MEDAN – Di penghujung masa seragam putih abu-abu, ada ketakutan yang perlahan muncul tanpa disadari. Bukan tentang ujian akhir atau kelulusan, melainkan tentang satu hal yang terasa jauh lebih menakutkan: masa depan.
Malam itu, suasana rumah Rian terasa lebih hangat dari biasanya. Mas Danu, kakaknya yang sudah dua tahun merantau di kota seberang, akhirnya pulang. Aroma masakan Ibu memenuhi ruang makan, membuat suasana rumah terasa semakin nyaman. Setelah sekian lama, mereka akhirnya bisa kembali makan bersama.
Ayah dan Ibu tampak senang mendengar cerita Mas Danu selama di perantauan. Sesekali terdengar tawa kecil di antara percakapan mereka. Namun, di tengah suasana yang hangat itu, Rian justru lebih banyak diam. Ia hanya memainkan sendoknya dan sesekali menatap piring.
Sebagai siswa kelas 12, Rian tahu bahwa masa sekolahnya sebentar lagi berakhir. Setelah itu, ia harus menentukan jalan hidupnya sendiri. Sayangnya, ia belum tahu harus memilih jalan yang mana.
Makan malam yang awalnya terasa menyenangkan perlahan berubah menjadi sesuatu yang membuat Orang tidak nyaman ketika Ayah mulai bertanya.
“Rian, Mas Danu kan sudah sukses merantau. Kamu sebentar lagi lulus SMA. Sudah tahu mau ambil jurusan apa? Mau ikut jejak Masmu atau masuk dinas?” tanya Ayah.
Rian terdiam. Ia belum sempat menjawab ketika Ibu ikut berbicara.
“Iya, Rian. Teman-teman Ibu, anak-anaknya sudah mulai ikut bimbel intensif. Kamu jangan terlalu santai. Lulus nanti mau jadi apa kalau dari sekarang tidak disiapkan?”
Pertanyaan-pertanyaan itu datang begitu cepat. Rian hanya bisa menunduk. Tenggorokannya terasa sesak dan nasi di piringnya mendadak tidak terasa apa-apa.
Sebenarnya, ia sudah sering memikirkan masa depannya. Ia hanya belum menemukan jawabannya. Setiap kali memikirkannya, yang muncul justru rasa takut—takut salah memilih, takut mengecewakan orang tua, dan takut tidak mampu menghadapi kehidupan setelah SMA.
Malam itu, rasa tertekan yang selama ini ia pendam akhirnya terasa terlalu berat.
Rian meletakkan sendoknya.
“Rian sudah kenyang,” ucapnya pelan.
Tanpa menunggu jawaban siapa pun, ia berdiri dan berjalan cepat menuju kamarnya. Pintu kamar ditutup, lalu dikunci dari dalam.
Di dalam kamar, Rian duduk di tepi ranjang. Di atas meja, beberapa formulir pendaftaran dan brosur kuliah berserakan. Semua itu justru membuat pikirannya semakin penuh
Beberapa menit kemudian, terdengar ketukan pelan dari pintu.
“Rian?”
Tidak ada jawaban.
“Mas masuk, ya.”
Pintu terbuka. Mas Danu masuk sambil membawa dua cangkir teh hangat. Ia tidak langsung membahas kejadian di meja makan. Mas Danu hanya berjalan mendekat dan menyodorkan salah satu cangkir kepada adiknya.
“Kenapa? Kelihatan berat banget mukanya,” tanyanya lembut.
Rian menerima cangkir itu. Ia menarik nafas panjang sebelum akhirnya berkata,
“Mas… aku takut.”
Mas Danu duduk di sampingnya dan menunggu Rian melanjutkan.
“Semua orang terus nanya soal masa depan. Tapi aku rasanya belum siap jadi orang dewasa. Semuanya terasa rumit. Gimana kalau aku salah pilih jalan? Gimana kalau aku gagal?”
Mas Danu terdiam sebentar, lalu tersenyum kecil.
“Dulu, waktu Masih duduk di meja makan itu dan ditanya hal yang sama sebelum merantau, Mas juga pernah kabur ke kamar, Rian.”
Rian menoleh dengan wajah terkejut.
“Serius, Mas?”
Mas Danu mengangguk.
“Mas juga takut. Takut nggak bisa berhasil, takut mengecewakan keluarga, dan takut mengambil keputusan yang salah.”
Rian menatap kakaknya. Selama ini, ia selalu melihat Mas Danu sebagai sosok yang hebat dan sudah tahu apa yang harus dilakukan. Ia tidak pernah menyangka bahwa kakaknya juga pernah merasa takut seperti dirinya.
“Menjadi dewasa itu bukan berarti kamu harus tahu semua jawaban hari ini,” lanjut Mas Danu.
“Dewasa itu proses belajar untuk terus melangkah, meskipun kadang kaki kita masih gemetar.”
Rian terdiam mendengarkan.
“Rasa takut itu wajar, Rian. Justru itu berarti kamu peduli dengan masa depanmu. Yang penting, jangan biarkan rasa takut membuat kamu berhenti mencoba.”
Mendengar perkataan Mas Danu, perlahan rasa sesak yang sejak tadi memenuhi dada Rian mulai berkurang. Ia baru menyadari bahwa orang yang selama ini ia anggap selalu kuat ternyata pernah merasakan ketakutan yang sama.
Mungkin menjadi dewasa memang tidak berarti harus memiliki semua jawaban. Mungkin, menjadi dewasa hanya berarti berani mencoba menentukan langkah, lalu belajar dari setiap pilihan yang diambil.
Rian meraih cangkir tehnya dan meneguknya perlahan. Setelah itu, ia mengambil pena dari atas meja.
Brosur dan formulir yang tadi terasa menakutkan kini masih berada di tempat yang sama. Bedanya, kali ini Rian tidak ingin menghindarinya.
Ia belum tahu pasti akan menjadi apa di masa depan. Namun, setidaknya malam itu ia sudah siap untuk mulai mencari jawabannya.
Menjadi dewasa memang menakutkan karena kita harus berjalan menuju sesuatu yang belum kita kenal. Namun, kita tidak harus memiliki semua jawaban hari ini.
Terkadang, kita hanya perlu berani mengambil satu langkah kecil, kemudian melangkah lagi. Karena pada akhirnya, masa depan bukan tentang mengetahui seluruh jalan, melainkan tentang keberanian untuk terus berjalan.
Penulis: Putri Sri Ayu Nasution – SMAS Al Azhar Medan
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan, foto, gambar, ilustrasi, apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer






































































