“Pertemanan yang baik saling mendukung kemajuan belajar”
Lingkungan pertemanan memiliki pengaruh yang sangat nyata terhadap semangat belajar siswa. Pengaruh tersebut terbagi menjadi dua bentuk yang sangat berbeda yaitu pengaruh yang bersifat positif dan pengaruh yang bersifat negatif.
Lingkungan pertemanan yang bersifat positif terbukti mampu memberikan dampak yang sangat baik bagi semangat belajar. Hal ini terlihat dari adanya dukungan emosional yang saling diberikan antar teman. Ketika seorang siswa merasa mengalami kesulitan dalam memahami pelajaran, merasa lelah karena banyaknya tugas yang harus diselesaikan, atau bahkan merasa putus asa karena belum menunjukkan perbaikan, teman-teman di sekitarnya tidak akan menertawakan atau meninggalkannya. Sebaliknya, mereka hadir untuk memberikan semangat, berjanji bahwa kesulitan tersebut sebenarnya bisa diatasi jika saja mau berusaha lebih keras lagi dan tidak mudah menyerah. Dukungan semacam ini membuat beban yang dirasakan menjadi terasa jauh lebih ringan, sehingga siswa tidak merasa sendirian dalam menghadapi tantangan yang ada dalam proses belajar.
Selain dukungan emosional, kebiasaan bekerja sama dan saling membantu juga menjadi salah satu kekuatan utama dari lingkungan pertemanan yang baik. Di lingkungan seperti ini, siswa tidak hanya fokus pada kemampuan diri sendiri saja. Ketika ada bagian pelajaran yang sudah dipahami dengan baik oleh salah satu teman, ia dengan senang hati akan meluangkan waktu untuk menjelaskannya kembali kepada teman yang masih merasa kesulitan. Mereka juga saling berbagi cara mencatat yang rapi, saling memahami pemahaman mengenai materi yang sulit, hingga menyusun jadwal belajar bersama agar dapat menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan dengan lebih teratur dan tepat waktu. Melalui kegiatan saling membantu ini, pemahaman setiap siswa menjadi semakin kuat, dan mereka menjadi lebih terbiasa menyelesaikan tanggung jawab belajarnya dengan baik.
Hal lain yang juga memberikan dampak yang sangat baik adalah adanya persaingan akademik yang sehat. Dalam lingkungan pertemanan yang baik ini, pencapaian teman tidak dipandang sebagai sesuatu yang patut membuat iri atau bahkan menimbulkan rasa benci. Sebaliknya, nilai yang baik atau prestasi yang diraih oleh teman justru menjadi cerminan serta penyemangat bagi diri sendiri. Siswa akan berpikir bahwa jika teman yang memiliki kemampuan setara dengannya dapat mencapai hasil yang memuaskan, tentu dirinya juga bisa berjanji mau berusaha lebih sungguh-sungguh dan tekun. Persaingan semacam ini mendorong setiap orang untuk terus berusaha mengembangkan kemampuan diri, tanpa harus berniat menjatuhkan atau memikirkan orang lain demi keuntungan sendiri. Akibatnya, kemampuan seluruh anggota kelompok pertemanan tersebut akan terus meningkat dari waktu ke waktu.
Kondisi yang sangat berbeda justru terlihat nyata pada lingkungan pertemanan yang bersifat negatif. Di lingkungan seperti ini, hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan sering kali dianggap sebagai hal yang tidak penting atau bahkan menjadi bahan untuk dijadikan contoh. Teman-teman cenderung lebih menyukai kegiatan yang tidak memiliki tujuan yang jelas, menghabiskan waktu dengan bermain secara berlebihan, atau bahkan melakukan hal-hal yang justru menjerumuskan diri ke arah yang kurang baik. Ketika ada satu atau dua orang yang berniat untuk belajar dengan sungguh-sungguh dan tekun, mereka justru akan diejek, dianggap kaku atau kuno, serta terus-menerus dibujuk untuk meninggalkan buku pelajaran demi mengikuti keinginan teman-teman yang lain.
Akibat terus-menerus dipengaruhi oleh suasana yang demikian, semangat belajar yang semula dimiliki perlahan-lahan akan menurun dan mulai memudar. Siswa mulai merasa bahwa kegiatan belajar adalah hal yang sangat membosankan atau sesuatu yang tidak terlalu penting untuk dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Kedisiplinan yang sempat terbangun dengan baik pun perlahan-lahan menjadi runtuh dan hilang. Mereka sering terlambat datang ke sekolah, tidak mengerjakan tugas yang diberikan guru, memilih untuk berkumpul atau melakukan hal-hal lain saat pelajaran sedang berlangsung, hingga tidak lagi mempersiapkan diri dengan baik saat akan menghadapi ujian atau ujian.
Selain itu, fokus yang seharusnya terfokus sepenuhnya pada pendidikan menjadi terpecah ke mana-mana. Banyak hal yang dianggap lebih menarik atau lebih penting daripada belajar, sehingga waktu yang seharusnya digunakan untuk memahami pelajaran justru habis terbuang untuk hal-hal yang tidak memberikan manfaat apaapa. Lama-kelamaan, pemahaman siswa terhadap materi pelajaran semakin menipis dan jauh tertinggal. Ketika mereka menyadari bahwa banyak hal yang sudah tertinggal jauh, seringkali mereka merasa sudah tidak sanggup lagi untuk mengejar ketertinggalan tersebut, sehingga akhirnya memilih untuk menyerah saja dan tidak mau berusaha lagi.
Perubahan sikap dan kebiasaan ini tidak terjadi dalam waktu semalam saja atau secara tiba-tiba. Prosesnya berjalan secara perlahan namun pasti, seiring dengan semakin seringnya siswa berbaur dan menghabiskan waktu bersama lingkungan yang kurang baik tersebut. Tanpa disadari, kebiasaan buruk itu perlahan menjadi bagian dari diri mereka, sehingga mengubah pandangan serta semangat yang dulunya pernah dimiliki dengan penuh keyakinan.
Menyadari betapa besarnya pengaruh yang diberikan oleh lingkungan pertemanan, maka sangat disarankan kepada setiap siswa untuk lebih berhati-hati dan bijaksana dalam memilih teman bergaul. Hal ini bukan berarti harus memilih teman berdasarkan latar belakang atau kemampuan yang dimilikinya saja, melainkan lebih untuk melihat apakah teman tersebut mampu membawa pengaruh yang baik bagi perkembangan diri atau justru sebaliknya. Carilah teman yang saling mengingatkan dalam hal kebaikan, yang selalu mendorong untuk terus belajar, dan yang mampu mengajak berusaha menjadi pribadi yang lebih baik setiap harinya.
Apabila setiap siswa sudah berada di dalam lingkungan pertemanan yang sehat dan saling mendukung, maka semangat belajar akan tumbuh dengan sendirinya secara alami. Hal ini akan membuat proses belajar menjadi lebih menyenangkan dan tidak terasa berat, sehingga usaha yang dilakukan pun akan membuahkan hasil menjadi hasil belajar yang maksimal, sesuai dengan apa yang diharapkan oleh diri sendiri maupun orang lain.
Penulis: Mar’atuz Zulfa
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































