Hujan turun dengan deras malam itu. Air mengalir di kaca jendela kamar Adzra, membentuk garis-garis kecil yang berkejaran menuju bawah. Sesekali suara petir terdengar, membuat suasana rumah terasa semakin sunyi.
Adzra duduk di depan meja belajarnya. Buku-buku pelajaran terbuka, tetapi sejak tadi tidak ada satu pun yang benar-benar ia baca.
Pikirannya tertuju pada sebuah foto yang baru saja ia temukan.
Foto dirinya bersama Reza.
Mereka berdiri di depan sekolah sambil tersenyum lebar. Reza bahkan mengangkat dua jari membentuk tanda kemenangan, sementara Adzra tertawa melihat tingkahnya.
Adzra menyentuh foto itu perlahan.
“Sudah tiga tahun…” bisiknya.
Ia masih mengingat semuanya.
Dulu, Reza adalah sahabat terdekatnya. Mereka hampir selalu bersama. Jika ada tugas kelompok, mereka menjadi pasangan pertama yang terbentuk. Jika salah satu mendapat masalah, yang lain selalu menjadi orang pertama yang datang.
Namun, semuanya berubah karena sebuah kejadian sederhana yang meninggalkan luka besar.
Uang kas kelas hilang.
Saat itu, Reza menjadi orang yang paling dicurigai.
Alasannya sederhana. Reza adalah salah satu siswa terakhir yang berada di kelas.
Adzra masih ingat bagaimana teman-temannya mulai berbisik.
“Kayaknya Reza yang ambil.”
“Iya, tadi cuma dia yang masih di kelas.”
“Coba lihat tasnya.”
Adzra sebenarnya tidak percaya.
Tetapi ketika guru bertanya kepadanya, ia tidak mengatakan apa-apa.
Ia diam.
Dan diamnya itulah yang membuat Reza merasa dikhianati.
Uang tersebut akhirnya ditemukan di dalam tas seorang siswa lain. Reza tidak bersalah.
Namun, hubungan mereka sudah terlanjur rusak.
Adzra mengembuskan napas panjang.
“Seandainya waktu itu aku berani bicara…”
Ia menunduk.
“Seandainya aku bisa mengulang semuanya.”
Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh.
Bruk!
Adzra terkejut dan menoleh ke arah lemari.
Sebuah kotak kayu kecil terjatuh dari rak paling atas.
“Apa ini?”
Ia mengambil kotak tersebut.
Kotak itu terlihat tua dan berdebu. Adzra membukanya perlahan.
Di dalamnya terdapat sebuah jam tangan berwarna keemasan.
Jarumnya berhenti pada pukul sebelas lewat lima menit.
Adzra mengangkat jam tersebut.
Di bagian belakangnya terdapat tulisan yang hampir tidak terlihat.
“Untuk mereka yang masih memiliki satu penyesalan.”
Adzra membaca tulisan itu berulang kali.
“Apa maksudnya?”
Ia membalik jam tersebut.
Di sampingnya terdapat sebuah tombol kecil.
Adzra menekan tombol itu.
Tiba-tiba jarum jam bergerak.
Tik… Tik… Tik…
Kemudian bergerak semakin cepat.
Adzra panik.
“Eh? Kenapa ini?”
Cahaya putih tiba-tiba memenuhi kamar.
Adzra menutup matanya.
“Adzra! Bangun!”
Adzra membuka mata.
Suara seorang teman terdengar dari sampingnya.
“Kamu tidur lagi?”
Adzra terkejut.
Ia melihat sekeliling.
Meja sekolah.
Kursi-kursi.
Papan tulis.
Teman-temannya.
Semuanya terasa sangat familiar.
Ia melihat tangannya.
Tangannya terlihat lebih kecil.
Seragam yang dikenakannya adalah seragam SMP yang sudah lama tidak ia gunakan.
“Ini…”
Adzra berdiri dengan tergesa-gesa.
Ia melihat kalender yang tergantung di dinding.
Tanggal yang tertera membuat tubuhnya membeku.
Hari itu adalah hari ketika uang kelas hilang.
Hari yang selama ini paling ia sesali.
“Tidak mungkin…” ucapnya pelan.
Adzra menatap jam tua yang masih berada di tangannya.
“Jadi aku benar-benar kembali?”
Belum sempat ia berpikir lebih jauh, seseorang menyentuh bahunya.
“Adzra?”
Ia menoleh.
Reza berdiri di belakangnya.
Wajah yang sudah tiga tahun tidak benar-benar ia lihat dari dekat kini berada tepat di hadapannya.
“Kenapa kamu bengong?” tanya Reza.
Adzra tidak menjawab.
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Reza…”
“Iya?”
Adzra hampir saja memeluknya, tetapi ia menahan diri.
“Tidak apa-apa.”
Reza mengerutkan dahi.
“Kamu aneh.”
Adzra tertawa kecil.
“Mungkin aku memang aneh.”
Reza ikut tertawa.
“Sudah, duduk. Sebentar lagi Bu Rina masuk.”
Adzra duduk, tetapi pikirannya terus berputar.
Ia tahu apa yang akan terjadi.
Dan kali ini, ia tidak akan membiarkannya terjadi dengan cara yang sama.
Saat jam istirahat, kelas mendadak ramai.
Seorang teman berteriak.
“Uang kas hilang!”
Semua siswa langsung berhenti berbicara.
“Apa?”
“Serius?”
“Berapa?”
“Lima ratus ribu!”
Guru yang sedang berada di ruang sebelah segera datang.
“Ada apa?”
Ketua kelas menjelaskan bahwa uang kas yang disimpan di laci meja guru telah hilang.
Bu Rina melihat seluruh siswa.
“Siapa saja yang tadi berada di kelas?”
Beberapa siswa saling berpandangan.
Kemudian seseorang berkata,
“Tadi Reza masih di kelas, Bu.”
Suasana langsung berubah.
Reza yang sedang berdiri di dekat jendela menoleh.
“Hah? Kenapa aku?”
Seorang siswa lain menyahut.
“Tadi kamu memang sendirian di sini, kan?”
“Iya, tapi aku cuma mengambil buku.”
“Terus uangnya hilang.”
Reza mulai terlihat kesal.
“Jadi kalian pikir aku yang mengambil?”
Tidak ada yang menjawab.
Adzra merasakan dadanya sesak.
Inilah saat yang sama.
Dulu ia hanya diam.
Tetapi sekarang ia tahu apa akibatnya.
Bu Rina menatap Adzra.
“Adzra, kamu tadi melihat siapa yang berada di kelas?”
Semua mata langsung tertuju kepadanya.
Adzra berdiri.
Ia melihat Reza.
Tatapan sahabatnya itu membuatnya teringat masa depan yang pernah ia jalani.
Untuk beberapa detik, Adzra ragu.
Ia takut.
Takut jika dirinya salah.
Takut jika teman-temannya tidak mempercayainya.
Namun kemudian ia mengingat satu kalimat yang pernah dikatakan Reza.
“Aku kira kamu sahabatku.”
Adzra mengepalkan tangannya.
“Saya melihat Reza berada di kelas, Bu.”
Reza langsung menunduk.
Namun Adzra melanjutkan.
“Tapi saya tidak melihat Reza mengambil uang.”
Beberapa siswa mulai berbisik.
“Terus siapa?”
Adzra menatap mereka.
“Berada di kelas bukan berarti seseorang mencuri.”
Kelas menjadi sunyi.
Bu Rina mengangguk.
“Benar. Kita tidak boleh menuduh seseorang tanpa bukti.”
Penyelidikan pun dimulai.
Tas semua siswa diperiksa.
Tidak ada uang tersebut.
Sampai akhirnya seorang siswa bernama Dimas terlihat sangat gelisah.
Bu Rina bertanya,
“Dimas, kenapa kamu terlihat takut?”
Dimas menggeleng cepat.
“Tidak, Bu.”
“Kamu yakin?”
Dimas diam.
Kemudian ia membuka tasnya.
Di dalamnya terdapat beberapa buku dan sebuah dompet.
Saat dompet tersebut dibuka, uang kas kelas ditemukan di sana.
Semua siswa terkejut.
Dimas langsung menangis.
“Maaf, Bu… Saya tidak sengaja membawanya.”
“Tidak sengaja?”
“Saya tadi memasukkan buku ke dalam tas. Dompet uang kas ada di bawah buku. Saya kira itu dompet saya.”
Bu Rina menghela napas.
“Lain kali lebih berhati-hati.”
Dimas kemudian menghampiri Reza.
“Maaf, Za. Aku tadi ikut menuduh kamu.”
Reza hanya mengangguk.
“Iya. Tidak apa-apa.”
Namun Adzra tahu, masalah sebenarnya belum selesai.
Sepulang sekolah, Adzra melihat Reza berdiri sendirian di dekat gerbang.
Ia menghampirinya.
“Reza.”
Reza menoleh.
“Kenapa?”
“Kamu marah?”
Reza mengernyitkan dahi.
“Marah? Sama siapa?”
“Sama aku.”
Reza tertawa kecil.
“Kenapa aku harus marah?”
Adzra terdiam.
Karena di masa yang ia ingat, Reza memang marah kepadanya.
Tetapi itu belum terjadi.
“Pokoknya… maaf.”
“Untuk apa?”
Adzra menatap tanah.
“Untuk sesuatu yang belum terjadi.”
Reza tertawa.
“Kamu benar-benar aneh hari ini.”
Adzra ikut tersenyum.
“Aku serius.”
Reza kemudian menjadi lebih tenang.
“Aku sebenarnya tadi takut.”
“Takut apa?”
“Takut semua orang percaya kalau aku pencurinya.”
Adzra menatapnya.
“Kalau begitu, kamu tidak perlu takut.”
“Kenapa?”
“Karena aku percaya sama kamu.”
Reza terdiam.
Kemudian ia tersenyum.
“Terima kasih, Adzra.”
Saat itulah jam tua di tangan Adzra mulai bergetar.
Tik.
Tik.
Tik.
Adzra melihat jam tersebut.
Jarumnya bergerak semakin cepat.
“Tidak…”
Reza bingung.
“Kamu kenapa?”
Adzra mundur selangkah.
“Aku harus pergi.”
“Pergi ke mana?”
Adzra tidak tahu harus menjawab apa.
Ia menatap Reza lama-lama.
“Mungkin suatu hari nanti kamu akan lupa kejadian hari ini.”
Reza tertawa bingung.
“Kamu ngomong apa sih?”
Adzra tersenyum dengan mata berkaca-kaca.
“Jangan pernah berubah, Za.”
“Adzra?”
Cahaya putih tiba-tiba muncul.
Adzra menutup matanya.
Ketika membuka mata, ia kembali berada di kamarnya.
Hujan masih turun.
Jam tua itu tergeletak di atas meja.
Adzra segera mengambil album foto.
Ia membukanya dengan tangan gemetar.
Foto dirinya bersama Reza masih ada.
Namun sekarang ada beberapa foto baru.
Foto mereka mengerjakan tugas bersama.
Foto mereka saat acara sekolah.
Foto kelulusan.
Adzra tersenyum.
Masa lalu telah berubah.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi.
Satu pesan masuk.
Reza: Besok jadi bertemu, kan? Jangan lupa bawa tugas kita.
Adzra membaca pesan itu berkali-kali.
Air mata jatuh dari sudut matanya.
Bukan karena sedih.
Melainkan karena lega.
Selama ini ia mengira bahwa kesempatan kedua berarti menghapus kesalahan.
Ternyata tidak.
Kesempatan kedua bukan tentang membuat masa lalu menjadi sempurna.
Kesempatan kedua adalah kesempatan untuk memperbaiki pilihan yang pernah kita sesali.
Adzra melihat jam tua tersebut.
Ia memasukkannya kembali ke dalam kotak kayu.
“Kali ini aku tidak akan kembali lagi.”
Ia menutup kotak itu.
Keesokan paginya, matahari muncul setelah hujan panjang.
Adzra berjalan menuju sekolah.
Di depan gerbang, seseorang melambaikan tangan.
“Adzra!”
Reza.
Adzra tersenyum dan menghampirinya.
“Kamu sudah lama?”
“Tidak. Baru lima menit.”
“Lima menit itu lama.”
Reza tertawa.
“Ayo, nanti terlambat.”
Mereka berjalan bersama menuju kelas.
Di tengah perjalanan, Reza bertanya,
“Adzra?”
“Hm?”
“Kenapa akhir-akhir ini kamu sering melihatku seperti orang yang baru kamu temui?”
Adzra terdiam sebentar.
Kemudian ia tersenyum.
“Karena aku baru sadar betapa berartinya seorang teman.”
Reza mengangguk.
“Jawabanmu aneh.”
“Mungkin.”
Mereka tertawa bersama.
Adzra kemudian menatap langit.
Dulu ia selalu berharap bisa kembali ke masa lalu.
Sekarang, ia justru bersyukur bahwa masa lalu tidak lagi harus diubah.
Karena ia telah belajar sesuatu.
Manusia tidak bisa menghapus semua kesalahan.
Tidak semua luka dapat hilang begitu saja.
Tidak semua waktu dapat diputar kembali.
Tetapi selama seseorang masih memiliki hari esok, selalu ada kesempatan untuk memilih dengan lebih baik.
Adzra tersenyum.
Ia tidak lagi ingin kembali ke masa lalu.
Ia ingin berjalan menuju masa depan.
Sebab akhirnya ia mengerti arti sebenarnya dari sebuah kesempatan kedua.
Kesempatan kedua bukanlah kesempatan untuk mengulang hidup.
Kesempatan kedua adalah kesempatan untuk menjalani hidup dengan lebih berani.
Penulis: Zhafira Adzra Anharry — SMAS Unggulan Al-Azhar Medan
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan, foto, gambar, ilustrasi, apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer







































































