Makassar, Semangat Idul fitri tahun ini menjadi momentum penting untuk memperkokoh persatuan bangsa dan menyebarkan perdamaian global. Pesan mendalam ini disampaikan oleh M. Kafrawy Saenong, Direktur Lembaga Studi Kebijakan Publik (LSKP) sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Ash-Shalihin Gowa, dalam khutbah Idulfitri bertajuk “Idul Fitri dan Semangat Memperkokoh Persatuan dan Kesatuan” di Masjid Nurul Dzikir Makassar (21/03).
Dalam khutbahnya, alumni Program Literasi Keagamaan Lintas Budaya ini menekankan bahwa keragaman dan perbedaan pendapat adalah keniscayaan yang dikehendaki oleh Allah. Ia mengingatkan jamaah agar tidak terjebak dalam perselisihan yang memecah belah.
M. Kafrawy menguraikan beberapa poin kunci mengenai kesatuan yang berpusat pada nilai Tauhid sebagaimana disadur dari M. Quraish Shihab. Pertama, Kesatuan Kemanusiaan. Menghormati harkat manusia tanpa memandang status, karena setiap jiwa sangat berharga. Kedua, Kesatuan Bangsa. Menegaskan bahwa perbedaan agama, suku, dan pandangan politik tidak boleh memisahkan persaudaraan sebagai warga negara. Ketiga, Cinta Tanah Air. Menjelaskan bahwa hubbu al-wathan minal iman (cinta tanah air adalah bagian dari iman) merupakan manifestasi naluri manusia yang diciptakan dari tanah.
Merujuk pada kisah Nabi Adam dan Hawa di surga, ia menjelaskan bahwa pengalaman manusia di surga seharusnya menjadi inspirasi untuk menciptakan kedamaian di bumi. “Tujuannya agar kita berusaha mewujudkan bayang-bayang surga itu dalam kehidupan di bumi ini, yakni hidup sejahtera, terpenuhi kebutuhan pokok, dalam suasana damai, serta bebas dari rasa takut dan kesedihan,” tuturnya dalam khutbah tersebut.
M. Kafrawy juga memberikan peringatan keras mengenai peran “Iblis” modern dalam bentuk penyebaran fitnah dan hoaks yang bertujuan memecah belah persatuan. Kafrawy mengajak jamaah untuk menjaga “pakaian takwa” dan nilai-nilai luhur Pancasila sebagai identitas yang melindungi bangsa dari berbagai gangguan. Sebagai penutup, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk saling memaafkan dengan hati terbuka dan tangan terulur. Harapannya, bendera as-Salam (kedamaian) dapat terus berkibar, tidak hanya di tanah air tercinta, tetapi juga di seluruh penjuru dunia.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer








































































