KEDIRI — Menjaga keharmonisan dan kerukunan umat beragama saat ini bukan lagi sekadar tugas eksklusif pemerintah maupun para tokoh agama semata. Lebih dari itu, panggilan moral tersebut menjadi tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat, terkhusus bagi generasi muda yang memegang peranan krusial dalam merawat ruang digital agar senantiasa sehat, aman, konstruktif, serta bebas dari berbagai bentuk provokasi negatif.
Pesan penting tersebut mengemuka dalam kegiatan Dialog Pemuda Lintas Agama yang mengusung tema besar “Saring Sebelum Sharing: Peran Pemuda Lintas Agama Merawat Ruang Digital untuk Mewujudkan Indonesia Rukun, Berdaulat, Adil, dan Makmur”. Acara strategis ini diselenggarakan secara hibrida oleh Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur pada Rabu (28/10).
Pelaksanaan dialog ini diikuti secara antusias oleh perwakilan pemuda dari berbagai latar belakang keyakinan di berbagai daerah. Di Kota Kediri, jajaran pengurus organisasi keagamaan turut berpartisipasi aktif dengan mengikuti jalannya dialog secara daring langsung dari Aula Kantor Kementerian Agama Kota Kediri.
Sekretaris Pimpinan Daerah Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kota Kediri, Asyhari Eko Prayitno, tampak hadir dan mengikuti rangkaian dialog tersebut secara khidmat dari Aula Kantor Kemenag Kota Kediri. Kehadirannya secara daring ini mencerminkan komitmen kuat dan nyata dari lembaga dalam mendukung program penguatan moderasi beragama, meningkatkan literasi digital, serta merajut kerukunan antarumat beragama di tingkat daerah.
Kepala Subbagian Tata Usaha Kanwil Kemenag Jawa Timur, H. Saikhul Hadi, dalam laporan resmi penyelenggaraannya menyampaikan bahwa kegiatan dialog ini dirancang secara khusus untuk mendongkrak peran aktif serta jiwa kepeloporan pemuda lintas agama. Tujuannya agar para pemuda mampu menjadi garda terdepan dalam merawat keharmonisan sosial, terutama di tengah masifnya dinamika interaksi masyarakat di ruang-ruang digital saat ini.
Menurutnya, kemajuan teknologi informasi yang berkembang tanpa henti memang membuka ruang komunikasi yang amat luas tanpa batasan geografis. Kendati demikian, kemudahan akses tersebut wajib diimbangi dengan kecakapan literasi digital yang memadai agar masyarakat, khususnya kalangan muda, tidak mudah terombang-ambing oleh informasi bohong (hoaks), paparan ujaran kebencian, maupun narasi provokatif yang sengaja dihembuskan pihak tak bertanggung jawab guna memicu perpecahan.
Senada dengan hal tersebut, Sekretaris Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Jawa Timur, Kasno Sudaryanto, memberikan apresiasi tinggi atas terselenggaranya dialog lintas agama ini. Ia menilai bahwa forum semacam ini merupakan wadah yang sangat esensial untuk mempertemukan berbagai elemen muda lintas iman guna memperkokoh komitmen kebersamaan dalam menjaga keharmonisan masyarakat.
Lebih lanjut, Kasno berharap agar seluruh substansi materi serta pengalaman berharga yang diperoleh dari forum tersebut tidak berhenti sekadar menjadi wacana di ruang pertemuan, melainkan dapat ditindaklanjuti secara nyata melalui program kerja di masing-masing organisasi kepemudaan. Penguatan kerukunan, menurutnya, adalah sebuah proses berkesinambungan yang menuntut adanya pertukaran pengetahuan secara intensif, komunikasi terbuka, serta kolaborasi erat antarkomunitas.
Melalui dialog interaktif ini, para pemuda lintas agama diajak untuk menanamkan budaya kritis, rasional, serta penuh tanggung jawab tatkala bermedia sosial. Semangat “saring sebelum sharing” diharapkan mampu mengakar kuat dan tumbuh menjadi kebiasaan kolektif sehari-hari. Dengan demikian, ruang digital tidak lagi menjadi sumber keresahan, melainkan bertransformasi menjadi sarana efektif untuk mempererat tali persaudaraan, menyebarkan pesan perdamaian, serta merawat kerukunan umat beragama secara berkelanjutan.
Menanggapi pentingnya peran strategis generasi muda dalam menjaga kondusifitas dunia maya, Sekretaris LDII Kota Kediri, Asyhari Eko Prayitno, menyampaikan pandangan serta dukungan penuhnya. Usai mengikuti kegiatan secara daring dari Aula Kemenag Kota Kediri, ia menegaskan bahwa pemuda harus tampil sebagai agen pencerah yang cakap teknologi.
“Di era digital saat ini, ruang maya sering kali menjadi medan yang sangat rentan terhadap penyebaran hoaks dan provokasi yang berpotensi merusak kerukunan antarumat beragama. Kami dari LDII Kota Kediri sangat menyambut baik dan mendukung penuh gerakan ‘saring sebelum sharing’. Pemuda lintas agama harus cerdas, bijak, dan bertanggung jawab dalam bermedia sosial, serta mampu menjadikan kecanggihan teknologi sebagai sarana memperkuat ukhuwah, menyebarkan kebaikan, dan merawat persatuan bangsa,” ungkap Asyhari Eko Prayitno.
Dengan keterlibatan aktif generasi muda yang memiliki kecakapan digital mumpuni serta berkarakter toleran, cita-cita luhur untuk mewujudkan Indonesia yang rukun, berdaulat, adil, dan makmur diharapkan dapat semakin nyata terwujud—baik dalam realitas kehidupan sosial sehari-hari maupun di dalam ekosistem ruang digital yang aman dan damai.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan, foto, gambar, ilustrasi, apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer





































































