Sebuah Rumah tua di ujung Jalan Kenanga itu sudah berusia dua puluh tahun, ketika Minji ingin menyewanya rumah tua itu dalam kondisi kosong. Cat dinding rumah itu sudah mengelupas dan sekeliling jendelanya sudah berdebu. Minji adalah seorang mahasiswi perantau yang baru kehilangan pekerjaan paruh waktunya. Dia tidak punya banyak pilihan ketika menemukan rumah tua tersebut yang disewakan dengan penawaran harga yang sangat murah, Minji sangat tertarik dan segera menyewanya.
Malam pertama Minji menempati rumah tersebut, ia terbangun oleh suara denting piano yang berasal dari ruang tengah. Tidak ada piano di rumah itu. Minji bergegas menyalakan senter ponselnya dan hanya menemukan ruangan kosong yang dingin, dengan aroma samar bunga melati yang entah dari mana berasal. Minji hanya terdiam dan tidak bisa berbuat apa-apa, ia hanya kembali ke kamarnya dan kembali tidur dengan perasaan takut.
Malam-malam berikutnya, keanehan itu berulang ketika pintu lemari di kamar Minji terbuka sendiri dan keanehan berikutnya, jendela yang ia tutup rapat selalu terbuka menjelang subuh. Suatu malam, di depan cermin ruang tamu Minji melihat bayangan seorang perempuan berdiri tepat di belakangnya. Rambutnya pirang kecokelatan dan gaunnya putih kusam, model pakaian seperti baju dari zaman dahulu sekitar tahun 1960-an. Seolah ingin bertanya siapa sosok tersebut, Minji hanya terdiam tidak bisa bergerak. Sebentar Minji sangat terkejut dan akhirnya bisa berteriak hingga ia menjatuhkan cangkirnya.
Bayangan seorang perempuan itu tidak menyerang Minji sama sekali. Ia justru mundur perlahan dengan raut wajah yang tampak lebih takut oleh teriakan Minji.
Dengan suara lirih bayangan perempuan itu menyampaikan kata “Maaf,” dengan berbisik seperti angin di sela daun. “Sudah lama sekali tidak ada yang bisa melihatku.”
Setelah Minji dapat mengatur napasnya hingga tenang, Minji memberanikan diri bertanya. “Kamu siapa?”, dengan perasaan yang takut dan penuh penasaran.
“Claire,” jawab sosok perempuan itu. “Claire van Houten. Ini adalah rumah tempat tinggalku dulu.”
Dan dari situlah semuanya berawal. Claire ternyata adalah perempuan keturunan Belanda yang meninggal tahun 1962 di usia dua puluh tiga tahun karena sakit yang tak bisa diobati. Dia sama sekali tidak jahat dan tidak menakutkan. Ia hanya sendirian dan kesepian terlalu lama sehingga ia menjadi arwah penasaran di rumah tua tersebut.
Hari demi hari Minji mulai terbiasa dengan sosok Claire. Sepulang kuliah ia duduk di ruang tengah dan Claire bercerita tentang masa kecilnya, tentang ayahnya yang mengajarinya bermain piano dan tentang ibunya yang senang sekali menanam melati di halaman. Minji membalasnya dengan cerita dunia modern. Ia menjelaskan apa itu handphone, kereta cepat, dan makanan instan, dan Claire pun tertawa sampai lampu di ruangan berkedip.
“Kamu orang pertama yang mengajakku bicara seperti teman,” ujar Claire di suatu malam.
“Kamu juga,” sahut Minji pelan. “Aku udah lama tidak punya teman di kota ini.”
Sejak saat itu rumah tua itu tak lagi terasa dingin. Minji selalu memasak mi instan untuk dua porsi meski hanya satu yang bisa disentuh. Claire selalu menemaninya belajar sampai larut malam dan menghafalkan lagu-lagu favorit yang selalu Minji senandungkan. Ketika Minji jatuh sakit demam, Claire juga selalu duduk di sisi ranjangnya semalaman menjaga dengan caranya sendiri. Ia menurunkan suhu kamar dan menyenandungkan lagu pengantar tidur yang berbahasa Belanda.
Namun perlahan Minji menyadari sesuatu. Suhu tubuh Claire semakin samar. Ada hari-hari di mana ketika suaranya nyaris hilang dan Claire sering menatap ke arah jendela seolah ada yang memanggil dari kejauhan.
“Kamu kenapa?” tanya Minji suatu sore.
Claire tersenyum sedih. “Aku sudah terlalu lama tinggal di sini Minji, aku bertahan di sini karena tak ada yang mengantarku pulang. Tapi sejak bertemu kamu, aku tidak kesepian lagi dan mungkin ini waktunya untuk aku boleh pergi.”
“Pergi ke mana?” Suara Minji bergetar. “Kamu tidak harus pergi.”
“Aku harus.” Claire mengulurkan tangannya yang pucat. Minji mencoba menggenggamnya, tetapi jemarinya hanya menembus udara dingin. “Ayah dan ibuku sudah menunggu. Sudah enam puluh tahun mereka menunggu.”
Minji menangis. Ia tahu ini terasa egois, tetapi ia tidak sanggup membayangkan rumah itu kembali sunyi. “Kalau kamu pergi, apa kamu akan kembali untuk menemuiku, kan?”
Claire terdiam lama. Kebohongan akan terasa manis, tetapi ia terlalu menyayangi sahabatnya untuk berbohong. “Tidak, Minji. Yang pergi tak bisa kembali. Itulah sebabnya perpisahan ini harus benar-benar perpisahan.”
Minji hanya terdiam dan perlahan meneteskan air mata.
Malam terakhir Claire di rumah itu, hujan turun dengan lebat. Piano yang tak berwujud itu mendenting untuk terakhir kalinya, memainkan lagu yang Claire pelajari dari ayahnya di ruang tengah. Cahaya keemasan turun perlahan dari langit-langit dan membungkus tubuh Claire yang kini nyaris transparan.
“Terima kasih sudah melihatku,” ucap Claire sambil tersenyum. Wajahnya tampak sangat tenang dan bahagia seperti orang yang akhirnya menemukan jalan pulang. “Jaga dirimu. Jangan biarkan dirimu sendirian lagi.”
Seolah tahu saat dirinya pergi, Minji akan menempati rumah tua itu sendirian tanpa ada dirinya lagi.
Minji menangis sambil berbisik berkata, “Selamat jalan, Claire.” “Sahabatku.”
Cahaya itu menguat lalu padam, denting piano berhenti dan aroma melati yang sejak awal menemani rumah itu pun menghilang.
Pagi harinya, matahari masuk lewat jendela yang terbuka. Rumah itu terasa hangat, biasa, dan sangat sepi. Minji berdiri di ruang tengah menunggu suara yang tak akan datang lagi. Hari-hari berikutnya ia tetap menunggu, tetapi tak ada denting piano, bayangan di cermin dan bisikan lembut yang menyapanya. Claire benar-benar pergi. Minji berkata dalam hatinya.
Di halaman belakang Minji menemukan serumpun melati yang mulai bermekaran, padahal tak pernah ada yang menanamnya. Ia berlutut menyentuh kelopak putih itu lalu tersenyum, di antara air matanya. Ia tak akan pernah bertemu Claire lagi, namun sejak malam itu Minji tak pernah benar-benar merasa sendirian.
The End
Penulis: Khansa Alifia Ilham – SMAS Unggulan Al-Azhar Medan
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan, foto, gambar, ilustrasi, apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer









































































