BANDUNG – Laporan keuangan seharusnya menjadi cerminan kondisi perusahaan yang sebenarnya yang dibutuhkan oleh investor yang membacanya untuk mengambil keputusan, publik menggunakannya untuk menilai kesehatan bisnis dan regulator menjadikannya dasar pengawasan.Namun bagaimana jika angka-angka itu ternyata tidak sepenuhnya mencerminkan kenyataan?
Indonesia beberapa kali diguncang dugaan manipulasi laporan keuangan yang melibatkan perusahaan besar. Mulai dari BUMN hingga startup berstatus unicorn. Nilainya bahkan tidak kecil,kerugiannya mencapai triliunan rupiah dan juga dampaknya pun meluas dari runtuhnya kepercayaan investor hingga terganggunya reputasi industri secara keseluruhan.
Kasus-kasus ini menunjukkan satu hal penting: laporan keuangan tidak selalu berbicara jujur.

Kasus terbaru datang dari eFishery, startup teknologi akuakultur asal Bandung yang sebelumnya dipandang sebagai salah satu kebanggaan ekosistem startup Indonesia. Pada 2023, eFishery memperoleh pendanaan Seri D sebesar US$200 juta dari investor global seperti SoftBank dan Temasek. Valuasinya mencapai US$1,4 miliar dan menempatkannya dalam jajaran unicorn Indonesia. Namun dibalik pertumbuhan tersebut, muncul dugaan serius terkait laporan keuangan perusahaan. Laporan investigasi FTI Consulting yang ditinjau Bloomberg News pada awal 2025 menyebut bahwa selama Januari hingga September 2024, eFishery melaporkan keuntungan sebesar US$16 juta kepada investor. Padahal, berdasarkan hasil investigasi, perusahaan justru diduga mengalami kerugian sebesar US$35,4 juta. Tidak hanya itu, lebih dari 75% angka pendapatan yang dilaporkan disebut tidak akurat. Selisih pendapatan yang dilaporkan bahkan mencapai hampir US$600 juta atau sekitar Rp9,8 triliun. Dugaan praktik ini disebut telah berlangsung sejak 2018. Perusahaan juga diduga memiliki dua versi laporan keuangan: satu untuk pihak eksternal dan satu untuk penggunaan internal. Kasus ini kini telah memasuki babak akhir dan divonis bersalah. Pengadilan Negeri Bandung menjatuhkan hukuman 9 tahun penjara dan denda Rp1 miliar pada 29 April 2026. Dampaknya tidak berhenti pada satu perusahaan saja. Kepercayaan investor terhadap ekosistem startup Indonesia ikut terguncang. Data DailySocial menunjukkan pendanaan startup Indonesia turun drastis dari US$6,89 miliar pada 2021 menjadi hanya US$355 juta pada 2025.
Sebelum eFishery, publik juga pernah dikejutkan oleh kasus laporan keuangan PT Garuda Indonesia. Dalam laporan keuangan tahun buku 2018, Garuda melaporkan laba bersih sekitar
US$5 juta. Publik menyambutnya sebagai kabar baik setelah perusahaan bertahun-tahun mencatat kerugian. Namun dua komisaris perusahaan menolak menandatangani laporan tersebut karena menemukan kejanggalan. Setelah dilakukan pemeriksaan oleh OJK, laporan keuangan Garuda akhirnya disajikan ulang. Hasilnya berbeda jauh. Perusahaan ternyata mencatat kerugian sebesar US$175 juta atau sekitar Rp2,53 triliun. Permasalahan utamanya berasal dari pencatatan kontrak layanan konektivitas wi-fi dengan Mahata Aero Teknologi yang diakui sebagai pendapatan, meskipun pembayaran sebenarnya belum terealisasi.Kasus ini kemudian menjadi salah satu preseden penting dalam pengawasan pasar modal Indonesia.
Dari berbagai kasus yang ada, terlihat pola yang hampir sama. Pertama, tekanan untuk selalu terlihat bertumbuh. Perusahaan menghadapi ekspektasi tinggi dari investor, publik, maupun pemerintah. Ketika realitas bisnis tidak sesuai harapan, manipulasi angka sering dianggap sebagai jalan pintas. Kedua, lemahnya pengawasan independen. Jumlah auditor yang terbatas membuat pengawasan tidak selalu berjalan optimal, terutama terhadap perusahaan dengan struktur transaksi yang kompleks. Ketiga, penggunaan skema transaksi yang rumit. Perusahaan dapat menggunakan entitas tambahan atau transaksi antarperusahaan untuk menyamarkan kondisi sebenarnya. Keempat, minimnya perlindungan terhadap whistleblower. Banyak pihak internal memilih diam karena takut kehilangan pekerjaan atau menghadapi tekanan tertentu.
Apa yang Harus Berubah?
Kasus-kasus ini menunjukkan bahwa fraud laporan keuangan bukan hanya persoalan individu, tetapi juga kelemahan sistem pengawasan. Regulator perlu memperkuat standar audit dan transparansi, termasuk untuk startup dengan pendanaan besar. Teknologi deteksi anomali berbasis data juga mulai menjadi kebutuhan, bukan lagi pilihan. Di sisi lain, perusahaan perlu membangun budaya keterbukaan. Dalam jangka panjang, perusahaan yang jujur terhadap kondisi bisnisnya justru lebih bernilai dibanding perusahaan yang terlihat sempurna di atas kertas. Bagi investor, kasus-kasus ini menjadi pengingat bahwa laporan keuangan tetap harus dianalisis secara kritis. Angka yang terlihat terlalu sempurna justru perlu dipertanyakan lebih dalam.

Laporan keuangan pada dasarnya adalah kontrak kepercayaan. Ketika laporan itu dimanipulasi, kerusakan yang muncul bukan hanya soal kerugian finansial. Yang ikut runtuh adalah kepercayaan publik, reputasi industri, dan keyakinan investor. Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar regulasi yang ketat. Indonesia membutuhkan budaya kejujuran finansial yang benar-benar dijalankan, mulai dari ruang direksi hingga meja auditor.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer































































