Di antara sekian banyak nikmat yang Allah Swt berikan, kesehatan adalah nikmat yang paling sering terlupakan. Ia hadir setiap saat, tanpa kita minta, tanpa kita sadari. Kita bisa berjalan, bernafas dengan lega, berpikir jernih, dan beribadah dengan tenang semua karena sehat. Namun anehnya, justru karena ia selalu ada, manusia sering lalai untuk mensyukurinya.
Padahal, ketika sehat mulai berkurang, barulah terasa betapa mahalnya nikmat tersebut. Aktivitas yang dulu ringan menjadi berat, ibadah yang dulu mudah menjadi tertatih, bahkan hal sederhana seperti bangun dari tempat tidur bisa terasa sulit.
Allah SWT mengingatkan dalam firman-Nya:
وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللهِ لَا تُحْصُوهَا
Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya (QS. An-Nahl: 18)
Ayat ini menegaskan bahwa nikmat Allah begitu luas dan tak terhitung, termasuk nikmat sehat yang menjadi fondasi bagi seluruh aspek kehidupan manusia. Tanpa sehat, banyak nikmat lain tidak dapat dirasakan dengan sempurna.
Menurut M. Quraish Shihab, manusia memiliki kecenderungan untuk melupakan nikmat yang terus menerus hadir. Sesuatu yang selalu ada dianggap biasa, hingga akhirnya hilang dan baru disadari nilainya. Kesehatan termasuk dalam kategori nikmat yang “senyap”, tidak terasa keberadaannya, namun sangat menentukan kualitas hidup manusia.
Lebih dari sekadar kondisi fisik, sehat juga mencakup ketenangan jiwa dan kejernihan pikiran. Sehat adalah sarana untuk mendekat kepada Allah, menuntut ilmu, bekerja, serta memberi manfaat kepada sesama. Oleh karena itu, menjaga kesehatan sejatinya adalah bagian dari bentuk syukur kepada Allah.
Syukur atas nikmat sehat tidak cukup hanya dengan ucapan “Alhamdulillah”. Ia harus diwujudkan dalam tindakan nyata: menjaga pola hidup, menghindari hal-hal yang merusak tubuh, serta menggunakan waktu sehat untuk memperbanyak amal kebaikan. Sebab, setiap detik dalam kondisi sehat adalah kesempatan yang sangat berharga.
Allah berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُلُوْا مِنْ طَيِّبٰتِ مَا رَزَقْنٰكُمْ وَاشْكُرُوْا لِله اِنْ كُنْتُمْ اِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ
Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah dari rezeki yang baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah jika kamu benar-benar hanya menyembah kepada-Nya. (QS. Al-Baqarah: 172)
Ayat ini memberi isyarat bahwa menjaga asupan yang baik adalah bagian dari syukur. Apa yang kita konsumsi berpengaruh langsung terhadap kesehatan tubuh. Dengan memilih yang halal dan baik, sejatinya kita sedang menjaga amanah kesehatan yang Allah titipkan.
Selain itu, Allah juga mengingatkan:
وَاَنْفِقُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلَا تُلْقُوْا بِاَيْدِيْكُمْ اِلَى التَّهْلُكَةِۛ
Berinfaklah di jalan Allah, janganlah jerumuskan dirimu ke dalam kebinasaan. (QS. Al-Baqarah: 195)
Ayat ini mengandung larangan untuk melakukan hal-hal yang merusak diri, termasuk kebiasaan yang membahayakan kesehatan. Maka, menjaga tubuh dari penyakit dan kerusakan adalah bagian dari ketaatan kepada Allah, bukan sekadar urusan duniawi.
Pada Akhirnya sehat bukan sekadar nikmat yang dinikmati, tetapi amanah yang harus dijaga dan dipertanggungjawabkan. Setiap tarikan nafas, setiap langkah kaki, dan setiap kesempatan beribadah adalah karunia yang tak ternilai.
Jangan menunggu sakit untuk bersyukur, dan jangan menunggu kehilangan untuk menyadari. Karena boleh jadi, sehat yang kita miliki hari ini adalah kesempatan terakhir untuk memperbanyak amal. Maka, gunakanlah ia sebaik-baiknya sebelum ia benar-benar pergi dan tak kembali. (H.A)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer






























































