Anakku naik kelas dua SD, MI tepatnya. Ia sudah punya adik kelas sekarang.
Malam sebelum paginya ia masuk kelas, kami mengobrol tentang bagaimana harus bersikap dengan adik kelas. Setelah ia rutin dengan kakaknya mendengar sandiwara radio ‘Tutur Tinular’ dari Radio Bantul malam hari itu, di atas kasur ia berujar, “eh mbak, besok ada ‘bocil’ yang akan masuk. Pasti ramai.” “Aduh, yang sudah mau punya adik kelas,” respon kakaknya.
Anak laki-ku itu menyebut kata bocil, bocah kecil. Terus terang aku kurang sreg dengan sebutan itu, meski dia menyebutnya tidak dengan nuansa kurang baik. Itu istilah yang didengar dari ayah-ibunya untuk adiknya yang lucu menggemaskan.
Kukatakan pada keduanya bahwa sebutan bocil itu ada dan boleh, tapi untuk orangtua pada anaknya. Bukan sebutan untuk teman, meski dia lebih kecil. “Biasakan sebut nama,” jelasku.
Hal-hal yang dianggap sepele seperti panggilan semacam itu menurutku penting dijelaskan. Jangan sampai hal itu jadi celah masuk yang tidak baik dalam membangun relasi pertemanan anak di sekolah. Sok senior, atau perasaan apa lah cerminan relasi kuasa yang timpang. Semacam itu bisa berkembang menjadi tindakan bullying.
Mungkin aku terlalu berlebihan, namun tak mengapa jika ini diniatkan antisipasi sejak awal.
Di gerbang sekolah: mengingat rasanya ‘jadi baru’
Saat tiba di sekolah pagi tadi, dia senyum-senyum melihat ramai adik kelas yang masih malu-malu diantar ortunya. Agaknya, kondisi itu mengingatkan ia saat jadi siswa baru setahun yang lalu. Kondisi yang tidak mudah bagi seorang anak seperti dia yang memasuki lingkungan baru, akan ada dalam lingkaran pertemanan baru, dan orang-orang dewasa baru.
Semoga senyumnya itu memiliki arti simpati pada adik-adik kelas yang beriringan jalan melewati gerbang bersamanya pagi itu.
‘Lingkungan’ yang pertama adalah MANUSIA
Terpikir olehku tentang MPLS, Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah, masa ta’aruf atau berbagai sebutan lain yang intinya adalah pengenalan lingkungan sekolah. Di Kementerian Agama, program ini kini disebut MATAMUDA, Masa Ta’aruf Murid Madrasah.
Menurutku, diksi ‘lingkungan’ pertama-tama adalah lingkungan sosial. Artinya pengenalan pada manusia-manusia. Mungkin bukan soal ‘mengenal nama’, sesuatu yang jelas tidak bisa ditangkap atau dihafal cepat sang anak.
Namun, mengenal atau lebih tepatnya ‘mengenali situasi’ tatkala mereka merasakan disambut dengan keramahan, siapapun dari berbagai pihak manusia-manusia itu: guru, karyawan, kakak kelas, adik kelas, untuk menciptakan suasana ramah.
Capaian hebat program MPLS adalah munculnya perasaan bagi sang anak, “oh, semuanya ramah dan aku merasa diterima. Aku akan aman di sini.”
Ya, sekolah ramah anak. Artinya, manusia-manusia di lingkungan sekolah yang ramah anak. Tentu saja, termasuk wali-murid para pengantar.
Membalik metode ta’aruf dan bangun partnership
Saya terpikir pula, ada suatu acara ta’aruf berupa kunjungan anak dari kelas ke kelas.
Menekankan pada dibangunnya ‘iklim ramah anak’ tadi, caranya adalah dengan membalik dari kelaziman selama ini.
Bukan kunjungan murid baru ke ruang kakak-kelasnya, namun sebaliknya. Kakak-kakak kelas itu lah yang ‘mengenalkan’ dan ‘menyambut’ adik-adik kelasnya. Menyapanya, mengenalkan dirinya satu demi satu. Itu akan memberi contoh keberanian.
Baru kemudian dengan teladan itu adik-adik kelasnya memecah rasa takut dan malunya untuk balik memperkenalkan diri.
Atau, bahkan sang kakak kelas tersebut mendampingi adik-adik kelasnya untuk mengenal lingkungan sekolah lebih lanjut: menunjukkan mana toilet, tempat bermain, perpustakaan, ruang demi ruang, lapangan olah raga, bagaimana cara yang aman dalam menggunakan ruang dan alat di lingkungan sekolah, dst.
Dibentuk partnership yang terdiri dari satu hingga tiga adik kelas dalam tanggung jawab satu kakak kelas. Mereka ‘as a buddy or team’. Ini akan jadi ajang belajar yang menarik: praktik bersosial, tanggung jawab dan kepemimpinan. A la anak-anak. Di bawah bimbingan guru.
Perkenalan hati demi hati
Masa taaruf jangan sampai sekadar nama, tapi perkenalan hati demi hati. Tentu tidak bisa cepat dalam waktu sepekan. Namun, kunci-kunci pembuka dengan cara itu insya Allah akan membangun situasi ramah dan keterbukaan dalam relasi pertemanan anak.
Juga, hal itu merupakan upaya sejak dini menghindarkan relasi senioritas yang tidak perlu. Sesungguhnya bukan senioritas yang diperlukan, tapi keteladanan, kepemimpinan dan tanggung jawab yang harus ditanamkan lintas-generasi.
Sekaligus, ini yang penting, upaya di atas tepat untuk mencegah tindakan ‘bullying’ di kemudian hari. Semoga.
Selamat ber-MATAMUDA wahai para warga terpelajar.
Penulis: Ahmad Nashih Luthfi (Pendidik di Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional/Wali Murid MAN 1 Yogyakarta)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































