Kampus – Kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan Organisasi (LDKO) kampus kembali digelar tahun ini, namun proses pemberangkatannya menimbulkan sorotan dan keluhan dari sejumlah peserta. Sebanyak 33 peserta LDKO diberangkatkan menggunakan mobil tronton milik TNI, yang diisi tidak hanya oleh para peserta tetapi juga tumpukan barang bawaan berukuran besar. Kondisi itu menyebabkan peserta berdesakan hingga beberapa di antaranya mengalami sesak napas karena minimnya aliran udara.
Pemberangkatan berlangsung pada 14/11 Kampus Universitas Pamulang. Sejak pukul 13.00 siang , peserta sudah diarahkan untuk berkumpul dan mengangkut barang ke dalam tronton. Meski kendaraan tersebut memiliki kapasitas angkut besar, bagian dalamnya tidak didesain untuk mengangkut manusia dalam jumlah banyak. Akibatnya, peserta terpaksa berdiri rapat dan saling berhimpitan dengan barang.Seorang peserta yang ditemui sebelum keberangkatan menjelaskan bahwa mereka mulai merasakan ketidaknyamanan begitu pintu bak truk ditutup. “Udara nya berkurang, terus rasanya pengap. Kita juga harus bagi- bagi ruang sama tas-tas besar, jadi gerak juga susah,” ujarnya. Peserta lain menyebut bahwa beberapa temannya mulai menunjukkan tanda-tanda sesak napas dan kepanasan sebelum truk benar-benar bergerak meninggalkan kampus.
Selain masalah ruang yang sempit, barang bawaan peserta yang cukup banyak turut memperparah kondisi. Tas ransel, peralatan tidur, logistik pribadi, serta perlengkapan kegiatan menumpuk di berbagai sisi bak truk, menyisakan ruang yang sangat terbatas. Dengan kondisi bak yang tertutup terpal, sirkulasi udara pun semakin minim.
Kegiatan LDKO sendiri merupakan agenda tahunan organisasi mahasiswa yang bertujuan membekali peserta dengan berbagai keterampilan dasar kepemimpinan. Dalam kegiatan ini, peserta akan mengikuti pelatihan disiplin, pembentukan karakter, manajemen organisasi, kerja sama tim, hingga simulasi kepemimpinan di lingkungan outdoor. Selama kegiatan, peserta juga menjalani aktivitas fisik seperti outbond, survival lapangan, dan dinamika kelompok yang membutuhkan kesiapan fisik dan mental. Beberapa mahasiswa yang menyaksikan proses pemberangkatan juga menyayangkan penggunaan tronton sebagai sarana transportasi utama peserta. Mereka menilai kendaraan tersebut sebenarnya tidak layak dijadikan moda angkut untuk manusia dalam jumlah banyak, terutama untuk perjalanan yang cukup jauh. Mungkin dengan pesertanya di bagi dua untuk menaiki satu mobil lagi itu akan lebih baik di karenakan banyak barang bawaan besar yang harus di taro, sehingga membuat desak
Meski begitu, kegiatan LDKO tetap berlanjut sesuai jadwal yang telah disusun. Para peserta kini tengah mengikuti rangkaian materi dan aktivitas lapangan di lokasi pelatihan. Sementara itu, keluhan terkait pemberangkatan masih menjadi bahan pembicaraan di lingkungan kampus dan mendorong adanya harapan agar sistem keberangkatan pada tahun-tahun berikutnya dapat diperbaiki.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer



































































