Kelompok MKWK 120 “Perundungan” USU saat menyampaikan materi edukasi mengenai bahaya nya perundungan di lingkungan akademik kepada siswa SMP Darussalam, Selasa (04/11/2025). |Sumber Istimewa.
Kelompok 120 perundungan proyek Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) Universitas Sumatera Utara (USU) mengadakan edukasi anti-perundungan untuk menciptakan lingkungan akademik yang sehat di lingkungan SMP Darussalam, Kota Medan, Selasa (04/11/2025).
Kegiatan ini bertujuan membangun kesadaran pelajar mengenai bahayanya perundungan agar terciptanya lingkungan akademik yang sehat, aman, nyaman, dan bebas kekerasan. Proyek ini dilatarbelakangi meningkatnya kasus perundungan di lingkungan sekolah, baik secara fisik, verbal, relasional, maupun melalui media sosial. Kelompok 120 perundungan menilai bahwa edukasi sejak dini diperlukan untuk mencegah dampak serius perundungan yang dapat mempengaruhi psikologis, prestasi akademik, dan perkembangan sosial siswa. Melalui sosialisasi interaktif ini, mereka juga menyampaikan penjelasan tentang jenis-jenis perundungan, cara mengenalinya, serta langkah pencegahan dan penanganan yang tepat.
Kegiatan ini diawali dengan pemaparan materi disertai diskusi dua arah bersama siswa. Para siswa terlihat antusias dan aktif mengajukan pertanyaan serta berbagi pengalaman terkait perundungan. Sejumlah siswa mengaku baru memahami bahwa ejekan atau candaan berlebihan dapat menimbulkan luka psikologis mendalam bagi teman (korban). Kelompok 120 perundungan juga menggelar sesi refleksi, ajakan bertindak, serta pembagian hadiah edukatif agar suasana kegiatan tetap kondusif dan menyenangkan.
Kelompok 120 perundungan menyampaikan bahwa proyek ini menjadi ruang pembelajaran bermakna bagi mahasiswa sekaligus bentuk kontribusi nyata bagi masyarakat sekolah. Ketua kelompok, Muhammad Naufal Abiyyu harapannya mengenai proyek ini. “Kami ingin menciptakan lingkungan belajar yang positif dan mendorong siswa untuk saling menghargai, bukan menyakiti. Setelah mengikuti sosialisasi, banyak siswa yang berkomitmen untuk tidak melakukan perundungan dan siap membela teman yang menjadi korban,” ujarnya.
Sementara itu, salah satu guru pendamping SMP Darussalam (Mutia) memberi apresiasi terhadap program ini. Ia menilai kegiatan edukasi anti-perundungan sejalan dengan kebutuhan sekolah saat ini. “Siswa perlu dibekali kemampuan mengenali dan mencegah bullying. Proyek seperti ini sangat membantu penguatan karakter siswa dan semoga dapat terus dilakukan secara berkelanjutan,” ucapnya.
Selain sosialisasi langsung, kelompok 120 perundungan juga menempelkan poster edukatif di mading sekolah dan mengunggah dokumentasi kegiatan berbentuk video di media sosial untuk memperluas jangkauan pesan. Seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar dengan dukungan dari LIDA USU, Merry Alfrida Sitepu, S.H.,M.Kn selaku dosen pembimbing, Alfeus Gilbert Asher Sitompul selaku mentor, Pihak Sekolah, Guru, dan juga Siswa.
Kelompok 120 perundungan sangat berharap kegiatan ini dapat menjadi langkah awal dalam membangun budaya anti-perundungan di sekolah. Ke depannya, diharapkan kolaborasi antara guru, siswa, dan orang tua terus diperkuat agar setiap kasus perundungan dapat ditangani secara cepat dan tepat. Proyek ini juga mempertegas bahwa pembelajaran MKWK USU bukan hanya mengasah kemampuan akademik mahasiswa, tetapi juga menanamkan nilai kemanusiaan, empati, dan kepedulian sosial.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer


































































