Jembatan rapuh seringkali menjadi gambaran tentang masa remaja. Jembatan rapuh ini menghubungkan dunia anak-anak dan dewasa. Remaja dikatakan bukan lagi seorang anak-anak, namun belum cukup untuk dikatakan dewasa. Remaja sebagai generasi penerus bangsa, saat ini dihadapkan pada keadaan yang penuh dengan tantangan. Kegagalan dalam melewatinya tak jarang membawa pada jurang yang dalam dan keruhnya persoalan. Fase remaja ibarat sinetron panjang yang tiap episodenya punya genre berbeda. Ada drama, komedi, horor, dan romansa yang terkadang lebih mirip tragedi Shakespeare. Masa ini penuh sekali dengan berbagai turbulensi. Bukan cuma soal emosi yang meledak-ledak akibat pubertas, tapi juga soal bagaimana kita mulai melihat dunia dengan kacamata baru
Di fase remaja ini, pencarian jati diri menjadi agenda utama yang sayangnya sering membawa remaja di persimpangan yang salah. Jati diri merupakan salah satu aspek penting dalam perkembangan setiap individu. Sebagai landasan dalam menentukan sikap, tindakan, dan arah hidup, jati diri yang kuat akan membentuk kepribadian yang kokoh dan mampu menghadapi segala tantangan yang ada. Remaja melakukan banyak hal yang belum mereka rasakan dan ketahui akibatnya. Seringkali kesalahan yang mereka lakukan selama masa pencarian jati diri menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat. Hal inilah yang kita sebut dengan kenakalan remaja. Kenakalan-kenakalan yang dilakukan oleh remaja di bawah usia 17 tahun sangat beragam, mulai dari perbuatan amoral dan anti sosial. Bentuk kenakalan remaja tersebut, seperti kabur dari rumah, membawa senjata tajam, dan kebut-kebutan di jalan, bahkan sampai pada tindakan yang mengarah pada kriminalitas atau yang melanggar hukum, seperti pembunuhan, merampok, merencanakan, penggunaan obat-obatan terlarang, seks bebas, dan tindakan kekerasan lainnya. Kenakalan-kenalan ini bukan lagi sekedar bumbu kenakalan biasa, melainkan sebuah sinyal bahaya yang nyata. Pada usia ini, keinginan untuk diakui dan dianggap hebat sering kali mengalahkan akal sehat, sehingga aturan dan norma sosial dengan mudah dilaksanakan demi sebuah pengakuan kelompok. Ditambah lagi dengan sikap kurang pengawasan dan kehangatan di dalam keluarga, banyak remaja yang merasa asing di rumahnya sendiri, lalu memilih meluapkan emosi negatifnya di jalanan dalam bentuk tindakan-tindakan destruktif yang merugikan.
Melihat dampak buruk yang terus meluas, kenakalan remaja jelas bukan masalah sepele yang bisa diabaikan atau sekadar dihukum tanpa mencari akar masalah. Diperlukan sinergi yang kuat antara kasih sayang keluarga yang utuh, pengawasan sekolah yang mendidik, serta lingkungan masyarakat yang suportif untuk merangkul kembali jiwa-jiwa yang sedang tersesat ini. Menyelamatkan remaja dari jerat kenakalan bukan dengan cara menjauhi atau menghakimi mereka, melainkan dengan membimbing energi kreatif mereka ke arah yang positif agar mereka mampu melewati masa transisi ini dengan selamat.
Penulis: ainin mahfudoh mahasiswa universitas pamulang
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer










































































