemandirian belajar muncul karena keterbatasan sumber daya; sedangkan sekarang, karena kelimpahan informasi.
Dengan akses internet yang luas, setiap individu memiliki kebebasan untuk menentukan apa, kapan, dan bagaimana ia belajar. Fenomena ini menandai pergeseran dari paradigma teacher-centered learning menjadi student-centered learning. Dalam pandangan konstruktivisme, pengetahuan memang tidak sekadar ditransfer dari guru ke siswa, tetapi dikonstruksi sendiri oleh peserta didik melalui pengalaman belajar yang bermakna.
Perkembangan teknologi pendidikan (edtech) dan kecerdasan buatan (AI) kini memberikan peluang baru bagi pembelajaran otodidak. Platform seperti Coursera, Khan Academy, atau ChatGPT mampu menyesuaikan materi sesuai kemampuan pengguna. AI dapat menjadi “asisten belajar” yang menyediakan bimbingan personal, memberikan umpan balik langsung, dan mendorong siswa belajar sesuai ritme masing-masing.
Namun, di balik peluang itu, terdapat risiko serius. Informasi yang melimpah tanpa penyaringan dapat menimbulkan miskonsepsi. Selain itu, AI masih belum mampu menggantikan aspek-aspek esensial dari proses pendidikan, seperti pembentukan karakter, nilai moral, dan kemampuan sosial-emosional.
Belajar bukan hanya soal what to know, tetapi juga how to be, dan di sinilah manusia masih memegang peran utama. Apakah Guru Akan Tergantikan?
Meskipun teknologi semakin canggih, guru tidak akan tergantikan mereka akan berevolusi.
Guru masa depan bukan lagi sekadar “pemberi pengetahuan”, melainkan fasilitator dan pembimbing pembelajaran (learning coach). Peran mereka bergeser dari transfer informasi menjadi pendamping yang membantu siswa menemukan makna dari proses belajar.
Menurut teori andragogi dari Malcolm Knowles, belajar akan lebih efektif jika peserta didik terlibat aktif dalam menentukan arah dan tujuan pembelajarannya. Dengan demikian, guru perlu menyesuaikan pendekatan mereka agar siswa dapat berperan sebagai subjek, bukan sekadar objek pembelajaran.
Eksperimen Otodidak di Dunia Nyata
Beberapa sistem pendidikan modern telah bereksperimen dengan model belajar mandiri. Misalnya, konsep unschooling yang berkembang di Amerika Serikat, di mana anak-anak belajar berdasarkan minat dan pengalaman, bukan berdasarkan kurikulum formal.
Di Indonesia, tren serupa muncul lewat komunitas pembelajar mandiri, kursus daring, dan proyek-proyek berbasis minat. Program seperti Ruangguru, RevoU, dan berbagai platform belajar daring membuka ruang bagi siswa untuk mengembangkan potensi diri tanpa batas ruang dan waktu.
Meski demikian, kebebasan belajar juga menuntut tanggung jawab. Tidak semua siswa memiliki kemandirian, motivasi, dan disiplin diri yang cukup untuk belajar tanpa arahan. Oleh karena itu, kehadiran guru tetap penting untuk membantu mengarahkan, memotivasi, dan memastikan pembelajaran berjalan secara etis dan bermakna.
Masa depan pendidikan tampaknya akan bergerak ke arah model hybrid, yang memadukan keunggulan teknologi dengan sentuhan manusiawi. Guru dan AI bukan pesaing, melainkan mitra. AI dapat membantu mempermudah proses kognitif, sementara guru berfokus pada aspek afektif dan sosial.
Sekolah masa depan mungkin tidak lagi menjadi satu-satunya tempat belajar, tetapi tetap berfungsi sebagai ruang interaksi, kolaborasi, dan refleksi. Penilaian pendidikan pun perlu beradaptasi, dari sekadar nilai ujian menuju portofolio pembelajaran yang menunjukkan kemampuan nyata dan proses berpikir siswa.
“Belajar tanpa guru” bukan berarti meniadakan peran guru, melainkan menegaskan kembali makna sejati pendidikan. Guru masa depan akan menjadi penuntun yang menyalakan rasa ingin tahu, membimbing dengan empati, dan menumbuhkan karakter.
Teknologi dapat menggantikan sebagian fungsi mengajar, tetapi tidak dapat menggantikan makna mendidik. Sebab pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang pengetahuan, tetapi tentang kemanusiaan. Dan selama nilai itu masih dijunjung, guru dalam bentuk apa pun akan selalu dibutuhkan.
Referensi:
Collier, C. (2023). Theoretical and Historical Evolutions of Self-Directed Learning: The Case for Learner-Led Education. Routledge.
Sarahono, F. R., Lase, A., Laoli, B., & Laoli, E. S. (2024). Penerapan model pembelajaran self directed learning (SDL) untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Jurnal Penelitian, Pendidikan dan Pengajaran (JPPP), 5(2), 218–224. https://doi.org/10.30596/jppp.v5i2.20962
Pradana, A. K. A., Mardliyah, S., & Yulianingsih, W. (2024). Analysis of generative AI adoption in self-directed learning among Kejar Paket B students at SKB Sidoarjo. JPPM (Jurnal Pendidikan dan Pemberdayaan Masyarakat), 11(2), 144–157. http://journal.uny.ac.id/index.php/jppm
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer






























































