Setiap sore di kelas kosong pesantren tempatnya menuntut ilmu, Aini Mukaromatul Agnia (19) terlihat berdiri menghadap deretan rak Al-Qur’an. Suaranya mengalun pelan saat menghafal teks syarhil, sambil sesekali ia berhenti, menandai bagian mana yang perlu ia tekankan nanti di panggung. Di antara hiruk-pikuk santri lain yang belajar, Aini tenggelam dalam dunianya bersama dua rekan se-tim nya. Dunia dimana setiap kata harus hidup, setiap ayat harus menyentuh, dan setiap pesan harus sampai dengan tepat.
Sejak kecil, Aini sudah akrab dengan dunia panggung. Ia sering mengikuti lomba pidato, da’i cilik, dan sejenisnya. Pengalaman itu melatih intonasi, keberanian, dan cara menyampaikan pesan menjadi modal penting yang kemudian membawanya ke kompetisi syarhil Qur’an.
“Sejak kecil saya memang sudah aktif di dunia pidato, dai cilik, dan sejenisnya, tapi saat SMP saya baru benar-benar merasa bahwa syarhil Qur’an adalah jalan yang ingin saya tekuni lebih serius,” ujar Aini saat diwawancarai pada Senin (08/12/2025).
Meski berpengalaman tampil, perjalanan mencapai level nasional tidak selalu mudah. Aini berlatih bersama dua rekan se-tim nya, menata ritme antara qari, pensyarah, dan saritilawah. Latihan yang panjang dan berulang seringkali membuatnya kelelahan, tapi justru di situlah Aini merasakan proses pendewasaan dirinya.
Pengalaman Lomba
Pertama kali mengikuti Lomba MSQ, Aini langsung tampil bertanding di tingkat Provinsi saat masih duduk dibangku kelas 1 Mts. Ia merasakan tantangan yang berbeda. Tidak hanya harus berbicara, tetapi memahami dan menghiudpkan pesan dari ayat yang dibacakan. Penampilan perdananya belum sempurna, namun justru disitu titik baliknya. Ia berhasil meraih juara 3.
“Saya masih ingat betul pengalaman pertama ikut lomba MSQ. Saat itu saya kelas 1 Mts langsung bertanding di tingkat Provinsi, dalam rangka Milad Pondok Pesantren Qosrul Muhajirin di Tasikmalaya, dan saya meraih juara ke 3,” ujarnya.
Sering-seringnya mengikuti lomba, Aini mulai memahami ritme kompetisi. Ia belajar membaca suasana panggung, menagtur nafas, dan menyesuaikan emosi dengan tema syarhil. Kadang hasilnya memuaskan, kadang tidak sesuai dengan harapan.
“Beberapa bulan setelah itu, saya kembali ikut lomba di tingkat Kabupaten Bandung dan alhamdulillah berhasil meraih juara satu, “ tuturnya.
Saat akhirnya tampil di tingkat yang lebih tinggi, Aini membawa semua pengalaman itu bersamanya. Ia tidak lagi fokus pada sorot lampu atau dewan juri, melainkan pada pesan yang ingin disampaikan. Bagi Aini, pengalaman-pengalaman di panggung MSQ telah mengajarkannya arti proses dan kesabaran.
Tantangan Sebagai Atlet MSQ
Menjadi atlet Musabaqah Syarhil Qur’an bukan hanya soal tampil di atas panggung. Bagi Aini, tantangan justru dimulai jauh sebelum lomba berlangsung. Aktivitas Aini sebagai santri sekaligus atlet MSQ menuntut kedisiplinan tinggi. Di pesantren, ia harus membagi waktu antara belajar, mengaji, dan latihan syarhil yang menyita energi.
Dalam MSQ, tantangan tidak hanya datang dari diri sendiri, tetapi juga dari cara kerja tim. Kekompakan menjadi kunci, sementara perbedaan pendapat kerap muncul saat latihan. Proses menyatukan pandangan dan emosi membutuhkan kesabaran yang ekstra.
“Meskipun karakter suara dan gaya kami berbeda-beda, kami dituntut harus mempunyai chemistry yang kuat, power yang sama, intonasi yang tidak boleh jumping, intinya semuanya harus setara,” jelas Aini.
Tantangan berikutnya adalah menjaga konsistensi. Tema syarhil yang terus berubah menuntut pemahaman ayat dan konteks yang mendalam dalam waktu terbatas. Hal itu membuat Aini harus terus belajar dan beradaptasi.
Meski menghadapi banyak rintangan, Aini tetap bertahan di dunia MSQ. Baginya, setiap tantangan justru memperkuat niat dan kedewasaannya. Dari lelahnya latihan hingga tekanan saat lomba, semua menjadi pelajaran yang membawanya lebih mengenal diri sendiri. Ia percaya, selama niatnya tetap lurus, jalan ini layak diperjuangkan.
Harapan Masa Depan
Bagi Aini, perjalanan di dunia MSQ belum selesai. Meski telah mengikuti berbagai lomba, ia merasa masih memiliki banyak ruang untuk belajar dan berkembang. Ke depan, ia ingin memperdalam pemahaman materi syarhil agar pesan yang disampaikan semakin kuat dan relevan dengan kondisi masyarakat.
Selain berkompetisi, Aini memiliki harapan untuk berbagi ilmu. Ia ingin suatu hari bisa membimbing adik-adik di pesantren agar berani tampil dan percaya diri. Pengalaman jatuh-bangun di panggung MSQ ingin ia jadikan bekal untuk mendampingi generasi selanjutnya.
Di masa depan, Aini membayangkan MSQ akan semakin diminati oleh generasi muda. Ia berharap syarhil Qur’an dapat hadir dengan pendekatan yang lebih segar tanpa meninggalkan nilai dasarnya. Ia menyampaikan pesan untuk generasi muda yang mengikuti jejak dirinya agar tetap konsisten.
“Pesan saya untuk adik-adik yang sekarang lagi berproses di dunia MSQ itu sederhana saja: konsisten,” pungkas Aini.
Sumber Foto : Arsip Pribadi Narasumber
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer


































































