Eco-anxiety kini menjadi bagian dari percakapan sehari-hari Generasi Z, terutama di tengah kabar tentang krisis iklim, polusi, dan bencana ekologis yang makin sering terdengar. Kecemasan ini bukan sekadar “terlalu sensitif”, melainkan respons emosional yang nyata ketika masa depan bumi terasa semakin tidak pasti.
Generasi Z tumbuh dalam era informasi yang sangat cepat. Setiap hari mereka disuguhi berita tentang banjir, kebakaran hutan, cuaca ekstrem, hingga kerusakan ekosistem, dan semua itu mudah memicu rasa takut berlebihan terhadap masa depan. Paparan informasi yang terus-menerus ini membuat masalah lingkungan tidak lagi terasa jauh, tetapi hadir sebagai beban psikologis yang dekat dan personal.
Yang menarik, eco-anxiety tidak selalu muncul dalam bentuk panik yang jelas. Pada banyak anak muda, ia hadir sebagai rasa gelisah, sulit fokus, rasa bersalah karena dianggap belum cukup peduli, atau perasaan tidak berdaya ketika melihat kerusakan alam terus berlangsung. Dalam kondisi tertentu, kecemasan ini bisa mengganggu tidur, produktivitas, dan semangat untuk menjalani aktivitas harian.
Namun, eco-anxiety juga punya sisi lain. Rasa cemas terhadap lingkungan dapat menjadi tanda bahwa Generasi Z masih memiliki kepedulian yang kuat terhadap masa depan bersama . Dari sini, kecemasan bisa berubah menjadi energi untuk bertindak, misalnya melalui gaya hidup ramah lingkungan, aktivisme, atau keterlibatan dalam komunitas hijau.
Masalahnya, tidak semua anak muda memiliki ruang untuk mengolah kecemasan itu dengan sehat. Banyak yang justru memendamnya sendiri karena merasa isu lingkungan terlalu besar untuk dihadapi secara individu . Di titik ini, eco-anxiety perlu dipahami bukan sebagai kelemahan pribadi, melainkan sinyal bahwa ada tekanan sistemik yang memang menuntut perhatian bersama.
Peran sekolah, keluarga, media, dan pemerintah menjadi sangat penting dalam merespons fenomena ini. Lingkungan sosial yang sehat terbukti memengaruhi kesehatan mental anak dan remaja, sehingga dukungan emosional dan edukasi yang tepat dapat membantu mereka menghadapi kecemasan dengan lebih stabil . Edukasi lingkungan yang seimbang juga penting agar anak muda tidak hanya menerima kabar buruk, tetapi juga melihat solusi dan peluang aksi nyata.
Menurut saya, Generasi Z tidak sedang “berlebihan” ketika cemas pada isu lingkungan. Mereka justru sedang menangkap kenyataan bahwa krisis iklim adalah persoalan serius yang menyentuh masa depan hidup mereka sendiri.
Karena itu, yang dibutuhkan bukan meremehkan kecemasan mereka, melainkan membantu mengubah rasa takut menjadi kesadaran, dan kesadaran menjadi tindakan.
Pada akhirnya, eco-anxiety adalah cermin zaman. Ia menunjukkan bahwa kerusakan lingkungan bukan hanya masalah alam, tetapi juga masalah psikologis dan sosial yang memengaruhi cara generasi muda memandang masa depan . Jika dikelola dengan dukungan yang tepat, kecemasan ini bisa menjadi awal dari lahirnya generasi yang lebih peduli, lebih kritis, dan lebih bertanggung jawab terhadap bumi.
Penulis: Mohamad Naufal Rusydi Mahasiswa Universitas Islam Negri Lampung
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































