Melonjaknya angka tindak kekerasan kepada anak pada tahun 2024 patutnya menjadi isyarat bahwa mincul problem sosial yang harus segera di tangani. Dari data DP3APPKB, terdapat 48 laporan kasus, jumlah yang naik signifikan dibandingkan 36 kasus pada tahun sebelumnya. Dilihat dari perspektif sosiologi, kondisi ini menunjukkan bahwa kekerasan terhadap anak bukan hanya akibat tindakan individu, tetapi juga hasil dari struktur sosial, hubungan antarindividu, serta lemahnya pengawasan sosial di lingkungan anak. Penurunan angka tersebut hanyalah gambaran luar dari persoalan yang jauh lebih dalam dan bersifat struktural.
Tingginya jumlah kasus kekerasan seksual mencapai 28 kasus pada 2024 menunjukkan bahwa perlindungan anak di lingkungan sosial terdekat masih sangat rentan.Teori social disorganization menjelaskan bahwa lingkungan yang tidak stabil, hubungan sosial yang renggang, dan lemahnya pengawasan dapat meningkatkan kerentanan terhadap perilaku menyimpang. Pernyataan Kepala DP3APPKB yang menyebutkan bahwa pelaku kebanyakan orang dekat menguatkan pandangan bahwa keluarga dan lingkungan sekitar tidak selalu menjadi ruang aman bagi anak. Dalam konteks ini, keluarga yang seharusnya menjadi agen sosialisasi primer justru gagal menjalankan fungsi proteksi.
Kenaikan pelaporan yang dianggap positif oleh DP3APPKB memperlihatkan bahwa kontrol sosial formal mulai bekerja lebih efektif. Meski begitu, hal ini juga menegaskan konsep “fenomena gunung es” dalam sosiologi kriminalitas: kasus yang tampak lebih sedikit daripada realita sebenarnya akibat budaya diam, rasa takut, atau ketidaktahuan masyarakat terhadap mekanisme pelaporan. Masyarakat baru melapor ketika kesadaran mulai tumbuh, artinya selama ini pelanggaran yang terjadi tidak sepenuhnya tersentuh lembaga formal. Keberanian melapor merupakan perubahan sosial yang penting, namun tanpa peningkatan kapasitas perlindungan, kasus akan tetap berulang.
Selain kekerasan fisik dan seksual, munculnya kasus anak yang menyakiti diri sendiri menunjukkan perubahan pola stres dan tekanan sosial pada generasi muda. Dalam perspektif strain theory, perilaku menyakiti diri dapat muncul ketika anak menghadapi tekanan emosional, ekspektasi sosial, atau konflik keluarga yang tidak dapat mereka kelola. Kondisi ini menandakan bahwa masalah kekerasan tidak hanya terjadi secara eksternal, tetapi juga internal dalam bentuk konflik psikologis yang dipicu lingkungan sosial. Ini memperlihatkan bahwa problem sosiologis yang dihadapi anak semakin multidimensi.
Upaya DP3APPKB melalui layanan “Kontak Perasaan” merupakan bentuk respons sosial yang penting, tetapi tetap membutuhkan dukungan dari berbagai lapisan masyarakat. Pencegahan kekerasan anak tidak bisa hanya diserahkan pada lembaga pemerintah; ia harus menjadi gerakan kolektif berbasis keluarga, sekolah, komunitas, dan ruang publik. Pendidikan pengasuhan, penguatan lingkungan sosial, dan peningkatan literasi keamanan anak harus digalakkan sebagai bentuk kontrol sosial preventif. Jika Cirebon ingin menurunkan angka kekerasan anak, maka pendekatan sosiologis yang menata ulang relasi sosial, memperkuat komunitas, dan memulihkan fungsi keluarga harus menjadi prioritas utama.
Peran orang tua menghadapi kasus ini
Peran orang tua menjadi kunci pada upaya pencegahan jangka panjang. Pengawasan yang konsisten, komunikasi yang hangat, serta kepekaan terhadap perubahan emosi anak terbukti mampu menurunkan risiko kekerasan yang tidak terlihat oleh lingkungan sekolah maupun masyarakat. Orang tua perlu membangun ruang dialog yang aman agar anak merasa didengar, sekaligus menanamkan nilai empati, batasan, dan kontrol diri sejak dini. Keteladanan dalam menyelesaikan konflik tanpa kekerasan juga sangat menentukan bagaimana anak memahami relasi sosial di luar rumah. Jika keluarga berfungsi sebagai lingkungan pertama yang aman dan suportif, maka masyarakat memiliki fondasi kuat untuk menekan laju kekerasan anak dan menciptakan ruang tumbuh yang lebih sehat bagi generasi berikutnya.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer









































































