Suara tabuhan rapa’i dan alunan serune kalee memecah keheningan, mengiringi langkah
perlahan sekelompok gadis muda yang berbalut busana adatAceh bernuansa cerah. Senyum
mengembang dari bibir mereka, berpadu dengantatapan mata yang teduh namun penuh
wibawa. Di tangan mereka, bertenggeranggun sebuah puan wadah kuningan tradisional yang
dihiasi ukiran khas. Mereka tidak sekadar menari. Lewat gemulai jemari dan ayunan langkah
yang tertata rapi, mereka sedang bercerita, menyambut tamu yang datang dengan pintuhati
yang terbuka lebar.
Inilah Tari Ranup Lampuan, sebuah mahakarya budaya peninggalan indatu (leluhur) yang
masih berdetak kencang di nadi masyarakat Aceh hingga hari ini.
Bagi masyarakat di ujung barat Nusantara, memuliakan tamu adalahsebuah kewajiban
yang tak tertulis, namun terpatri kuat dalam sanubari. Nilai filosofis inilah yang diterjemahkan
secara visual ke dalam Tari Ranup Lampuan. “Tari ini dimulai dengan penari yang membawa
puan atau wadah sirih,” ungkapNur Azizah, seorang perempuan berusia 22 tahun asal Lhok
mon puteh, Cunda, Kota Lhokseumawe.
Bekerja sehari-hari di tengah ritme kehidupan modern tidak membuatAzizah melupakan
akar budayanya. Ia menuturkan bahwa setiap gerakan dalamtarian ini bukanlah tanpa alasan
yang berdasar. “Gerakan tarinya menggambarkanproses mempersiapkan sirih, mulai dari
memetik, membersihkan, meramu, hinggamenyuguhkannya kepada tamu sebagai bentuk
penghormatan,” jelasnya denganantusias.
Memetik daun sirih melambangkan kehati-hatian, membersihkanbermakna kesucian niat,
meramu pinang dan kapur melambangkan keberagamanyang menyatu, dan menyuguhkan
adalah puncak dari keikhlasan masyarakatdalam menerima kehadiran orang lain.
Di Aceh, tarian ini seolah menjadi “kata ganti” dari ucapan selamat datang. Kehadirannya
hampir mutlak diperlukan dalam berbagai hajatan penting. Mulaidari acara penyambutan tamu
kehormatan dari luar daerah, pesta pernikahan yang sakral, acara-acara resmi pemerintahan,
hingga festival budaya yang dihadiribanyak orang. “Maknanya adalah sebagai bentuk
penghormatan kepada tamu dan simbol keramahan masyarakat Aceh,” tambah Azizah. Di balik
gemulai gerakanpenari, ada pesan tegas bahwa masyarakat setempat sangat memuliakan siapa
pun yang bertandang dengan niat baik.
Namun, tantangan terbesar dari setiap tradisi peninggalan masa lalu adalahbagaimana ia
mampu bertahan menghadapi gelombang modernisasi. Di era di mana segalanya serba instan,
apakah Tari Ranup Lampuan masih menemukanpanggung pementasannya?
Menariknya, tradisi ini membuktikan kemampuannya untuk beradaptasitanpa harus
kehilangan roh utamanya. Masyarakat Aceh menyadari bahwa agar budaya tidak mati, ia harus
mau berdialog dengan zaman. Azizah membenarkanadanya pergeseran-pergeseran adaptif
dalam pelaksanaannya di masa kini. “Ada beberapa perubahan, seperti penggunaan panggung,
kostum yang lebih modern, dan penyesuaian durasi,” tuturnya.
Di masa lalu, tarian ini mungkin dibawakan dengan durasi yang lebihpanjang dalam
suasana yang sangat konvensional. Kini, tata panggung yang megah dan modifikasi busana
yang lebih gemerlap turut mewarnai pertunjukandemi menyesuaikan diri dengan estetika
pertunjukan modern. Durasi pun kerapdipadatkan agar selaras dengan susunan acara masa kini.
“Namun, maknautamanya tetap sama,” tegas Azizah. Cangkangnya boleh bersolek
mengikutizaman, tetapi intisari untuk menghargai tamu tak pernah luntur sehelai pun.
Kekhawatiran bahwa budaya lokal akan terkikis nyatanya bisa diredam. Tongkat estafet
pewarisan budaya itu masih berjalan cukup mulus di kalangangenerasi penerus. Ketika ditanya
mengenai antusiasme anak muda terhadap tradisiini, Azizah memberikan jawaban yang
melegakan. “Minatnya masih cukup baik, terutama karena adanya sanggar seni dan
pembelajaran di sekolah,” paparnya.
Kehadiran ekstrakurikuler kesenian di sekolah-sekolah dan menjamurnyasanggar tari di
berbagai sudut daerah menjadi benteng pertahanan yang kokoh. Kendati demikian, Azizah tak
menampik bahwa euforia pelestarian ini tidak bolehmengendur. “Namun, tetap perlu dukungan
agar tidak hilang,” pesannyamengingatkan. Bagi warga Blang Pohroh ini, melestarikan Tari
Ranup Lampuanberarti menjaga identitas kebudayaan itu sendiri, karena tradisi ini
mengajarkannilai sopan santun serta etika berharga dalam menghormati orang lain.
Perputaran waktu mungkin akan terus melahirkan tren kehidupan baru. Akan tetapi,
selama puan masih dipegang erat oleh tangan-tangan muda yang peduli, tradisi ini tak akan
sekadar menjadi pajangan bisu di museum sejarah. Di akhir perbincangan, Azizah menitipkan
sebuah asa yang mendalam. “Saya berharap generasi muda terus mempelajari dan
melestarikannya agar budaya Aceh tetap hidup dan dikenal luas,” ungkapnya penuh harap.
Lebih jauh, ia menyelipkan doa agar masyarakat, khususnya di desanya, semakin
menanamkan rasa bangga yang mendalam terhadap budayanya sendiri.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer






























































