Jakarta — Program MBG menargetkan siswa, lansia, dan ibu hamil dalam pelaksanaannya, dan untuk mengetahui hasilnya semenjak genap satu tahun pelaksanaannya, dua siswa SD kawasan DKI Jakarta mengutarakan bahwa program ini memiliki sisi positif dan sisi negatifnya tersendiri.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu program yang diluncurkan oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini telah dirancang semenjak sebelum masa pelantikan, dan telah disosialisasikan pada masa kampanye Presiden Prabowo Subianto.
Dilansir dari UMKMIndonesia.id, “Program MBG merupakan bagian dari delapan misi Asta Cita Presiden Prabowo, khususnya dalam memperkuat pembangunan sumber daya manusia. Program ini bertujuan mengatasi masalah gizi buruk dan stunting sekaligus mendukung tumbuh kembang anak-anak, kesehatan ibu hamil, dan kualitas pendidikan.”
Program ini telah diregulasikan sejak tahun 2024, dan serentak dilaksanakan pada 2025. Seperti yang dapat dilihat pada artikel yang diterbitkan oleh UMKMIndonesia.id, “Secara regulasi, program ini berpijak pada Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2024 tentang Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai lembaga pelaksana, serta Peraturan BGN Nomor 6 Tahun 2024 yang mengatur tata laksana penyelenggaraan program secara lebih rinci.”
Vania (13) adalah siswa SD kelas VI yang bersekolah di SDN Grogol Utara 03, Jakarta Selatan. Sedangkan, Viona (13) adalah siswa SD kelas VI yang bersekolah di SDN Susukan 03 Pagi, Jakarta Timur.
Meski berada di kawasan yang terhitung dekat, distribusi MBG pada sekolah mereka berjarak cukup lama, di mana Viona menerima MBG di sekolahnya semenjak Februari 2025, di mana Vania baru menerima MBG di sekolahnya semenjak Maret 2026.
Hal ini menunjukkan salah satu kendala terbesar program MBG, yaitu pendistribusiannya yang tidak merata, karena sumber daya yang terbatas, terutama di daerah-daerah pelosok.
Menurut Badan Gizi Nasional (BGN) pada laman bgn.go.id, program MBG dirancang “untuk memastikan setiap individu mendapatkan asupan gizi optimal, mendukung tercapainya Indonesia Emas melalui generasi yang sehat dan berkualitas.” BGN juga menyatakan bahwa mereka berkomitmen untuk “menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia yang berkualitas, demi membangun fondasi generasi mendatang yang sehat, cerdas, dan tangguh.”
Ketika ditanya mengenai kenaikan prestasi berupa nilai rapor sekolah, Vania dan Viona keduanya mengatakan bahwa sangat sedikit, bahkan tidak ada perubahan signifikan dalam segi prestasi mereka setelah mengonsumsi MBG dalam jangka beberapa waktu.
“Menurut aku sih jujur ada walaupun cuma sedikit, tapi tidak se-efektif itu sih ke nilai,” ujar Vania. Pada kesempatan yang sama, Viona juga mengatakan, “Jujur tidak ada sih.”
Hal ini menunjukan bahwa salah satu target pencapaian program MBG, yaitu peningkatan prestasi pada anak-anak belum begitu dirasakan oleh mereka yang menjadi sasaran program ini.
Anak-anak, terutama mereka yang masih duduk di bangku SD, juga terkenal dengan selera makannya yang beragam, yang menjadi salah satu tantangan program MBG. Selain melihat faktor gizi, makanan juga harus mudah diterima oleh lidah anak-anak yang menjadi sasarannya.
Vania dan Viona menyatakan opini mereka mengenai menu MBG yang selama ini pernah mereka terima.
“Biasanya sih menunya ayam, dan ada tempe atau tahu juga. Jujur rasanya kayak makanan biasa yang dimasak di rumah, mungkin lebih hambar aja karena tidak pakai penyedap atau minim penyedap,” ujar Vania.
Sedangkan Viona mengatakan, “Biasanya sih pakai ayam, nasi, sayur, dan buah. Rasanya sih standar aja ya. Kurang kerasa tapi kadang bumbunya, terus kadang rasanya suka kecampur-campur.”
Program ini memiliki banyak manfaat apabila pelaksanaannya sesuai dengan standar dan tidak menguras sumber daya yang dimiliki oleh negara. Namun sejauh ini masih banyak kendala yang mengurangi kemantapan pelaksanaan program MBG.
Vania dan Viona mengutarakan sisi positif dan negatif program MBG menurut pandangan mereka sebagai siswa SD kelas VI.
“Plus-nya itu dia meringankan orang tua yang harus membawakan bekal setiap hari ke anaknya, karena sekarang sudah ada MBG yang dibagikan ke setiap anak di sekolah. Minus-nya mungkin terkadang ada beberapa makanan atau lauk yang sudah tidak layak makan, seperti sayur yang kadang sudah basi, dan juga beberapa lauk yang keras,” ucap Vania.
Sedangkan Viona berpendapat, “Plus-nya mungkin bisa hemat uang jajan. Minus-nya ya mungkin bisa jadi mubazir karena kalau ada menu yang kurang disukai, akan tidak dimakan, dan bagian SPPG-nya akan langsung nge-buang makanannya, atau bahan-bahan masakan yang kurang sehat, yang bisa menyebabkan ‘keracunan’ tapi ngga semua sih, itu tergantung.”
Dikutip dari Kabar Bursa, Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani, mengkritisi lemahnya pengawasan dalam distribusi MBG. Terdapat kasus pendistribusian makanan yang tidak layak, menyebabkan kasus keracunan yang terjadi di beberapa sekolah. Ia mendorong digitalisasi dalam pelaporan distribusi agar bisa dipantau secara real-time.
Hal ini telah tercapai dengan adanya platform Pantaumbg.com, yang dapat diakses oleh mitra, sekolah, dan posyandu untuk proses distribusi MBG. Sayangnya, platform ini belum bisa diakses untuk masyarakat luas sebagai pengamat dan penerima program terkait.
Lalu, pertanyaan yang harus kita renungkan adalah, “Apakah program ini layak untuk diteruskan?” Dengan perspektif kedua siswa SD tersebut, kita dapat melihat respon anak-anak yang menjadi penerima langsung program Makan Bergizi Gratis.
Meskipun program ini dapat menjadi penyokong kesejahteraan anak, lansia, dan ibu hamil secara konsep dan garis besarnya, dalam pelaksanaannya masih terdapat terlalu banyak celah dan ambivalensi, yang menyebabkan program ini masih harus dievaluasi lebih lanjut lagi.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer





























































