Di lingkungan bisnis masa kini, hampir tidak ada keputusan strategis yang dibuat secara mandiri. Kegiatan seperti rapat kerja, diskusi antaranggota tim, serta forum konsultasi telah menjadi komponen yang tidak dapat dipisahkan dari budaya kerja di perusahaan. Namun, sebuah pertanyaan yang patut direnungkan muncul ke permukaan: apakah keputusan yang dihasilkan melalui proses kelompok selalu memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan keputusan yang diambil oleh individu tunggal?
Berdasarkan penelitian dalam bidang perilaku organisasi, kelompok cenderung menghasilkan keputusan yang lebih ekstrem jika dibandingkan dengan pilihan yang dibuat oleh seseorang secara sendiri. Kondisi ini bisa berupa kecenderungan untuk mengambil risiko yang lebih besar atau sebaliknya, menjadi lebih konservatif dan berhati-hati. Fenomena ini dikenal dalam teori dengan sebutan group induced shift theory atau teori pergeseran sikap yang diinduksi kelompok.
Blue Bird Group: Ketika Sistem Keputusan Kelompok Berjalan Baik
Blue Bird Group merupakan salah satu perusahaan transportasi terbesar di Indonesia yang membuktikan bahwa pengambilan keputusan yang terencana dan matang bisa menjadi kunci keberhasilan sebuah organisasi.
Berdasarkan penelitian dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, sistem pengambilan keputusan dan pengendalian manajemen yang diterapkan Blue Bird tergolong sangat baik. Hal ini membuat perusahaan tetap mampu bertahan dan berkembang, meskipun harus menghadapi berbagai tantangan, termasuk persaingan dari layanan transportasi berbasis aplikasi.
Keberhasilan tersebut tidak lepas dari proses diskusi yang terstruktur di tingkat manajemen. Setiap keputusan penting, seperti penambahan armada atau penentuan tarif, selalu dibahas bersama dengan melibatkan berbagai pihak terkait. Dengan cara ini, keputusan yang diambil menjadi lebih matang dan tidak hanya berdasarkan satu sudut pandang saja.
PT ASDP Indonesia Ferry dan Bahaya Groupthink
Kasus PT ASDP Indonesia Ferry memperlihatkan sisi lain yang kurang terlihat dari pengambilan keputusan secara kelompok.
Pada November 2025, tiga orang direksi ASDP Ira Puspadewi, Muhammad Yusuf Hadi, dan Harry Muhammad Adhi Caksono dijatuhi hukuman pidana oleh Pengadilan Tindak Pidana Korupsi. Mereka dinilai telah menyebabkan kerugian negara sebesar Rp1,25 triliun dalam proses akuisisi PT Jembatan Nusantara.
Menariknya, selama persidangan tidak ditemukan bukti adanya aliran dana atau keuntungan pribadi yang diterima oleh ketiga direksi tersebut. Ketua majelis hakim, Sunoto, bahkan menyampaikan dissenting opinion. Ia berpendapat bahwa tidak ada unsur niat jahat dalam keputusan akuisisi tersebut, dan menilai bahwa para direksi semestinya mendapatkan perlindungan melalui prinsip Business Judgement Rule, yaitu aturan yang melindungi pengambil keputusan bisnis selama bertindak dengan itikad baik.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa keputusan kolektif, bahkan di tingkat direksi, tetap berpotensi menimbulkan masalah serius apabila prosesnya kurang transparan dan tidak terdokumentasi secara memadai. Fenomena tersebut sejalan dengan konsep The Abilene Paradox.
The Abilene Paradox menggambarkan kondisi ketika suatu kelompok mengambil keputusan bersama yang sebenarnya tidak sesuai dengan keinginan masing-masing anggotanya. Hal ini terjadi karena setiap individu enggan menyampaikan pendapat yang berbeda, dengan asumsi bahwa anggota lain mendukung keputusan tersebut.
Akibatnya bisa cukup serius: keputusan yang dihasilkan menjadi tidak optimal, muncul kekecewaan di antara anggota tim, dan kinerja kelompok menurun. Dalam konteks kasus ASDP, minimnya kritik atau perbedaan pendapat yang disuarakan kemungkinan menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap keputusan akuisisi yang bermasalah.
Perbandingan Keputusan Individu dan Kelompok Menurut Penelitian
Pengambilan keputusan tidak selalu menjadi lebih baik ketika dilakukan secara bersama-sama. Dalam banyak kasus, keputusan kelompok justru bisa menjadi lebih ekstrem dibandingkan keputusan individu. Sejumlah penelitian, termasuk yang dipublikasikan oleh Universitas Muhammadiyah Magelang, menunjukkan bahwa kelompok dapat mengambil keputusan yang lebih berisiko atau sebaliknya lebih konservatif dibandingkan pilihan awal anggotanya.
Temuan tersebut sejalan dengan konsep group induced shift theory yang juga dibahas dalam Jurnal Bisnis dan Akuntansi. Teori ini menjelaskan bahwa interaksi dalam kelompok mendorong perubahan arah keputusan menjadi lebih ekstrem, tergantung pada dinamika yang terjadi selama diskusi.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan hal ini. Pertama, tanggung jawab yang terbagi membuat individu merasa risiko tidak sepenuhnya ditanggung sendiri. Kedua, adanya validasi sosial membuat seseorang lebih yakin dengan pilihannya ketika didukung oleh anggota lain. Ketiga, efek penularan dalam diskusi memungkinkan sikap berani atau kehati-hatian menyebar ke seluruh anggota kelompok.
Fenomena ini dapat dilihat dalam praktik bisnis. Keberhasilan Blue Bird Group menunjukkan bahwa keputusan kelompok yang dikelola dengan baik dapat menjadi kekuatan utama dalam mendorong pertumbuhan perusahaan. Sebaliknya, kasus PT ASDP Indonesia Ferry menjadi pengingat bahwa diskusi kelompok yang tidak sehat, terutama jika dipengaruhi oleh groupthink atau Abilene Paradox, justru dapat menghasilkan keputusan yang merugikan bahkan berimplikasi hukum.
Pada akhirnya, melibatkan tim dalam pengambilan keputusan memang penting, tetapi bukan berarti semua suara harus selalu sejalan. Justru, keberanian untuk membuka ruang perbedaan pendapat menjadi kunci agar keputusan yang dihasilkan tidak terjebak dalam kesepakatan semu yang berisiko.
Berdasarkan dua studi kasus, yaitu Blue Bird Group yang menunjukkan keberhasilan dan PT ASDP Indonesia Ferry yang mengalami permasalahan, dapat disimpulkan bahwa pengambilan keputusan kelompok memiliki potensi yang sangat besar, namun juga mengandung risiko yang signifikan.
Keberhasilan Blue Bird menunjukkan bahwa pengelolaan sistem yang efektif mampu menjadikan keputusan kelompok sebagai pendorong utama pertumbuhan perusahaan. Sebaliknya, kasus ASDP mengindikasikan bahwa proses diskusi yang tidak terstruktur dan tidak terkontrol, khususnya ketika terjadi fenomena Groupthink dan Abilene Paradox, dapat menghasilkan keputusan yang merugikan bahkan berimplikasi hukum.
Oleh karena itu, pemimpin organisasi perlu melibatkan tim dalam proses pengambilan keputusan, dengan tetap membuka ruang terhadap perbedaan pendapat. Hal ini penting karena ketidakmampuan dalam mengelola kesepakatan sering kali lebih berisiko dibandingkan ketidakmampuan dalam mengelola konflik.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer


























































