Perubahan dalam dunia pendidikan hari ini terasa cepat. Sekolah mulai masuk ke era digital, kurikulum diperbarui, dan berbagai program peningkatan mutu terus digulirkan. Namun pertanyaan pentingnya sederhana: apakah semua itu benar-benar berdampak pada kinerja pendidikan
Kalau melihat data, jawabannya belum sepenuhnya. Hasil PISA 2022 yang dirilis oleh OECD menunjukkan skor literasi membaca siswa Indonesia berada di angka 359, matematika 366, dan sains 383. Angka ini masih jauh di bawah rata-rata OECD yang berada di kisaran 470–490. Artinya, secara kemampuan dasar, siswa Indonesia masih tertinggal cukup jauh.
Di dalam negeri, Asesmen Nasional juga menunjukkan tantangan yang tidak kecil. Data dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia melalui Rapor Pendidikan mengindikasikan bahwa sekitar 50% lebih siswa belum mencapai kompetensi minimum dalam literasi dan numerasi. Ini bukan angka kecil. Ini berarti setengah dari siswa kita masih kesulitan memahami bacaan atau menyelesaikan soal dasar.
Di sisi lain, pemerintah sebenarnya sudah mengalokasikan anggaran pendidikan yang besar. Berdasarkan data Kementerian Keuangan Republik Indonesia, anggaran pendidikan mencapai sekitar 20% dari APBN, atau lebih dari Rp600 triliun per tahun dalam beberapa tahun terakhir. Secara logika, dengan investasi sebesar itu, kualitas pendidikan seharusnya bergerak lebih cepat.
Banyak kebijakan dan program sebenarnya sudah dirancang dengan baik. Ada digitalisasi sekolah, platform pembelajaran, hingga pelatihan guru. Namun di lapangan, implementasinya sering tidak maksimal. Masalahnya bukan pada kebijakan, tapi pada bagaimana kebijakan itu dijalankan.
Kepemimpinan sekolah punya peran besar di titik ini. Studi dari World Bank menunjukkan bahwa kepemimpinan kepala sekolah menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi kualitas pembelajaran, bahkan disebut sebagai faktor kedua paling berpengaruh setelah kualitas guru.
Sayangnya, masih banyak praktik kepemimpinan yang berfokus pada hal administratif. Kepala sekolah sibuk dengan laporan, target, dan kepatuhan terhadap aturan. Guru diminta menyelesaikan tugas, tapi tidak selalu diberi ruang untuk berkembang.
Akibatnya, kinerja yang muncul cenderung formalitas. Mengajar jalan, tapi tidak berkembang. Program ada, tapi tidak berdampak. Di era sekarang, pendekatan seperti ini sudah tidak cukup.
Kepemimpinan pendidikan harus berubah menjadi lebih adaptif dan manusiawi. Pemimpin perlu memahami bahwa kinerja guru tidak bisa dipaksa hanya dengan target. Data dari berbagai survei pendidikan menunjukkan bahwa motivasi dan dukungan lingkungan kerja sangat memengaruhi performa guru.
Ketika guru merasa didukung, mereka lebih terbuka untuk mencoba metode baru. Ketika mereka dipercaya, kreativitas muncul. Dan dari situ, kualitas pembelajaran meningkat.
Selain itu, pemimpin juga harus mampu membaca perubahan zaman. Digitalisasi, misalnya, bukan sekadar soal menggunakan aplikasi. Data menunjukkan bahwa meskipun akses internet di sekolah meningkat, pemanfaatannya untuk pembelajaran aktif masih terbatas.
Menurut laporan UNESCO, banyak sekolah di negara berkembang termasuk Indonesia sudah memiliki akses teknologi, tetapi penggunaannya masih didominasi untuk administrasi, bukan pembelajaran interaktif.
Selain itu, kepemimpinan juga harus kontekstual. Indonesia punya lebih dari 250 ribu sekolah dengan kondisi yang sangat beragam. Pendekatan yang sama tidak bisa diterapkan di semua tempat. Pemimpin yang efektif adalah yang mampu menyesuaikan kebijakan dengan kondisi nyata di lapangan.
Peningkatan kinerja pendidikan pada akhirnya bukan hanya soal angka, tapi soal proses. Namun data memberi kita sinyal yang jelas: masih ada gap besar yang harus diperbaiki. Dan salah satu kunci untuk menutup gap itu adalah kepemimpinan.
Jika pemimpin sekolah mampu menggerakkan guru, menciptakan lingkungan yang sehat, dan menerjemahkan kebijakan menjadi praktik nyata, maka kinerja akan ikut bergerak. Tapi jika kepemimpinan masih berhenti di level administratif, maka perubahan hanya akan terlihat di atas kertas.
Dengan anggaran besar, program yang banyak, dan tantangan yang kompleks, pendidikan Indonesia sebenarnya punya potensi untuk maju. Tinggal satu hal yang perlu dipastikan apakah kita memiliki kepemimpinan yang benar-benar mampu menggerakkan?
Karena pada akhirnya, kinerja yang baik tidak lahir dari sistem yang rumit, tapi dari kepemimpinan yang mampu menghidupkan sistem itu sendiri.
Tulisan ini disusun oleh Dewi Anggraini S. Pd sebagai refleksi akademik dalam mata kuliah Manajemen Berbasis Sekolah & Networking Pendidikan pada Program Studi Magister Manajemen Pendidikan, Universitas Pamulang (UNPAM), kelas 02MPDM003. Gagasan ini dikembangkan dari pembelajaran dan diskusi bersama dosen pengampu, Dr. Herdi Wisman Jaya, S.Pd., M.H, menjadi opini tentang peran kepemimpinan sekolah dalam meningkatkan kualitas pendidikan.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer

































































