Setiap 20 Mei, bangsa ini mengenang Hari Kebangkitan Nasional. Kita kembali menyebut Budi Utomo, tahun 1908, dan semangat kaum terdidik yang mulai sadar bahwa masa depan bangsa tidak akan berubah jika manusia-manusianya tetap tertinggal. Namun, lebih dari satu abad kemudian, pertanyaannya berubah: dari apa pelajar hari ini harus bangkit?
Jawabannya mungkin tidak lagi dari gelapnya penjajahan fisik. Tidak pula semata-mata dari sulitnya memperoleh pendidikan. Pelajar hari ini justru hidup di tengah kelimpahan informasi. Buku, jurnal, video pembelajaran, kamus, peta dunia, bahkan kecerdasan buatan, semua hadir dalam satu genggaman. Ironisnya, benda yang sama juga sering merampas perhatian mereka: layar.
Indonesia bukan negeri yang kekurangan akses digital. APJII mencatat jumlah pengguna internet Indonesia pada 2024 mencapai 221,56 juta jiwa dengan penetrasi 79,5 persen. Sementara DataReportal menyebut ada 143 juta identitas pengguna media sosial aktif di Indonesia pada Januari 2025. Angka-angka ini menunjukkan satu hal: pelajar kita tumbuh di tengah arus digital yang sangat deras.
Masalahnya, derasnya arus tidak selalu membuat seseorang pandai berenang. Banyak pelajar mampu mengoperasikan gawai, tetapi belum tentu mampu mengendalikan diri. Mereka fasih membuka aplikasi, tetapi belum tentu cakap memilah informasi. Mereka cepat membagikan tautan, tetapi belum tentu sabar membaca sampai selesai.
Di sinilah makna kebangkitan nasional perlu dibaca ulang. Jika generasi awal abad ke-20 bangkit melalui pendidikan, organisasi, dan kesadaran kebangsaan, maka generasi hari ini perlu bangkit melalui literasi digital, disiplin diri, dan kemampuan berpikir kritis. Kebangkitan pelajar masa kini bukan hanya ditandai oleh kepemilikan gawai mahal, melainkan oleh kemampuan menggunakan teknologi untuk belajar, berkarya, dan memperbaiki diri.
Sebab teknologi pada dasarnya netral. Ia bisa menjadi jembatan menuju pengetahuan, tetapi juga bisa menjadi lorong panjang menuju kelalaian. Di tangan pelajar yang sadar, internet menjadi ruang belajar tanpa batas. Di tangan pelajar yang lengah, internet berubah menjadi mesin pengalih perhatian yang bekerja tanpa henti.
Kita melihat gejalanya setiap hari. Niat membuka ponsel lima menit berubah menjadi satu jam. Tugas sekolah tertunda karena video pendek yang terus bergulir. Buku pelajaran kalah menarik dari notifikasi. Percakapan keluarga terpotong oleh layar. Bahkan waktu istirahat pun tidak benar-benar istirahat karena pikiran terus diseret oleh arus konten.
Kekhawatiran ini bukan tanpa dasar. UNESCO dalam laporan Global Education Monitoring Report 2023 mengingatkan bahwa teknologi pendidikan dapat bermanfaat jika digunakan secara tepat, tetapi penggunaan berlebihan justru bisa merugikan proses belajar. Laporan itu juga menyoroti bahwa smartphone di sekolah terbukti dapat menjadi distraksi pembelajaran.
Di sisi lain, kemampuan literasi pelajar Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah besar. Dalam PISA 2022, hanya sekitar 25 persen siswa Indonesia yang mencapai Level 2 atau lebih dalam membaca, jauh di bawah rata-rata OECD sebesar 74 persen. Artinya, banyak siswa belum cukup kuat dalam menemukan gagasan utama, memahami informasi, dan merefleksikan isi bacaan secara memadai.
Data ini seharusnya membuat kita berhenti sejenak. Jangan-jangan persoalan utama pelajar hari ini bukan kurangnya informasi, melainkan kurangnya ketahanan membaca. Bukan miskin akses, melainkan miskin fokus. Bukan tidak memiliki alat belajar, melainkan belum memiliki kendali atas alat itu.
Karakter pelajar di era digital tidak cukup dibangun dengan nasihat “gunakan teknologi secara bijak”. Kalimat itu terlalu sering diucapkan hingga kehilangan daya gigitnya. Yang diperlukan adalah latihan konkret: berani menunda membuka media sosial, membiasakan membaca panjang, mengecek kebenaran informasi, menulis gagasan sendiri, dan menggunakan internet untuk menghasilkan karya.
Pelajar yang bangkit bukan pelajar yang anti-teknologi. Justru sebaliknya, ia mampu menjadikan teknologi sebagai alat perjuangan baru. Ia memakai internet untuk belajar bahasa, memahami sains, membuat desain, menulis opini, berdiskusi, menyebarkan kebaikan, dan memperluas wawasan. Ia tidak sekadar menjadi penonton, tetapi pelaku. Tidak sekadar menjadi konsumen konten, tetapi pencipta gagasan.
Maka, Hari Kebangkitan Nasional seharusnya tidak berhenti sebagai seremoni tahunan. Ia perlu masuk ke ruang kelas, meja belajar, grup percakapan, dan layar ponsel pelajar. Ia perlu menjadi pertanyaan pribadi: hari ini, apakah saya sedang menggunakan teknologi, atau sedang digunakan oleh teknologi?
Generasi 1908 bangkit karena sadar bahwa kebodohan adalah belenggu. Generasi hari ini harus sadar bahwa distraksi juga bisa menjadi belenggu. Bedanya, belenggu masa kini sering tampak menyenangkan. Ia hadir dalam bentuk hiburan, tren, komentar, suka, dan guliran layar yang tidak berujung.
Karena itu, kebangkitan pelajar masa kini mungkin dimulai dari tindakan yang tampak sederhana: meletakkan ponsel saat belajar, membaca sebelum membagikan, berpikir sebelum berkomentar, dan memilih konten yang menumbuhkan, bukan melemahkan.
Bangsa ini tidak kekurangan pelajar yang pintar memakai teknologi. Yang kita butuhkan adalah pelajar yang berkarakter kuat saat berhadapan dengan teknologi. Pelajar yang tidak mudah dikendalikan algoritma. Pelajar yang mampu menjaga fokus, merawat rasa ingin tahu, dan menggunakan layar sebagai jendela ilmu, bukan penjara waktu.
Jika dahulu para pemuda bangkit untuk membangun kesadaran nasional, maka hari ini pelajar perlu bangkit untuk membangun kesadaran digital. Sebab masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat jaringan internetnya, tetapi oleh seberapa matang karakter generasi yang menggunakannya.
Penulis: Deti Prasetyaningrum, S.Pd (Guru MAN 1 Yogyakarta)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer
































































