Pemanfaatan Internet of Things (IoT) dalam sektor pertanian berkembang pesat dan kini menjadi salah satu pilar utama dalam konsep pertanian presisi. Teknologi ini memungkinkan proses pemantauan lingkungan dilakukan secara otomatis melalui berbagai sensor yang memberikan data real-time kepada petani. Sistem ini terbukti meningkatkan efisiensi penggunaan air, ketepatan pemupukan, serta stabilitas pertumbuhan tanaman (Dirayati et al., 2025). Dengan meningkatnya kebutuhan produksi pangan, kehadiran IoT menjadi salah satu solusi praktis untuk menjawab tantangan pertanian modern.
Penerapan IoT di tingkat daerah juga mulai menunjukkan hasil positif. Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kota Tangerang mengembangkan uji nutrisi tanah berbasis IoT yang mampu mengukur pH, suhu, kelembapan, dan unsur hara secara otomatis. Data yang terkumpul dikirim ke server dan dapat diakses petani kapan saja. Inovasi ini mempersingkat proses analisis tanah dan mengurangi ketergantungan pada metode manual yang memerlukan tenaga lebih banyak (DKP Kota Tangerang, 2025).
Penelitian Simamarta et al. (2025) menguatkan bahwa IoT sangat bermanfaat dalam sistem pemantauan kesehatan tanah. Pengukuran kelembapan, pH, dan kondisi media tanam yang dilakukan secara berkala melalui sensor berbasis internet membantu petani mengidentifikasi perubahan kualitas tanah sejak dini. Dengan adanya pemantauan berkelanjutan, tindakan pemupukan atau perbaikan kondisi tanah dapat dilakukan lebih tepat waktu dan sesuai kebutuhan tanaman.
IoT juga memiliki peran penting dalam mengembangkan sistem irigasi otomatis. Berbagai penelitian menyebutkan bahwa irigasi berbasis sensor dapat menurunkan penggunaan air secara signifikan karena pompa hanya aktif saat kelembapan tanah turun di bawah ambang tertentu. Pada beberapa studi, efisiensi penggunaan air dapat mencapai 30% lebih hemat dibandingkan metode irigasi manual. Selain itu, penggunaan platform web atau aplikasi seluler memungkinkan petani memantau dan mengendalikan pengairan dari jarak jauh, sehingga tata kelola lahan menjadi lebih efektif (Dirayati et al., 2025).
Penerapan IoT tidak hanya terbatas pada pertanian tanaman pangan. Pada sektor produksi garam, sistem IoT dimanfaatkan untuk memantau kondisi salinitas air di tambak garam secara otomatis. Penelitian oleh Nasution et al. (2024) menunjukkan bahwa penggunaan sensor IoT mampu mendeteksi perubahan kadar garam dan kadar air dengan cepat, sehingga petani dapat mengatur proses penguapan dan panen lebih akurat. Sebelum adanya IoT, pengukuran biasanya dilakukan secara manual dan bergantung pada pengalaman petani, sehingga tingkat kesalahan lebih tinggi.
Selain kemampuan monitoring otomatis, IoT juga mulai diintegrasikan dengan kecerdasan buatan (AI) dan big data untuk menghasilkan prediksi kebutuhan air, rekomendasi pemupukan, hingga peringatan risiko hama dan penyakit. Integrasi ini memungkinkan sistem memberikan saran otomatis berdasarkan pola historis dan kondisi aktual lahan. Data yang dihasilkan IoT kemudian dianalisis oleh algoritma untuk mengidentifikasi tren lingkungan, sehingga petani dapat membuat keputusan berbasis data, bukan sekadar intuisi.
Namun, penerapan IoT juga memiliki tantangan teknis yang harus diperhatikan. Keterbatasan akses internet di wilayah pertanian, kebutuhan kalibrasi sensor secara berkala, ketahanan sensor terhadap cuaca ekstrem, serta biaya perangkat masih menjadi kendala utama bagi sebagian petani. Selain itu, pemahaman petani terhadap teknologi digital perlu ditingkatkan agar sistem IoT dapat digunakan secara optimal (Nasution et al., 2024). Tanpa pendampingan teknis yang memadai, adopsi IoT sering kali terhambat meskipun perangkat sudah tersedia.
Dari sisi ekonomi, berbagai penelitian menunjukkan bahwa IoT dapat mengurangi pemborosan air, pupuk, dan tenaga kerja. Efisiensi ini membantu menekan biaya produksi dan meningkatkan margin keuntungan petani. Selain itu, otomatisasi memungkinkan petani menghemat waktu dan mengurangi ketergantungan pada tenaga kerja manual, terutama pada musim sibuk.
Sumber:
Dirayati, F., Sari, R. A., dan Purnomo, R. F. (2025). Perancangan dan Implementasi Sistem Smart Agriculture Berbasis Internet of Things untuk Meningkatkan Produktivitas Pertanian. Jurnal Media Informatika (JUMIN). Vol. 6(2): 863–872.
Simamarta, A. D., Nisa, V. K., Maulana, R., Parawansa, N., Khairunnisa, I., dan Budiawati, Y. (2025). Penerapan Internet of Things (IoT) untuk Optimasi Manajemen Kesehatan Tanah: Kajian literatur. Hidroponik: Jurnal Ilmu Pertanian dan Teknologi dalam Ilmu Tanaman. Vol. 2(2): 91–107.
Nasution, F. A., Muthmainnah, Nanda, S. A., Fadliani, Ridwan, T. M., dan Nazrul, Z. (2024). Peran Internet of Things (IoT) Dalam Perkembangan Teknologi untuk Petani Garam Tambak Ujung Pusong Jaya. Jurnal Malikussaleh Mengabdi. Vol. 3(2): 410–420.
DKP Kota Tangerang. (2025, Februari 27). Optimalkan Pertanian di Era Digital, DKP Kota Tangerang Lakukan Uji Nutrisi Tanah Berbasis IoT.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer






































































