Pati (10/7) – Batik menjadi identitas kebudayaan Indonesia yang sudah diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya tak benda sejak 2009 silam. Masyarakat Indonesia sendiri sudah tidak asing dengan batik di kehidupan sehari-hari. Uniknya, setiap daerah di Indonesia memiliki gaya batiknya sendiri, baik itu ragam motifnya atau metode pembuatannya. Salah satunya adalah batik Bakaran asli Bumi Mina Tani ini.
Di Desa Bakaran Wetan, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, desa yang terkenal akan kuliner bandeng Juwana dan kesenian kethoprak Siswo Budoyo ini, berdiri Museum Batik Sudewi yang siap menceritakan kisah batik Bakaran. Berdiri 4 tahun yang lalu sejak artikel ini dimuat, tepatnya pada 9 Oktober 2022 lalu, museum ini hadir dengan koleksi berbagai ragam motif batik, seperti batik Bakaran monokromik, gandrung, bregat ireng, dan berbagai motif lainnya yang menghiasi etalase display.
Selain keindahan motif batik, museum ini juga menghadirkan display peralatan membatik yang otentik, mulai dari canting, kompor kecil, gawangan, hingga bahan pewarna alami. Display lain juga menunjukkan secara visual dan gamblang beragam proses membatik, mulai dari klowangan (memola kerangka), isen-isen (mengisi bagian kosong pada klowang/kerangka), nembok (memberi tembokan), medel (mencelup kain ke bak pewarna pertama), ngerik dan ngremuk (mengerok dan memberi retakan), mbironi (menutup kembeli kain yang berwarna biru), nyogo (mencelup kain ke bak pewarna kedua), hingga nglorod (tahap finishing menghilangkan sisa malam pewarna pada batik). Berbagai display ini memberikan visual gamblang, tidak sebatas pada hasil akhir batik, tetapi juga proses di balik keindahan dari batik Bakaran.

Bagi para maestro batik di sini, menghasilkan sebuah keindahan bukan sekadar proses, tetapi juga perjalanan filosofis dan kondisi hati sang maestro. Pengelola Museum Batik Sudewi, Sutrisno menyebutkan para maestro batik biasanya melakukan “ritual khusus” sebelum menuangkan canting ke kain batik, seperti meditasi, merenung, meramu ide, atau sebatas memfokuskan diri untuk menemukan inspirasi motif batik.
“Motif yang ada di batik Bakaran tidak semata untuk pemenuhan kebutuhan pasar, tetapi ada nilai filosofi di baliknya. Pembatik di sini biasanya bermeditasi atau menenangkan diri sebelum membatik, sehingga muncul ide atau refleksi yang dituangkan dalam batik,” tutur Sutrisno.
Museum batik ini diperuntukkan bagi semua kalangan, tidak sebatas budayawan atau pegiat batik. Umumnya, para pengunjung dapat belajar membatik atau hanya membeli batik Bakaran yang khas, unik, otentik, dan orisinil.
“Kalau anak sekolahan yang sering itu SD sampai SMA. Untuk anak SD sendiri kita biasanya buat berkelompok pakai kain yang sudah berpola, lalu kita arahkan si anak untuk mewarnai pakai pewarna sintetis. Jadi, kita di sini sesuaikan pengunjungnya, kalau anak SD pakai pewarna sintetis, bukan pakai malam. Malam kan panas, takutnya terjadi hal yang tidak diinginkan,” tambah Sutrisno.
Selain museum, Desa Bakaran Wetan juga termasuk desa wisata. Menurut Jejaring Desa Wisata (Jadesta) Indonesia, desa ini termasuk desa wisata berkembang secara pengelolaan dan daya tarik wisatanya. Para pengunjung dapat napak tilas sejarah Majapahit, melihat kirab budaya, atau berwisata religi di komplek makam Nyi Ageng Bakaran dan Ki Dalang Soponyono.
Tertarik untuk mengunjungi Museum Batik Sudewi dan Desa Wisata Bakaran Wetan?
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer









































































