Pendidikan tidak hanya berperan dalam meningkatkan kemampuan akademik peserta didik, tetapi juga menjadi sarana dalam melestarikan budaya dan nilai-nilai kearifan lokal. Salah satu bentuk pelestarian budaya yang diterapkan di SMA Negeri 15 Takengon adalah melalui program Penerapan Sugali (Sumang Gayo Literasi) serta Korelasinya dengan Kurikulum Merdeka di SMA Negeri 15 Takengon.
Pendidikan tidak hanya berperan dalam meningkatkan kemampuan akademik peserta didik, tetapi juga menjadi sarana dalam melestarikan budaya dan nilai-nilai kearifan lokal. Salah satu bentuk pelestarian budaya yang diterapkan di SMA Negeri 15 Takengon adalah melalui program Sugali (Sumang Gayo Literasi). Program ini merupakan perpaduan antara nilai adat Gayo dengan kegiatan literasi yang mendukung pembentukan karakter peserta didik sesuai dengan tujuan Kurikulum Merdeka.
Sumang merupakan aturan adat yang berlaku dalam masyarakat Gayo. Sumang berfungsi sebagai pedoman tingkah laku agar masyarakat tetap menjaga sopan santun, etika, dan tata krama dalam kehidupan sehari-hari. Dalam budaya Gayo terdapat beberapa bentuk sumang, seperti sumang penengonen, sumang pelangkahan, sumang peceraken, dan sumang pengunulen yang mengatur perilaku manusia dalam berbicara, bergaul, maupun bertindak. Nilai-nilai tersebut diwariskan turun-temurun sebagai bentuk penjagaan moral masyarakat Gayo.
Sementara itu, literasi merupakan kemampuan seseorang untuk membaca, menulis, mengolah, memahami, dan menggunakan informasi secara efektif. Literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca buku, tetapi juga kemampuan memahami nilai, budaya, serta informasi yang berkembang di lingkungan sekitar. Melalui literasi, peserta didik dapat mengenal dan memahami kembali nilai-nilai sumang sehingga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Penerapan Sugali di SMA Negeri 15 Takengon dilakukan melalui berbagai kegiatan literasi berbasis budaya lokal. Peserta didik diarahkan untuk membaca cerita rakyat Gayo, memahami adat-istiadat daerah, menulis kembali nilai-nilai sumang, serta mendiskusikan penerapannya dalam kehidupan modern. Guru juga memberikan pemahaman mengenai pentingnya menjaga etika berbicara, sopan santun terhadap guru dan teman, serta menjaga perilaku sesuai norma adat Gayo.
Penerapan Sugali (Sumang Gayo Literasi) di SMA Negeri 15 Takengon dilakukan melalui kegiatan literasi budaya yang sederhana namun memiliki makna yang besar bagi peserta didik. Salah satu bentuk penerapannya adalah dengan membuat poster mengenai sumang adat Gayo, seperti sumang penengonen, sumang peceraken, sumang pelangkahan, dan sumang pengunulen. Poster-poster tersebut berisi pesan moral, ajakan menjaga sopan santun, serta pentingnya menerapkan adat dan etika dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini melibatkan siswa secara langsung dalam proses membaca, menulis, memahami, dan menyampaikan kembali nilai-nilai budaya Gayo melalui media kreatif.
Poster yang telah dibuat kemudian dipasang di kelas-kelas dan balai-balai sekolah agar dapat dilihat oleh seluruh warga sekolah. Pemasangan poster ini bertujuan untuk mengingatkan peserta didik agar selalu menjaga perilaku sesuai dengan nilai sumang adat Gayo. Selain menjadi media literasi budaya, poster tersebut juga menjadi sarana pembentukan karakter yang sejalan dengan Kurikulum Merdeka, khususnya dalam menanamkan nilai disiplin, tanggung jawab, dan akhlak mulia kepada siswa.
Korelasi antara Sugali dengan Kurikulum Merdeka terlihat dari tujuan keduanya yang sama-sama menekankan pembentukan karakter peserta didik. Kurikulum Merdeka memberikan ruang kepada sekolah untuk mengembangkan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan kondisi lingkungan sekitar, termasuk mengangkat budaya lokal sebagai bagian dari proses pendidikan. Dalam hal ini, Sugali menjadi sarana yang mendukung penguatan karakter melalui pembelajaran berbasis budaya dan literasi.
Selain itu, penerapan Sugali juga memiliki hubungan erat dengan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Nilai-nilai sumang yang mengajarkan sopan santun, rasa hormat, tanggung jawab, dan etika sosial sejalan dengan karakter pelajar Pancasila seperti berakhlak mulia, bergotong royong, dan bernalar kritis. Peserta didik tidak hanya belajar memahami budaya daerah, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
Program Sugali juga mendukung pembelajaran Pendidikan Agama Islam karena nilai-nilai yang terkandung dalam sumang memiliki keterkaitan dengan ajaran Islam tentang adab dan akhlak. Dengan demikian, peserta didik dapat memahami bahwa budaya lokal dan pendidikan modern dapat berjalan beriringan dalam membentuk generasi yang berkarakter.
Melalui penerapan Sugali, SMA Negeri 15 Takengon menunjukkan bahwa Kurikulum Merdeka dapat menjadi wadah untuk melestarikan budaya lokal sekaligus meningkatkan kemampuan literasi peserta didik. Program ini diharapkan mampu membentuk generasi muda Gayo yang cerdas, berbudaya, dan tetap menjaga nilai-nilai adat di tengah perkembangan zaman.kegiatan literasi yang mendukung pembentukan karakter peserta didik sesuai dengan tujuan Kurikulum Merdeka.
Sumang merupakan aturan adat yang berlaku dalam masyarakat Gayo. Sumang berfungsi sebagai pedoman tingkah laku agar masyarakat tetap menjaga sopan santun, etika, dan tata krama dalam kehidupan sehari-hari. Dalam budaya Gayo terdapat beberapa bentuk sumang, seperti sumang penengonen, sumang pelangkahan, sumang peceraken, dan sumang pengunulen yang mengatur perilaku manusia dalam berbicara, bergaul, maupun bertindak. Nilai-nilai tersebut diwariskan turun-temurun sebagai bentuk penjagaan moral masyarakat Gayo.
Sementara itu, literasi merupakan kemampuan seseorang untuk membaca, menulis, mengolah, memahami, dan menggunakan informasi secara efektif. Literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca buku, tetapi juga kemampuan memahami nilai, budaya, serta informasi yang berkembang di lingkungan sekitar. Melalui literasi, peserta didik dapat mengenal dan memahami kembali nilai-nilai sumang sehingga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Penerapan Sugali di SMA Negeri 15 Takengon dilakukan melalui berbagai kegiatan literasi berbasis budaya lokal. Peserta didik diarahkan untuk membaca cerita rakyat Gayo, memahami adat-istiadat daerah, menulis kembali nilai-nilai sumang, serta mendiskusikan penerapannya dalam kehidupan modern. Guru juga memberikan pemahaman mengenai pentingnya menjaga etika berbicara, sopan santun terhadap guru dan teman, serta menjaga perilaku sesuai norma adat Gayo.
Korelasi antara Sugali dengan Kurikulum Merdeka terlihat dari tujuan keduanya yang sama-sama menekankan pembentukan karakter peserta didik. Kurikulum Merdeka memberikan ruang kepada sekolah untuk mengembangkan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan kondisi lingkungan sekitar, termasuk mengangkat budaya lokal sebagai bagian dari proses pendidikan. Dalam hal ini, Sugali menjadi sarana yang mendukung penguatan karakter melalui pembelajaran berbasis budaya dan literasi.
Selain itu, penerapan Sugali juga memiliki hubungan erat dengan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Nilai-nilai sumang yang mengajarkan sopan santun, rasa hormat, tanggung jawab, dan etika sosial sejalan dengan karakter pelajar Pancasila seperti berakhlak mulia, bergotong royong, dan bernalar kritis. Peserta didik tidak hanya belajar memahami budaya daerah, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
Program Sugali juga mendukung pembelajaran Pendidikan Agama Islam karena nilai-nilai yang terkandung dalam sumang memiliki keterkaitan dengan ajaran Islam tentang adab dan akhlak. Dengan demikian, peserta didik dapat memahami bahwa budaya lokal dan pendidikan modern dapat berjalan beriringan dalam membentuk generasi yang berkarakter.
Melalui penerapan Sugali, SMA Negeri 15 Takengon menunjukkan bahwa Kurikulum Merdeka dapat menjadi wadah untuk melestarikan budaya lokal sekaligus meningkatkan kemampuan literasi peserta didik. Program ini diharapkan mampu membentuk generasi muda Gayo yang cerdas, berbudaya, dan tetap menjaga nilai-nilai adat di tengah perkembangan zaman.
Penulis: Tari Wulan Fitri
Mahasiswa Pendidikan Agama Islam
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer

































































