Scroll TikTok sebentar, tiba-tiba satu jam berlalu. Fenomena konsumsi video pendek yang makin masif di kalangan remaja dan mahasiswa kini bukan sekadar soal hiburan, tapi juga mulai berdampak pada cara mereka belajar dan berkonsentrasi. Sejumlah penelitian psikologi pendidikan menunjukkan bahwa kebiasaan ini berpotensi mengganggu fokus dan ketahanan perhatian.
Salah satunya ditunjukkan dalam jurnal yang ditulis oleh Nurul Ahmat Fauzi dan Surawan. Penelitian tersebut menemukan bahwa mahasiswa yang intens mengonsumsi video pendek cenderung mengalami kesulitan mempertahankan konsentrasi, cepat terdistraksi, dan merasa sulit fokus saat membaca atau mengerjakan tugas akademik. Untuk memahami dampak ini, dua teori psikologi kognitif dapat membantu menjelaskannya.
Dalam Information Processing Theory, otak manusia bekerja layaknya sistem pemrosesan informasi yang melewati tahapan memori sensorik, memori jangka pendek, dan memori jangka panjang. Video pendek yang bergerak cepat, penuh warna, dan berganti konten dalam hitungan detik membuat otak terus menerima rangsangan baru tanpa jeda. Akibatnya, perhatian menjadi terfragmentasi. Otak terbiasa dengan fokus singkat dan terus menunggu stimulus berikutnya. Tak heran jika mahasiswa yang terbiasa menonton video pendek merasa gelisah saat harus membaca teks panjang atau belajar dalam waktu lama.
Teori kedua, Cognitive Load Theory, menjelaskan bahwa memori kerja manusia memiliki kapasitas terbatas. Video pendek yang sarat efek visual dan audio menciptakan beban kognitif tambahan yang sebenarnya tidak relevan dengan proses belajar. Ketika kebiasaan ini berlangsung terus-menerus, kapasitas mental seseorang sudah “habis” bahkan sebelum mulai belajar. Inilah yang menyebabkan materi pelajaran terasa lebih berat, sulit dipahami, dan cepat melelahkan.
Temuan Ahmat Fauzi memperkuat gambaran tersebut. Mahasiswa yang kecanduan video pendek menunjukkan penurunan kemampuan untuk berpikir mendalam dan mempertahankan fokus. Otak mereka telah terbiasa dengan pola informasi yang cepat, singkat, dan instan, sehingga pembelajaran yang menuntut ketekunan menjadi tantangan tersendiri.
Pada akhirnya, konsumsi video pendek yang berlebihan berisiko melemahkan daya fokus dan kualitas belajar remaja. Masalah ini bukan sekadar soal kurang disiplin atau kecanduan hiburan, tetapi berkaitan langsung dengan cara otak memproses informasi. Karena itu, literasi digital, pengaturan waktu layar, serta pembiasaan belajar dengan fokus mendalam menjadi semakin penting. Tanpa kesadaran ini, kemampuan kognitif yang esensial bisa terkikis perlahan di tengah derasnya arus konten digital.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer



































































