Gresik — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya melaksanakan program pengabdian masyarakat bertajuk “Penerapan Drum Komposter sebagai Solusi Pengelolaan Sampah Organik di Desa Lasem Kecamatan Sidayu Kabupaten Gresik”. Kegiatan ini diawali dengan sosialisasi yang ditujukan kepada Ibu-Ibu PKK dan warga setempat sebagai langkah awal memperkenalkan teknologi pengomposan sederhana berbahan drum.
Di Desa Lasem, sampah organik rumah tangga belum dikelola secara sistematis, yang mendorong program ini. Orang-orang masih melakukan kebiasaan membakar atau membuang sampah di tanah terbuka, yang mencemari udara dan tanah serta dapat mengganggu kesehatan dan keindahan lingkungan desa. Desa ini memiliki potensi besar untuk bahan baku sampah organik, tetapi belum dimanfaatkan dengan baik.
Tim mahasiswa membuat teknologi drum komposter berkapasitas 120 liter dengan sistem aerasi dan keran drainase lindi untuk menyelesaikan masalah tersebut. Sampah organik seperti sisa sayuran, daun, dan makanan dapat diubah menjadi pupuk kompos dalam waktu empat hingga delapan minggu dengan bantuan larutan EM4 (Effective Microorganism 4) sebagai aktivator.
Dalam kegiatan sosialisasi, siswa mempelajari efek sampah organik yang tidak dikelola, keuntungan pengomposan bagi lingkungan dan pertanian, dan cara drum komposter bekerja dengan cara yang sederhana dan mudah dipahami. Selain itu, setiap peserta yang hadir menerima Buku Panduan Praktis Penggunaan Drum Komposter sebagai sumber referensi untuk membantu mereka mempraktikkan pengomposan di rumah mereka sendiri.
Sebelum pelatihan teknis dan instalasi drum komposter secara langsung bersama Ibu-Ibu PKK Desa Lasem, kegiatan sosialisasi ini merupakan tahap awal. Memanfaatkan pendekatan yang partisipatif, mahasiswa berharap masyarakat dapat memahami pentingnya mengelola sampah organik secara mandiri dan berkelanjutan.
Ketua kelompok KKN regular 29, Maurheen Queena Hamada menyampaikan bahwa sosialisasi ini penting untuk membangun kesadaran masyarakat sebelum penerapan teknologi dilakukan.
“Pengelolaan sampah organik tidak cukup hanya dengan menyediakan alat, tetapi juga perlu ada pemahaman masyarakat mengenai manfaat dan cara penggunaannya, supaya program ini benar-benar bisa dijalankan secara mandiri dan berkelanjutan oleh warga,” ujarnya.
Sosialisasi ini mendapat sambutan positif dari Ibu-Ibu PKK Desa Lasem yang antusias mengikuti pemaparan materi dan aktif bertanya seputar teknis pengomposan. Melalui program ini, mahasiswa berharap Desa Lasem dapat menjadi contoh pengelolaan sampah organik berbasis rumah tangga yang mudah diterapkan, ramah lingkungan, serta menghasilkan produk bernilai guna berupa pupuk kompos bagi pertanian warga.
Program pengabdian ini merupakan bagian dari kegiatan KKN Untag Surabaya yang mendukung implementasi Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) sekaligus menjadi wujud kolaborasi antara mahasiswa, dosen, dan masyarakat dalam menciptakan solusi lingkungan yang berkelanjutan di Desa Lasem, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer










































































