SIARAN BERITA – Perkembangan teknologi digital telah mengubah banyak bagian kehidupan masyarakat, termasuk cara para pemuda berkomunikasi dan mendapatkan informasi. Media sosial bukan hanya untuk bersenang-senang, tetapi juga dipakai untuk membangun pertemanan, menunjukkan diri sendiri, mengikuti berita terbaru, hingga mencari informasi yang dibutuhkan. Platform seperti Instagram, TikTok, dan X membuat komunikasi jadi lebih cepat, lebih mudah, serta tidak terbatas oleh ruang atau waktu. Tidak mengherankan jika media sosial sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari para remaja.
Media sosial menawarkan berbagai kemudahan yang memberikan banyak manfaat. Pengguna bisa mendapatkan berbagai informasi dalam waktu yang sangat singkat, berkomunikasi dengan orang di tempat yang berbeda, serta mengikuti perkembangan-perkembangan terbaru baik di tingkat lokal maupun global. Media sosial juga memberi kesempatan bagi anak muda untuk menunjukkan kreativitas, membentuk identitas pribadi, dan memperluas pertemanan. Meskipun memiliki berbagai manfaat, penggunaan media sosial secara berlebihan juga bisa menimbulkan beberapa dampak negatif yang sering kali tidak disadari oleh pengguna.
Salah satu hal yang sering terjadi adalah rasa ingin selalu terhubung dengan dunia digital. Banyak anak muda merasa harus terus memeriksa media sosial agar tidak ketinggalan informasi atau tren terbaru. Kebiasaan itu biasanya dilakukan tanpa merasa dan perlahan-lahan menjadi bagian dari kegiatan sehari-hari. Ketika seseorang merasa terus-menerus ingin mengetahui apa yang sedang dilakukan orang lain atau apa yang sedang banyak dibicarakan, hal itu bisa menciptakan tekanan yang memengaruhi pikirannya.
Media sosial juga menjadi tempat yang memicu orang untuk melakukan perbandingan dengan orang lain. Orang-orang sering melihat berbagai postingan yang menunjukkan pencapaian, gaya hidup, pengalaman berlibur, atau kegiatan yang tampak menyenangkan. Meskipun apa yang terlihat di media sosial tidak selalu mewakili keadaan sebenarnya, banyak orang mulai membandingkan hidup diri sendiri dengan orang lain. Jika dilakukan terus-menerus, kondisi tersebut bisa membuat seseorang merasa tidak puas dengan diri sendiri dan membuat hidup sehari-hari terasa kurang nyaman.
Arus informasi yang sangat cepat juga menjadi tantangan tersendiri. Setiap hari, pengguna mendapatkan banyak sekali informasi, video, foto, atau berita. Banyak informasi yang diterima dalam waktu singkat membuat seseorang merasa kewalahan dan sulit memproses informasi dengan baik. Banyak pengguna akhirnya merasa lelah secara digital karena terus-menerus terpapar berbagai jenis konten dan tekanan untuk selalu aktif di media sosial. Fenomena itu mendorong sekelompok pemuda untuk mengambil waktu istirahat dari kegiatan digital dengan cara menonaktifkan sementara akun media sosial. Langkah tersebut biasanya disebut dengan istilah digital detox. Penonaktifan sementara media sosial dilakukan dengan cara membatasi atau menghentikan penggunaan media sosial selama periode tertentu. Tujuannya bukanlah untuk menjauhi teknologi selamanya, tapi memberi kesempatan bagi diri sendiri untuk istirahat dari berbagai kegiatan digital yang terus-menerus berlangsung.
Menariknya, mematikan sementara media sosial tidak hanya tentang mengurangi penggunaan teknologi, tetapi juga bisa dianggap sebagai cara berkomunikasi dengan diri sendiri. Komunikasi intrapersonal adalah proses berkomunikasi yang terjadi di dalam diri seseorang, melalui kegiatan berpikir, merenung, memahami perasaan, serta mengevaluasi pengalaman pribadi. Ketika membatasi penggunaan media sosial, memiliki lebih banyak ruang untuk memahami dirinya sendiri dan kembali mengevaluasi kebiasaan mengakses teknologi yang selama dilakukannya.
Seseorang bisa mengerti bagaimana media sosial memengaruhi cara berpikir, perasaan, dan tindakan. Setiap orang juga bisa lebih tahu kebutuhan pribadinya, menetapkan batasan dalam menggunakan media sosial, serta menentukan tujuan penggunaan teknologi digital yang ingin dicapai. Kesadaran penting karena membantu seseorang menggunakan media sosial dengan lebih bijak dan tidak terlalu bergantung pada dunia digital.
Selain memberi kesempatan untuk mengenali diri sendiri, menghentikan sementara penggunaan media sosial juga membuka peluang untuk melakukan berbagai kegiatan yang lebih bermanfaat. Waktu yang biasanya digunakan untuk menggulir di media sosial bisa digunakan untuk membaca buku, berolahraga, belajar keterampilan baru, menyelesaikan tugas kuliah, atau mempererat hubungan dengan keluarga dan teman secara langsung. Aktivitas itu bisa membantu memperbaiki kualitas hidup sekaligus merawat kesehatan mental.
Akhirnya, media sosial bukanlah hal yang harus dihindari, tapi perlu digunakan dengan bijak dan seimbang. Menonaktifkan sementara media sosial bisa jadi cara yang mudah untuk membantu anak muda menjaga kesehatan mental, meningkatkan pemahaman tentang diri sendiri, dan menciptakan keseimbangan antara kehidupan di dunia maya dan kehidupan nyata. Kemampuan mengelola penggunaan media sosial secara lebih baik, remaja bisa tetap menikmati manfaat dari teknologi tanpa merugikan kenyamanan psikologis atau kualitas hidupnya.
Ditulis Oleh : Umamatul Faizah(202510040110016), Mahasiswa S1 Ilmu Komunikai, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Muhammadiyah Malang, umamatulfaizah1908@webmail.umm.ac.id
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer










































































