Langit mulai gelap ketika warga perlahan berdatangan ke masjid dengan percakapan ringan terdengar di antara langkah mereka dan raut wajah yang hangat. Di tangan mereka, tersimpan berbagai makanan yang telah dibungkus rapi dan masih hangat. Malam itu bukanlah malam biasa itulah malam satu 1 suro, suatu tradisi yang masih dijaga oleh masyarakat di desa bukit hagu, Aceh Utara. Tradisi ini tetap hidup di kampung halaman. Bukan karena kewajiban, tapi karena keyakinan yang telah berjalan lama. “Di sini masih ada tradisi malam 1 Suroan,” ujar Sri Utami (37), seorang warga setempat. Ia menjelaskan bahwa malam 1 Suro dalam tradisi Jawa bertepatan dengan 1 Muharam dalam kalender Hijriah. Bagi masyarakat desa, malam tersebut dianggap sakral dan penuh makna. Kesakralan itu tidak hanya terasa dari suasana, tetapi juga dari aturan-aturan yang menyertainya. Pada malam tersebut, warga dianjurkan untuk tidak bepergian jauh. Bahkan, kegiatan seperti pesta pernikahan pun dihindari. “Biasanya ada pantangan, seperti tidak boleh pergi jauh-jauh dan tidak boleh ada acara pesta karena hari itu bisa dibilang sakral,” lanjutnya. Namun, di balik berbagai larangan itu, tersimpan sebuah kebersamaan yang hangat. Tradisi ini tidak dilakukan dengan kemewahan, melainkan dengan kesederhanaan yang justru mempererat hubungan antarwarga. Menjelang waktu magrib, setiap keluarga menyiapkan makanan di rumah masing-masing. Hidangan tersebut kemudian dibawa ke masjid. Setelah salat berjamaah, warga bersama-sama membaca doa dan berzikir. Suasana berubah menjadi lebih tenang. “Biasanya warga masak-masak di rumah, lalu dibawa ke masjid. Setelah salat, kita berdoa dan makan bersama-sama seperti kendurian,” kata Sri Utami.
Suasana kebersamaan semakin terasa ketika hidangan mulai dibuka. Warga duduk melingkar dan ada juga duduk berbaris di lantai masjid, saling menyodorkan makanan satu sama lain tanpa sekat. Tidak ada perbedaan status, semua duduk sejajar, menikmati hidangan yang dibawa dari rumah masing-masing. Tawa kecil sesekali terdengar, namun tetap dalam suasana yang penuh rasa hangat.
Beberapa anak-anak juga tampak ikut duduk di antara orang tua mereka. Mereka memperhatikan dengan saksama, seolah sedang belajar memahami makna di balik tradisi yang dijalankan. Di sinilah nilai-nilai itu diwariskan bukan melalui ceramah panjang, tetapi melalui kebiasaan yang dilakukan bersama. Momen makan bersama itu bukan sekadar tradisi turun-temurun. Lebih dari itu, ia menjadi tempat di mana warga saling berbagi, bercengkerama, dan mempererat silaturahmi. Bagi masyarakat Desa Bukit Hagu, tradisi malam 1 Suro bukan hanya soal kebiasaan. Ia menyimpan harapan dan doa yang mendalam. “Agar dilindungi oleh Allah, dijauhkan dari hal-hal buruk, dan selalu mendekatkan diri kepada Allah,” jelas Sri Utami saat ditanya tentang makna tradisi tersebut. Tradisi ini seolah mengingatkan bahwa pergantian waktu bukan hanya soal perubahan kalender, tetapi juga momentum untuk introspeksi dan mendekatkan diri kepada Allah. Menariknya, tradisi ini tidak hanya diikuti oleh generasi tua. Anak-anak muda di desa tersebut juga masih turut serta, menjaga keberlanjutan nilai-nilai yang diwariskan. “Biasanya masih ikut, bukan hanya anak muda, yang sudah lanjut usia juga tidak ingin ketinggalan,” ujarnya. Hal ini menunjukkan bahwa di tengah perubahan zaman, tradisi lokal masih memiliki tempat di hati masyarakat. Tidak semua hal lama ditinggalkan beberapa justru dipertahankan karena dianggap penting. Malam 1 Suro di Desa Bukit Hagu mungkin terlihat sederhana. Tidak ada gemerlap lampu atau perayaan besar. Namun, di balik kesederhanaan itu, tersimpan makna yang dalamtentang kebersamaan, keyakinan, dan harapan. Di saat banyak tradisi perlahan memudar, malam 1 Suro tetap hidup dalam ingatan dan praktik masyarakat. Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin sibuk, tradisi seperti inilah yang diam-diam mengingatkan bahwa kebersamaan dan doa masih memiliki tempat yang tak tergantikan. malam 1 Suro menghadirkan ketenangan yang sulit ditemukan di hari-hari biasa.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer

































































