Pukul delapan malam, kamar kos senyap. Kipas angin berputar pelan. Di atas kasur, saya meraih ponsel bukan untuk mengecek saldo, tetapi untuk mendengar suara ibu dan ayah. Saya mahasiswa asal Berastagi yang merantau ke Medan untuk melanjutkan pendidikan. Jarak dari rumah sebenarnya tidak jauh hanya dua jam perjalanan. Tapi saya memilih pulang sebulan sekali. Sampai sekarang saya tidak tahu persis alasannya. Mungkin karena perantauan perlahan mengajarkan saya untuk hidup dalam jarak, bahkan dari orang-orang yang paling saya cintai.
Yang pasti, saya menyadari bahwa jarak tidak hanya memisahkan saya dari rumah, tetapi juga dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dulu dianggap biasa makan bersama keluarga, mendengar panggilan ibu dari dapur, dan berbincang setelah ayah pulang kerja. Hal-hal yang dulu terasa biasa, sekarang justru paling saya rindukan.
Menelepon orang tua setiap Jumat malam menjadi ritual yang tidak pernah saya lewatkan. Tidak ada topik khusus yang dibahas. Hanya hal-hal sederhana. Pertanyaan yang tidak pernah absen: “Sudah makan? Makan pakai apa? Bagaimana kuliahnya? Lancar?” Lalu cerita-cerita kecil tingkah kucing di rumah yang selalu saja ada.
Saya tidak selalu menceritakan semua masalah yang sedang saya hadapi, karena tidak mau menambah beban pikiran orang tua. Mendengar suara mereka dan mengetahui bahwa mereka dalam keadaan sehat sudah cukup membuat hati lebih tenang.
Hal serupa dirasakan Haura, mahasiswa asal Berastagi yang juga merantau ke Medan. Setiap minggu, ia menelepon orang tuanya untuk bercerita tentang kesehariannya termasuk masalah yang sedang ia hadapi. Sesuatu yang tidak selalu mudah diucapkan langsung. “Sehat-sehat ya dek,” kata orang tua Haura di setiap akhir telepon. Kalimat sederhana yang selalu ia ingat. Setelah telepon ditutup, Haura mengaku merasa lega seolah rindu yang menumpuk sepanjang minggu akhirnya terlepas hanya lewat suara.
Malam itu seperti malam-malam sebelumnya. Percakapan mengalir ringan kucing di rumah, kabar tetangga, pertanyaan soal kuliah. Lalu tiba-tiba, seperti biasa, ayah atau ibu mengakhirinya dengan kalimat yang selalu sama:”Jangan lupa makan ya.” Telepon ditutup. Kamar kembali senyap. Saya meraih HP bukan karena ada yang perlu dicari, bukan karena ada notifikasi yang menunggu. Hanya karena tiba-tiba kamar terasa terlalu diam. Dan diam itu tidak nyaman untuk didiamkan.
Saya dan Haura bukan pengecualian. Berdasarkan data BPS dalam Statistical Yearbook of Indonesia 2025, jumlah mahasiswa di Indonesia pada tahun 2024 telah mencapai lebih dari 8,4 juta orang dan sebagian besar dari mereka kuliah jauh dari kampung halaman. Sebagian pergi lintas pulau, lintas provinsi. Sebagian lain, seperti kami, hanya pergi dua jam dari rumah.
Tapi jarak bukan selalu soal kilometer. Kadang jarak adalah pilihan yang dibuat tanpa benar-benar menyadarinya dan telepon mingguan itu adalah cara paling sederhana untuk memastikan pilihan itu tidak membuat kita benar-benar hilang dari rumah. Di situ saya menyadari mendengar langsung suara orang tua memiliki makna yang berbeda. Ada rasa hangat yang tidak dapat digantikan oleh apa pun. Bahkan oleh layar HP yang menyala setelahnya.
Sebagai anak rantau, saya tentu bersyukur atas setiap bantuan dan dukungan yang diberikan orang tua. Namun seiring berjalannya waktu, saya semakin memahami bahwa yang paling saya nantikan bukanlah uang yang dikirimkan, melainkan suara dari rumah yang selalu mengingatkan bahwa saya tidak pernah benar-benar sendiri. Sebab sejauh apa pun seseorang pergi, selalu ada rumah yang menunggu. Dan selalu ada orang tua yang tidak pernah berhenti mendoakan anaknya.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer










































































