Medan, 18 Oktober 2025 — Kelompok mahasiswa proyek Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) 16 Perundungan Universitas Sumatera Utara (USU) mengadakan edukasi dan pembimbingan terkait kasus bullying yang akhir-akhir ini sering terjadi di kalangan sekolah. Dalam kesempatan tersebut, mahasiswa berkesempatan berdialog langsung dengan siswa-siswi di sekolah dan menggali pandangan mereka terhadap kondisi perundungan yang terjadi di sekitar mereka. Proyek ini dilakukan di SMPN 7 Medan, pada Jumat (18/10/2025).
Kelompok Proyek 16 Perundungan terdiri dari 20 mahasiswa/i dari berbagai fakultas dan program studi di USU. Fajrul Falah, selaku Ketua Kelompok, menjelaskan bahwa kasus perundungan ini menjadi perhatian yang cukup memprihatinkan dikarenakan masyarakat belum paham betul cara penanganan kasus perundungan ini. Oleh karena itu, kegiatan ini memberi manfaat dalam meningkatkan pengetahuan dan kesadaran siswa-siswi SMPN 7 Medan.
Suara dari Siswa-Siswi SMPN 7 Medan
Dalam sesi dialog interaktif, mahasiswa berkesempatan mendengar langsung pengalaman dan pandangan siswa-siswi mengenai isu perundungan di lingkungan mereka.
Salah seorang siswa, Beryl, menceritakan pengalamannya mengenai kasus perundungan yang pernah ia saksikan. Ia menjelaskan bahwa ada teman sekelasnya yang sering mengejek temannya “Karena suka kali ngelece (mengejek) bang kalo di kawanin,” ujarnya menjelaskan bagaimana ejekan tersebut sering terjadi di dalam kelas.
Ketika ditanya tentang perundungan yang terjadi, Beryl menambahkan, “Dia bilg org paok, jadi dia diejek org tikus rabies bg.” Ia menyaksikan bagaimana temannya tersebut mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari teman-teman sekelasnya.
Beryl juga menceritakan dampak dari perundungan tersebut. “Cewek nya ada tapi sesama cewek yg buly,” katanya, menjelaskan bahwa perundungan tidak hanya terjadi antar gender berbeda, tetapi juga sesama perempuan. Ia menambahkan, “Karena anak cewe ini suka kali ngomong yg nggak nggak suka kali membalikan fakta, terus dia suka kali adu domba org bg, makanya dia di bully bg.”
Pengalaman yang dibagikan oleh Beryl menunjukkan bahwa perundungan di lingkungan sekolah dapat terjadi karena berbagai alasan, mulai dari kondisi fisik, perilaku, hingga masalah komunikasi antar siswa. Melalui kegiatan ini, para siswa menunjukkan antusiasme yang tinggi dalam memahami pentingnya saling menghormati dan menciptakan lingkungan sekolah yang bebas dari perundungan. Mereka juga berkomitmen untuk menjadi bagian dari solusi dengan saling mendukung teman-teman mereka yang mungkin menjadi korban bullying.
Komitmen Bersama Melawan Perundungan
Kegiatan edukasi ini tidak hanya memberikan pemahaman teoritis, tetapi juga mengajak seluruh siswa untuk aktif berperan dalam mencegah dan menghentikan perundungan di lingkungan sekolah mereka. Dengan semangat kebersamaan dan kepedulian terhadap sesama, diharapkan generasi muda dapat tumbuh dalam lingkungan yang sehat, saling menghargai, dan bebas dari intimidasi.
Kelompok 16 Perundungan USU berharap program edukasi ini dapat menjadi langkah awal untuk menciptakan kesadaran yang lebih luas tentang bahaya perundungan dan pentingnya menciptakan budaya sekolah yang positif dan inklusif.
Stop Bullying, Start Carrying!
#AntiPerundungan #StopBullying #SMPN7Medan #USUPeduli #MKWK16
Tautan video https://youtu.be/0W1LhvsKvMM?si=LQv6a7a9qU5_R5EG
Tautan Ig https://www.instagram.com/reel/DR4NHgfCUGP/?igsh=bWMwdW4ycmpxYTN1
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer


































































