“Metal itu musik cowok.” Kalimat seperti ini masih sering terdengar, baik di media sosial maupun dalam kehidupan sehari-hari. Tidak sedikit perempuan yang menyukai musik rock, metal, hardcore, hingga punk justru dipandang aneh, dianggap hanya mengikuti tren, bahkan diragukan pengetahuannya tentang musik yang mereka dengarkan. Pertanyaan seperti “Kamu benar-benar suka band itu?” atau “Sebutkan tiga lagunya kalau memang penggemar,” menjadi bentuk pengujian yang hampir selalu dialami perempuan ketika memasuki ruang budaya musik keras. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa hingga saat ini musik bukan sekadar persoalan selera, tetapi juga arena pertarungan makna yang dibentuk oleh media dan budaya populer. Di era media digital, stereotip tersebut semakin diperkuat melalui berbagai konten di TikTok, Instagram, YouTube, hingga forum daring. Visual konser yang didominasi laki-laki, pemberitaan media yang lebih banyak mengangkat musisi pria, serta algoritma media sosial yang terus memperlihatkan citra serupa, perlahan membangun keyakinan bahwa musik keras memang identik dengan maskulinitas. Padahal, di berbagai dunia terdapat banyak perempuan yang menjadi vokalis, gitaris, drummer, produser musik, hingga penggemar aktif dalam komunitas musik ekstrem. Namun keberadaan mereka sering kali tidak memperoleh ruang representasi yang seimbang.
Fenomena ini dapat dipahami melalui konsep simulakra dan hiperrealitas dari Jean Baudrillard. Baudrillard menjelaskan bahwa media tidak lagi sekadar merepresentasikan realitas, melainkan menciptakan realitas baru yang kemudian dianggap sebagai kebenaran. Ketika media terus menampilkan citra bahwa konser metal dipenuhi laki-laki, sampul album didominasi figur maskulin, atau pemberitaan hanya berfokus pada musisi pria, masyarakat akhirnya menerima gambaran tersebut sebagai kenyataan mutlak. Padahal realitas di lapangan jauh lebih beragam. Kehadiran perempuan dalam dunia musik keras menjadi “tidak terlihat” karena simulasi media telah membentuk hiperrealitas yang lebih dipercaya dibandingkan fakta sebenarnya.
Perspektif Stuart Hall mengenai representasi juga menjelaskan bagaimana makna mengenai gender diproduksi melalui media. Hall menegaskan bahwa media bukan cermin yang memantulkan kenyataan secara objektif, melainkan institusi yang membentuk makna melalui proses representasi. Ketika perempuan lebih sering direpresentasikan sebagai penonton, penggemar kasual, atau bahkan objek visual dalam industri musik, sementara laki-laki digambarkan sebagai musisi, pencipta karya, dan pemimpin komunitas, maka masyarakat secara tidak sadar membangun pemahaman bahwa posisi tersebut memang sudah sewajarnya demikian. Akibatnya, perempuan yang tampil sebagai gitaris metal, vokalis hardcore, atau drummer rock justru dianggap menyimpang dari norma yang telah lama dikonstruksi media.
Lebih jauh lagi, Antonio Gramsci melalui konsep hegemoni menjelaskan bahwa dominasi tidak selalu berlangsung melalui paksaan, tetapi melalui persetujuan sosial yang dibangun secara perlahan. Dalam industri musik, dominasi maskulinitas berlangsung karena masyarakat telah terbiasa menerima anggapan bahwa musik keras adalah ruang laki-laki. Bahkan tidak sedikit perempuan yang akhirnya ikut mempercayai stereotip tersebut sehingga merasa kurang percaya diri untuk bergabung dalam komunitas musik keras. Hegemoni bekerja ketika suatu pandangan diterima sebagai sesuatu yang normal tanpa lagi dipertanyakan. Media memiliki peran besar dalam mempertahankan kondisi tersebut karena terus mengulang narasi yang sama.
Di media sosial, bentuk hegemoni itu terlihat dari komentar-komentar yang mempertanyakan kapasitas perempuan sebagai penikmat musik keras. Video perempuan mengenakan kaus band sering kali dibanjiri komentar yang menguji pengetahuan mereka, sementara laki-laki jarang memperoleh perlakuan serupa. Fenomena ini menunjukkan bahwa validasi terhadap perempuan masih harus diperjuangkan, bahkan dalam urusan preferensi musik sekalipun. Algoritma media kemudian memperbesar praktik tersebut karena konten yang memicu perdebatan cenderung memperoleh interaksi lebih tinggi sehingga terus direkomendasikan kepada pengguna lain. Akibatnya, stereotip lama terus diproduksi ulang dalam ruang digital.
Pandangan kritis dari Frankfurt School juga relevan untuk membaca fenomena ini. Industri budaya bekerja dengan menciptakan standar yang mudah dijual kepada publik. Identitas maskulin dalam musik keras dipasarkan sebagai simbol keberanian, kekuatan, dan pemberontakan karena dianggap memiliki nilai komersial yang kuat. Di sisi lain, perempuan sering ditempatkan sebagai pelengkap visual atau objek pemasaran dibandingkan sebagai subjek kreatif. Logika industri semacam ini akhirnya mempersempit keberagaman identitas dalam dunia musik dan membuat publik terus mengonsumsi citra yang sama berulang kali.
Padahal sejarah menunjukkan bahwa perempuan telah lama menjadi bagian penting dalam perkembangan musik keras. Banyak musisi perempuan berhasil membuktikan kualitas musikalitasnya di panggung internasional maupun lokal. Mereka tidak hadir untuk memenuhi kuota keberagaman, melainkan karena memiliki kemampuan yang setara. Sayangnya, ruang pemberitaan mengenai mereka masih jauh lebih sedikit dibandingkan pemberitaan terhadap musisi laki-laki. Ketimpangan representasi inilah yang kemudian memperkuat asumsi publik bahwa perempuan merupakan pengecualian dalam dunia musik keras.
Pada akhirnya, pertanyaan “musik keras diciptakan hanya untuk kaum lelaki saja?” sebenarnya lebih mencerminkan hasil konstruksi budaya daripada kenyataan. Musik tidak memiliki jenis kelamin. Yang membatasi hanyalah cara media merepresentasikan, cara industri memasarkan, dan cara masyarakat menerima konstruksi tersebut sebagai sesuatu yang wajar. Di tengah berkembangnya media digital, sudah saatnya publik lebih kritis terhadap berbagai stereotip yang terus direproduksi. Dunia musik seharusnya menjadi ruang yang menghargai kreativitas, bukan membatasi seseorang berdasarkan gender. Karena pada akhirnya, yang menentukan kualitas seorang penikmat maupun musisi bukanlah apakah ia laki-laki atau perempuan, melainkan kecintaan, kemampuan, dan kontribusinya terhadap musik itu sendiri.
Ditulis Oleh : Ananda Velicia L. C.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































