Begadang sudah seperti bagian dari gaya hidup Generasi Z atau Gen Z. Scroll Tiktok sampai tengah malam, chatting non-stop, overthinking sebelum tidur lalu bangun dengan keadaan badan lelah walaupun tidak banyak aktivitas yang dilakukan. Banyak orang tidur larut malam karena tugas kuliah, pekerjaan, tuntutan sosial media, atau mereka merasa bahkan malam itu satu-satunya waktu untuk menenangkan diri.
Banyak Gen Z merasa mudah cemas, emosional, susah fokus sampai kehilangan semangat beraktivitas sehari-hari karena kualitas tidur yang buruk. Padahal menurut National Sleep Foundation, orang dewasa muda idealnya membutuhkan tidur sekitar 7-9 jam per malam agar tubuh dan pikiran bisa pulih lebih baik. Sayangnya, kebiasaan ini sering dianggap sepele padahal dampaknya besar untuk kesehatan mental. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kualitas tidur memiliki hubungan erat dengan kondisi kesehatan mental seseorang. Semakin buruk pola tidur maka semakin besar pula munculnya stres berlebihan, kecemasan hingga kelelahan emosional.
Kenapa tidur bisa jadi obat stres?
Menurut Lazarus dan Folkman, ada dua cara yang biasanya dilakukan orang ketika menghadapi stres. Pertama adalah Problem Focused Coping, yaitu langsung menghadapi dan mencari solusi dari sumber masalahnya. Dan yang kedua adalah Emotion Focused Coping, yaitu mengelola reaksi emosional yang muncul karena tekanan yang di alami agar kondisi mental tetap stabil. Tidur yang cukup termasuk dalam kategori kedua, karena saat tidur otak kita tidak benar-benar berhenti bekerja justru otak sedang memproses emosi yang menumpuk sepanjang hari, memperkuat daya ingat dan memulihkan keseimbangan sistem saraf. Artinya, tidur itu bukan bentuk dari pelarian masalah, tapi ini cara tubuh dan pikiran mempersiapkan diri untuk menghadapi hari esok.
Hubungannya dengan kebiasaan sehari-hari
Kurang tidur itu bukan tentang mengantuk saja. Saat tidur terganggu, otak tidak punya kesempatan untuk memproses emosi dan pulih dari tekanan, akibatnya besoknya jadi mudah cemas, mudah emosi dan susah fokus dengan aktivitas. Oleh karena itu, tidur yang cukup adalah bentuk Emotion Focused Coping yang paling sederhana dan paling mudah dilakukan, ini adalah cara tubuh dan pikiran memulihkan diri agar bisa menghadapi tekanan di keesokan harinya.
Bagaimana caranya tidur yang benar-benar efektif?
Tidur yang efektif sebenarnya tidak memerlukan cara yang rumit, untuk langkah awal bisa dimulai dari :
1. Konsisten dengan jam tidur. Tidur dan bangun di jam yang sama setiap hari nya termasuk akhir pekan.
2. Hindari penggunaan ponsel 30 menit sebelum tidur. Cahaya layar ponsel atau alat elektronik lainnya akan menghambat tubuh untuk mulai mengantuk.
3. Tulis apa yang ada dipikiran. Kalau sering overthinking sebelum tidur, coba luangkan waktu beberapa menit untuk menulis untuk sekedar memindahkan beban dari kepala ke atas kertas.
4. Pastikan kamar nyaman untuk tidur. Kondisi ruangan yang gelap, sejuk dan minim gangguan sangat memengaruhi kualitas tidur.
Kalau kamu sering merasa cemas berlebihan, mudah emosi atau susah fokus dengan aktivitas yang dilakukan, ini bukan masalah yang memerlukan solusi besar. Sebelum mencari jawaban yang rumit, coba tanyakan dulu ke diri sendiri: sudah berapa jam kamu tidur semalam? Tidur yang cukup adalah salah satu strategi paling sederhana untuk menjaga kesehatan mental tapi malah sering diremehkan. Kadang yang tubuh dan pikiran perlukan itu bukan hal yang besar, tapi yang diperlukan hanya istirahat yang benar benar cukup.
Referensi
Hirshkowitz, M., Whiton, K., Albert, S. M., Alessi, C., Bruni, O., DonCarlos, L., Hazen, N., Herman, J., Katz, E. S., Kheirandish-Gozal, L., Neubauer, D. N., O’Donnell, A. E., Ohayon, M., Peever, J., Rawding, R., Sachdeva, R. C., Setters, B., Vitiello, M. V., Ware, J. C., & Adams Hillard, P. J. (2015). National Sleep Foundation’s sleep time duration recommendations: Methodology and results summary. Sleep Health.
Jeri, M., Swardiman., & Ngasu, K. E. (2025). Hubungan kualitas tidur dengan kesehatan mental pada mahasiswa Gen Z di Universitas Yatsi Madani. Jurnal Dunia Ilmu Kesehatan (JURDIKES).
Lazarus, R. S., & Folkman, S. (1984). Stress, appraisal, and coping. Springer.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer


































































