Kerap kali, kata-kata menjadi jembatan satu-satunya yang tersisa untuk menghubungkan hiruk-pikuk batin lantaran lengangnya realitas. Melalui kehadirannya ANONIM, RONA PESTA, dan RANUM, saya mencoba untuk membiarkan bahasa bernapas tanpa beban terhadap aturan. Spasi yang porak-poranda, juga struktur yang melompat, merupakan suatu ketetapan bagi saya untuk memotret kejujuran rasa yang sering kali hadir sebagai potongan. Maka, sebelum bait-bait ini sepenuhnya menjadi milik mata yang membacanya, Hadirlah puisi-puisi dari ruang naluri yang berbeda-beda; saya persembahkan sebagai upaya kecil untuk merawat kepingan hikmat yang tersisa
RANUM
Keadaan terbujur berangsur redam
Kosong berbincang sibak mendiang
Terkapar parau kecundang
Hiasi aku terpapar berjiwa
RONA PESTA
Anggap ini tumpang gulma
Harap hardik dengan rimpang
Hinggap runtah
keberagaman duka
Kelagapan suri tauladan perantara rumpang
ANONIM
Kesenjangan hikmat penyair:
Berkutik melalui udara payau
Berselimut binal kobaran
bahwa lekang oleh rentang
Mengubris bait kala imigran terurai
Lekas menghirup
hikayat waktu
Dan lalu berjemur
dalam rabunmu
MAKNA PUISI
1. RANUM Puncak yang lahir dari kepasrahan. Umpama buah terlampau matang, rasa yang tumbuh telah mencapai batas penuh hingga siap luruh dan hancur. Di sinilah letak keikhlasan yang begitu ekstrem; sebuah cara untuk berdamai dengan kekosongan, sekaligus merelakan kemewahan rasa itu menguap ke dalam realitas yang lengang. 2. RONA PESTA Perayaan megah di atas tragedi rasa. Puisi ini memotret kontradiksi batin saat mencintai sesuatu yang tak terjangkau. Alih-alih meratapi kepedihan sebagai luka, ia justru didekap erat dan dibawa ke panggung untuk dirayakan—suatu cara puitis untuk berdansa di atas serpihan rasa sakit. 3. ANONIM Pelenyapan ego yang telah mutlak. Menjadi anonim merupakan kesadaran tertinggi ketika identitas diri tidak lagi menuntut ruang. Tanpa dahaga akan validasi, yang tersisa hanya kekaguman murni serta peleburan diri seutuhnya bersama sunyi.
Syafiq Abdullah Dzakwan adalah penulis muda berusia 13 tahun asal Balikpapan yang kini menetap di Jakarta. Menjadikan kata-kata sebagai jembatan ekspresi batin, Syafiq aktif merawat kepingan hikmat melalui bait-bait puisi yang mandiri dan merdeka
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































