Gemetar di Pojok Kelas
Di setiap sekolah, selalu ada satu nama yang jika diucapkan di koridor, sanggup membuat langkah kaki segerombolan siswa mendadak tertib. Di sekolah saya dulu, nama itu adalah Ibu Retno. Beliau adalah definisi hidup dari kata “horor” bagi seluruh siswa. Sepatunya yang berbunyi tuk-tuk-tuk di lantai lorong adalah alarm visual yang memerintahkan kami untuk segera merapikan baju, memasukkan kaos kaki, dan berhenti tertawa.
Ibu Retno mengajar matematika—kombinasi sempurna untuk memicu trauma remaja. Wajahnya jarang tersenyum. Tatapan matanya yang tajam di balik kacamata tebal sanggup menguliti alasan apa pun yang kami siapkan saat lupa mengerjakan tugas. Saya pernah merasakannya sendiri: berdiri satu jam di samping papannya yang penuh angka, menahan tangis karena tidak tahu cara menyelesaikan persamaan kuadrat, sementara beliau hanya menatap dingin sambil berkata, “Kamu mau jadi apa kalau berpikir saja malas?”
Hari itu, saya membencinya. Setengah mati.
Kami bahkan punya grup obrolan rahasia yang isinya hanya mengutuk ketegasannya yang kami anggap tidak manusiawi. Bagi kami yang masih berusia belasan tahun, pendidikan adalah tentang kebebasan, dan Ibu Retno adalah jeruji besi yang mengurungnya.
Namun, waktu adalah guru yang lebih sinis. Bertahun-tahun kemudian, setelah saya keluar dari gerbang sekolah dan terlempar ke kerasnya dunia kerja, ingatan tentang Ibu Retno mendadak berubah warna. Di dunia nyata, saya tidak lagi menghadapi persamaan kuadrat, tetapi saya menghadapi tenggat waktu proyek yang mencekik, bos yang jauh lebih tidak punya hati, dan kegagalan yang tidak memberi kesempatan remedi.
Saat presentasi saya ditolak mentah-mentah oleh klien, mental saya tidak langsung ambruk. Di sudut kepala, saya justru teringat momen berdiri di depan kelas Ibu Retno. Saya tersenyum kecil. Ternyata, latihan mental terhebat dalam hidup saya sudah selesai bertahun-tahun lalu di papan tulis itu. Ibu Retno tidak sedang membenci kami; beliau sedang membangun jangkar di dalam jiwa kami agar kami tidak hanyut saat badai kehidupan yang sebenarnya datang menuntut tanggung jawab.
Surat ini tentu tidak pernah benar-benar saya kirimkan ke alamat rumahnya. Ini adalah surat cinta yang tertulis di dalam hati setiap murid yang dulu mengumpat, namun kini paham. Terima kasih, Ibu Retno. Galakmu adalah wujud cinta yang paling jujur, yang tidak dibungkus oleh kata-kata manis, melainkan oleh ketegasan yang menyelamatkan masa depan kami.
Penulis :Celsiana Girsang
Mahasiswa Universitas Sari Mutiara Indonesia
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer








































































