Sore itu, seorang pria berkacamata—yang tak lain adalah Pa Memet—berdiri di teras Balai Desa Karang Bolong. Suara hujan rintik-rintik bersahutan dengan petir yang menyaut silih berganti, seperti efek film horor murah yang diputar ulang berkali-kali. Angin sore menusuk, tapi Pa Memet tetap berdiri gagah seperti pahlawan yang lupa bawa payung.
Dari dalam balai desa muncul Pak Ujang, penjaga balai, sambil menenteng payung bocor yang airnya malah ngocor ke baju.
“Eh, masuk, Pa Memet!” katanya.
“Dari mana, mau ke mana hujan-hujan ke balai desa?”
Pa Memet nyengir sambil mengelap kacamatanya yang penuh embun.
“Ini mang, mau nganterin berkas materi buat acara besok.”
Pak Ujang melongok sebentar ke dalam balai desa yang sudah gelap.
“Aduh, perangkat desa udah pada pulang. Mending anterin aja ke rumah Bu Kaur. Deket, di belakang balai desa.”
Belum sempat hujan bertanya, Pa Memet sudah langsung bergegas seperti kurir ekspres yang dibayar pakai semangat.
Tok… tok… tok…
Pa Memet mengetok pintu rumah Bu Kaur. Tapi tak ada suara dari dalam rumah, kecuali mungkin suara kucing yang sedang batuk karena kehujanan semalam.
Hari semakin gelap. Pa Memet mengetok lagi, lebih pelan tapi penuh harapan.
Tok… tok…
Pintu akhirnya terbuka.
Dan keluarlah Bu Kaur—dengan daster biru bermotif kembang dan rambut pirang yang tampak seperti hasil eksperimen listrik statis.
Pa Memet langsung terperanjat. Baru pertama kali ia melihat Bu Kaur tanpa kerudung. Biasanya rapi dan berwibawa. Sekarang? Daster, rambut pirang, dan tatapan sedikit kaget.
“Eh, maaf ya Pa Memet, saya nggak pakai kerudung. Ada apa ya?” katanya sambil menahan pintu supaya angin tidak ikut campur.
“Oh, ini Bu, mau nitip berkas materi buat acara besok.”
“Oh iya, sini… saya terima.”
“Bu, saya pulang ya. Udah mau magrib.”
Pa Memet buru-buru pamit, menunduk, dan pura-pura fokus pada sandal di depannya agar tidak kelihatan gugup.
—
Ia memakai jas hujan, naik motor, dan melaju pulang. Tapi sepanjang jalan pikirannya malah melayang pada sosok Bu Kaur dengan daster biru, rambut pirang, dan pintu rumah yang terbuka perlahan seperti adegan sinetron.
Dan seperti biasa, jika pikiran mengembara, bahaya menanti.
JEGREEEG!!
Motor Pa Memet menabrak gerobak ketoprak.
“Maaakanya kalo naik motor jangan melamun!” hardik Mamang tukang ketoprak sambil memeriksa apakah tahu dan lontongnya masih utuh.
Pa Memet tertegun, kembali ke dunia nyata. Hujan masih turun, seolah ikut menertawakan dirinya.
Sementara itu, di kepalanya… daster biru masih berkibar-kibar. Seperti tidak mau pergi.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”




































































