SIARAN BERITA – Di tengah suhu bumi yang terus meningkat, banjir yang datang tanpa musim, dan kualitas udara yang semakin buruk, menjaga lingkungan seharusnya tidak lagi dipandang sebagai tren sesaat atau sekadar pencitraan sosial. Hari ini, sikap pro lingkungan adalah bentuk tanggung jawab moral manusia terhadap masa depan.
Ironisnya, banyak orang masih menganggap isu lingkungan sebagai urusan aktivis, pemerintah, atau lembaga internasional semata. Padahal, krisis ekologis lahir dari kebiasaan sehari-hari yang dianggap normal: memakai plastik sekali pakai tanpa berpikir panjang, membuang sampah sembarangan, boros listrik, hingga gaya hidup konsumtif yang berlebihan. Kita sering menuntut bumi tetap lestari, tetapi enggan mengubah kenyamanan diri sendiri.
Padahal, perubahan besar selalu dimulai dari kebiasaan kecil. Membawa tumbler sendiri, mengurangi penggunaan kantong plastik, memilih transportasi umum, hingga memilah sampah rumah tangga mungkin terlihat sederhana. Namun jika dilakukan secara kolektif, dampaknya jauh lebih besar daripada sekadar slogan “save the earth” yang ramai saat kampanye lingkungan.
Masalahnya, masyarakat modern sering kali lebih bangga mengikuti tren digital dibanding membangun kesadaran ekologis. Kita rela membeli barang baru demi mengikuti gaya hidup, meskipun barang lama masih layak digunakan. Budaya konsumtif ini tidak hanya menguras dompet, tetapi juga mempercepat kerusakan lingkungan melalui peningkatan limbah dan eksploitasi sumber daya alam.
Lebih mengkhawatirkan lagi, kerusakan lingkungan hari ini bukan lagi ancaman masa depan ia sudah hadir di depan mata. Cuaca ekstrem merusak pertanian, pencemaran udara meningkatkan penyakit pernapasan, dan krisis air mulai dirasakan di berbagai daerah. Alam sedang memberi peringatan keras bahwa bumi memiliki batas kesabaran.
Karena itu, menjadi pro lingkungan tidak cukup hanya dengan unggahan media sosial atau mengikuti kegiatan simbolik satu hari dalam setahun. Kepedulian terhadap lingkungan harus hadir dalam pola pikir dan perilaku sehari-hari. Sebab pada akhirnya, bumi tidak membutuhkan manusia untuk bertahan hidup. Justru manusialah yang membutuhkan bumi.
Generasi muda memiliki peran penting dalam perubahan ini. Di era ketika informasi begitu mudah diakses, kesadaran ekologis harus menjadi bagian dari identitas intelektual dan moral anak muda. Menjadi modern bukan berarti hidup boros dan eksploitatif, tetapi mampu hidup bijak tanpa merusak masa depan.
Jika hari ini kita masih merasa menjaga lingkungan adalah pilihan, mungkin kita belum benar-benar memahami seberapa serius krisis yang sedang terjadi. Menjaga bumi bukan lagi tentang menjadi “baik”, tetapi tentang memastikan bahwa generasi berikutnya masih memiliki tempat yang la yak untuk hidup.
Ditulis Oleh : BILAL HASTA ZAIHA Mahasiswa Prodi Psikologi Islam Semester 2 Dan Duta Kampus UIN Raden Intan Lampung
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer































































