Sejak kecil, kita terbiasa mendengar satu pesan sederhana belajar yang rajin, kerja keras, pasti masa depan akan cerah. Pesan itu selalu diulang , dari sekolah sampai ke media sosial, seakan menjadi rumus pasti. Namun, ketika kita didorong untuk bermimpi besar, melanjutkan pendidikan tinggi, dan menjadi generasi lebih maju, kenyataan banyak orang justru berlawanan. Lapangan kerja tidak tumbuh secepat pencari kerja. Tekanan ekonomi terasa kuat, terutama bagi kelas menengah. Akibatnya, “rumus” yang dulu dipercaya tidak selalu memberi hasil yang diharapkan. Lalu, apakah ini kegagalan individu atau ada masalah lebih dalam dalam struktur ekonomi?
Di tengah mimpi besar menjadi negara maju, para generasi mudah justru dihadapkan pada persyaratan lowongan kerja yang terasa tidak masuk akal, bukan peluang kerja yang terbuka lebar. Banyak perusahaan mengutamakan pelamar yang berpengalaman, namun disaat yang sama juga tetap membuka posisi untuk fresh graduate. Padahal, pada kenyataannya, lulusan baru itu masih jarang yang memiliki kesempatan untuk memperoleh pengalaman kerja yang memadai.
Kondisi ini terlihat di berbagai platform pencarian kerja seperti JobStreet, Glints, dan Linkedln. Tidak jarang lowongan pekerjaan ditujukan kepada pemula, tetapi dengan ketentuan memiliki pengalaman kerja minimal berapa tahun. Kondisi ini yang membuat generasi muda down dan merasa semakin jauh dari cita-citanya.
Hal ini juga sempat dirasakan oleh Feren (25), seorang pekerja “Cari pekerjaan memang gak mudah, dulu waktu saya fresh graduate ada banyak lowongan, tapi kebanyakan minta pengalaman. Saya hampir dua tahun belum dapat pekerjaan” ujarnya. Pernyataan ini menunjukkan kesenjangan antara pendidikan dan kebutuhan di dunia kerja.
Kondisi tersebut dapat dikaitkan dengan teori human capital, yang menyatakan bahwa pendidikan dan pelatihan seharusnya dapat meningkatkan kualitas serta kesiapan tenaga kerja. Namun, dalam kenyataannya, pendidikan tinggi tidak menjamin kemudahan mendapatkan pekerjaan, Banyak lulusan berpendidikan tinggi yang belum mendapatkan pekerjaan. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara tingkat pendidikan dengan kebutuhan.
Tidak hanya itu, permasalahan lainnya juga terlihat dari generasi muda yang terjebak dalam pekerjaan tanpa kontrak maupun jaminan karir yang jelas. Ada pula yang hanya mendapatkan kontrak jangka pendek yang terus diperpanjang tanpa kepastian untuk menjadi karyawan tetap. Kondisi ini menunjukkan bahwa masalah ketenagakerjaan tidak hanya pada mencari pekerjaan, tetapi juga pada kualitas dan kepastian kerja.
Sulitnya mencari pekerjaan dan rentannya sistem kerja saat ini merupakan masalah struktural, bukan sekadar kegagalan individu. Untuk memutus siklus ironis ini, dibutuhkan sinergi dari tiga pihak: pemerintah yang mempertegas regulasi dan memberi insentif bagi penyerap fresh graduate, sektor swasta yang menyesuaikan syarat rekrutmen agar lebih realistis, serta institusi pendidikan yang wajib menyelaraskan kurikulum dengan kebutuhan industri.
Pada akhirnya, fresh graduate tidak semestinya terus dijadikan tumpuan kesalahan atau dibiarkan berjuang sendirian di tengah ekosistem ketenagakerjaan yang problematik. Jika cita-cita kemajuan bangsa terus digaungkan, perbaikan sistem ini harus menjadi prioritas utama. Tanpa kolaborasi nyata, visi besar negara hanya akan berakhir sebagai retorika, dan bonus demografi justru berbalik menjadi bencana pengangguran massal.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer



































































