MALANG – Pengurus Rayon PMII “Kawah” Chondrodimuko sukses menggelar agenda Bedah Buku dan Diskusi yang mengangkat novel fenomenal karya Leila S. Chudori, Laut Bercerita, pada Sabtu, 9 Mei 2026. Bertempat di Allure Cafe & eatery, diskusi ini menghadirkan akademisi Arif Subekti, S.Pd., M.A. sebagai pemantik diskusi.
Kehadiran Arif Subekti membawa dimensi baru dalam membedah karya tersebut. Diskusi tidak hanya berhenti pada narasi fiksi, tetapi juga ditarik ke dalam analisis kritis mengenai sejarah pergerakan. Acara yang dimulai pukul 17.00 WIB ini dihadiri oleh kader-kader dengan antusiasme tinggi, mencapai 75% dari kuota maksimal yang disediakan.
Dialektika Sastra dan Realitas Orde Baru
Dalam paparannya, Arif Subekti bersama para peserta menyoroti bagaimana Laut Bercerita berperan sebagai medium memorialisasi sejarah. Diskusi menekankan bahwa meskipun novel ini masuk dalam kategori sastra, ia merupakan representasi akurat dari tindakan represif pemerintah era Orde Baru terhadap gerakan mahasiswa kala itu.

Salah satu poin krusial yang dibahas adalah mengenai kelompok “Winatra” dan “Wirasena”. Kelompok ini dinilai sebagai gambaran koheren mengenai dinamika senioritas dan pengorganisiran massa yang nyata terjadi di lapangan. Selain itu, para peserta membedah keterkaitan tokoh-tokoh dalam novel dengan sosok nyata, seperti kemiripan tokoh penyair dengan aktivis Wiji Thukul.
Relevansi Perjuangan Mahasiswa Saat Ini
Kutipan ikonik “Matilah engkau mati, kau akan lahir berkali-kali” menjadi pusat refleksi bagi para kader. Kutipan ini dimaknai sebagai pengingat bahwa ideologi dan perjuangan tidak bisa dihilangkan hanya dengan tindakan represif. Forum ini juga menegaskan pesan moral bagi mahasiswa: menjaga idealisme adalah keharusan, sembari tetap bertanggung jawab menyelesaikan masa studi.
“Diskusi ini membuahkan perspektif baru dalam menyingkap pelanggaran HAM masa lalu, seperti penghilangan paksa dan tindakan represif, yang ingatannya tetap relevan untuk dihadirkan kembali di tengah situasi pemerintahan saat ini,” ungkap salah satu poin dokumentasi forum.
Agenda Mendatang
Kegiatan berakhir dengan efektif pada pukul 19.46 WIB. Sebagai tindak lanjut dari geliat literasi ini, para peserta mengusulkan novel Gadis Kretek karya Ratih Kumala untuk dibedah pada pertemuan berikutnya. Fokus yang diusulkan adalah mengenai tokoh Dasiyah sebagai representasi perempuan visioner yang harus berhadapan dengan dominasi patriarki dalam dunia bisnis.
Dengan berakhirnya acara ini, PR. PMII “Kawah” Chondrodimuko kembali menegaskan komitmennya dalam menghidupkan tradisi intelektual mahasiswa melalui slogan “Dzikir, Fikir, Amal Sholeh”.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer

































































