Mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) yang tergabung dalam Kelompok 106 Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) melaksanakan kegiatan sosialisasi bertema “Penanggulangan Perundungan Sosial (Social Bullying) di Lingkungan Sekolah” pada Senin, 27 Oktober 2025, di SMA Negeri 15 Medan. Kegiatan ini menjadi bentuk penerapan pembelajaran berbasis proyek yang bertujuan menumbuhkan kepedulian siswa terhadap isu sosial di lingkungan pendidikan.
Kegiatan yang difasilitasi oleh Drs. Warisman Sinaga, M.Hum. selaku dosen pendamping dan didampingi mentor Oinike Nathasia Putri Tambunan ini diikuti oleh siswa kelas XI Newton. Melalui diskusi interaktif dan penyampaian materi edukatif, siswa berusaha mengajak siswa memahami berbagai bentuk perundungan sosial serta dampaknya terhadap psikologis dan lingkungan sekolah.
Ketua Kelompok 106, Fikri Habibi Afiq, menjelaskan bahwa kegiatan ini berangkat dari kuliah terhadap kasus-kasus perundungan yang sering terjadi di kalangan pelajar.
“Kami ingin menekankan bahwa bullying bukan hanya soal kekerasan fisik, tapi juga bisa terjadi melalui tindakan sosial seperti mengucilkan atau mempermalukan teman. Melalui kegiatan ini, kami berharap siswa lebih peka terhadap lingkungannya,” ujar Fikri.
Salah satu peserta, Laila Nurhasanah, mengaku sosialisasi tersebut membuka pameran mengenai bentuk-bentuk perundungan yang selama ini tidak disadari.
“Saya baru tahu kalau menjauhi atau tidak mau bergaul dengan teman juga bisa termasuk bullying. Jadi sekarang saya lebih berhati-hati dan ingin membantu kalau lihat teman dikucilkan,” katanya.
Fasilitator Dosen, Drs. Warisman Sinaga, M.Hum., menilai proyek semacam ini penting sebagai sarana pembentukan karakter mahasiswa. Ia menuturkan, melalui interaksi langsung dengan masyarakat, siswa belajar menanamkan nilai empati dan tanggung jawab sosial yang menjadi inti dari pembelajaran MKWK.
“Kegiatan seperti ini mengasah kemampuan siswa untuk memahami masalah sosial secara nyata, bukan hanya lewat teori. Mereka belajar bagaimana berkomunikasi, berempati, dan memberi solusi,” jelasnya.
Selain sosialisasi dan diskusi, siswa juga menyiapkan materi visual edukatif yang dirancang agar siswa mudah memahami pesan anti-perundungan. Kegiatan diakhiri dengan sesi refleksi bersama pihak sekolah yang menyatakan dukungan terhadap program serupa di masa mendatang.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa berharap pesan anti perundungan dapat terus bergema di lingkungan sekolah. Proyek ini juga menjadi wujud nyata kontribusi USU dalam membentuk generasi muda yang berkarakter, berempati, dan peduli terhadap sesama.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer


































































