Kediri (12/1). Dewan Pimpinan Daerah (DPD) LDII Kota Kediri menyelenggarakan Pengajian Akbar yang diikuti oleh ratusan warga di Pondok Pesantren Nurul Huda Al Manshurin, Sabtu (10/1). Forum ini menjadi sarana penting untuk menyinergikan pemahaman agama yang mendalam dengan penguatan wawasan kebangsaan dan hukum negara.
Ketua PC LDII Pesantren, Edy Riyanto, dalam arahannya menekankan bahwa kesalehan seorang individu harus tercermin dalam kepatuhannya terhadap aturan negara. Menurutnya, memiliki wawasan hukum bukan sekadar formalitas, melainkan kewajiban moral setiap warga negara untuk mewujudkan kehidupan yang berkeadilan.
“Pemahaman hukum berkaitan erat dengan penguatan nilai-nilai kebangsaan. Kesadaran terhadap aturan negara membentuk sikap warga yang tertib dan bertanggung jawab. Dengan berwawasan hukum, kita semakin memahami Pancasila dan UUD 1945 sebagai fondasi utama kehidupan berbangsa dan bernegara,” tegas Edy.
Ia menambahkan bahwa warga yang sadar hukum secara otomatis akan menjadi garda terdepan dalam menjaga keutuhan Bhinneka Tunggal Ika.
Pada sesi materi Al-Qur’an, Sekretaris DPD LDII Kota Kediri, Ust. Asyhari Eko Prayitno, mengulas Surah Al-A’raf ayat 163. Ayat tersebut mengisahkan tentang pelanggaran Bani Israil terhadap perintah Allah pada hari Sabtu, yang menjadi analogi penting mengenai ujian integritas seorang beriman.
“Ketaatan akan tampak nilainya justru ketika terasa berat dan godaan terasa menggiurkan. Jangan pernah meremehkan dosa-dosa kecil, karena di situlah celah awal terjadinya pelanggaran besar. Jika seseorang terbiasa mengabaikan aturan kecil, maka pelanggaran hukum Tuhan maupun hukum negara yang lebih besar akan menjadi mudah dilakukan,” urai Ust. Asyhari.
Ia mengingatkan jamaah untuk terus memupuk keimanan agar tetap kokoh saat dihadapkan pada situasi yang menguji prinsip ketaatan.
Menutup rangkaian kegiatan, Dewan Penasihat DPD LDII Kota Kediri, H. Agus Faisol, dalam tausiyahnya menyoroti dinamika iman di tengah kenyamanan duniawi. Ia membandingkan tantangan umat masa kini dengan masa kenabian.
“Ancaman fisik sering kali gagal melemahkan iman, namun godaan kesenangan duniawi justru menjadi musuh yang paling sulit dilawan. Pada masa Rasulullah, situasi perang justru mendekatkan umat kepada Allah. Namun saat ini, tantangan terbesar kita adalah hawa nafsu dan kenyamanan yang melenakan,” ungkap H. Agus.
Ia berpesan agar setiap warga LDII tidak tergelincir oleh dominasi hawa nafsu yang dapat merusak kualitas ibadah maupun ketaatan sebagai warga negara.
“Pengajian Akbar ini diharapkan dapat mencetak SDM profesional religius yang tidak hanya alim secara agama, tetapi juga disiplin dalam menjalankan kewajiban konstitusional demi kemajuan Kota Kediri,” pungkasnya.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer





























































