Surabaya, 7 Mei 2025 – Tidak hanya sekedar ruang kelas dan buku pelajaran, SMP Santo Yosef Surabaya kembali menunjukkan komitmen dalam membentuk siswa yang tidak hanya cerdas di bidang akademik, tetapi juga kuat, peduli, serta memiliki tanggung jawab terhadap sesama dan lingkungan sekitar. Pada hari Kamis, tanggal 7 Mei 2025, sekolah mengadakan kegiatan sosialisasi yang dihadiri oleh tiga narasumber yang berkompeten berasal dari instansi pemerintah Kota Surabaya, yaitu Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DAMKAR), serta Dinas Lingkungan Hidup (DLH)

Bersiap Sebelum Bencana Datang
Sesi pertama dipandu oleh tim Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surabaya yang memberikan pengetahuan dasar tentang cara mengatasi bencana kepada para siswa. Materi utama yang dibahas adalah teknik perlindungan diri ketika terjadi gempa bumi, yaitu Merunduk, Berlindung, dan Berpegangan. Tiga langkah sederhana tersebut dapat membantu menyelamatkan nyawa. Selain itu, siswa juga diajarkan tentang konsep Tas Siaga Bencana, yaitu kumpulan barang darurat yang seharusnya disiapkan oleh setiap keluarga sebagai persiapan menghadapi kondisi tak terduga.

Ibu Nadia selaku pembicara dari pihak BPBD juga mengingatkan bahwa ancaman di lingkungan sekolah tidak hanya bersifat alam. “Biasanya kalau anak-anak masih labil, itu kan suka berantem sama temennya, terus bully-bullyan. Itu salah satu yang harus kita perhatikan juga, karena kalau sampai menimbulkan korban, itu juga masuk ke dalam bencana sosial,” ujarnya.
Pesan penutup yang ia titipkan kepada seluruh siswa pun penuh makna. “Intinya, kalau kita bicara soal bencana itu, kita harus terus meningkatkan literasi. Kesiapsiagaan diri sendiri, itu yang bisa mengantar kita untuk selamat ketika terjadi bencana. Kita nggak bisa bergantung, keselamatan kita digantungin ke orang lain itu nggak bisa.“
Materi ini bukan sekadar teori. Dalam semangat nilai Pengembangan Karakter Siswa dan Kompetensi Tarakanita, siswa didorong untuk tidak hanya memahami, tetapi juga siap secara nyata dan memiliki semangat juang dalam menghadapi berbagai tantangan, termasuk bencana alam.

Mengenal Api, Mencegah Bencana
Sesi kedua dipandu oleh Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DAMKAR) Kota Surabaya. Para siswa memperoleh pemahaman yang lebih dalam mengenai pentingnya tetap waspada terhadap ancaman kebakaran. Narasumber mengatakan bahwa kota Surabaya saat ini telah memiliki 24 titik pos pemadam kebakaran yang siap siaga, serta nomor darurat 112 yang dapat dihubungi kapan saja.
Siswa juga diajarkan tentang Teori Segitiga Api, yang merupakan konsep ilmiah yang menjelaskan tiga faktor utama yang dapat memicu terjadi kebakaran, yaitu panas, bahan bakar, dan oksigen. Tak berhenti sampai situ, petugas juga menjelaskan berbagai penyebab terjadinya kebakaran, mulai dari kesalahan manusia, faktor alam, hingga faktor teknis. Sebagai bekal praktis, siswa diperkenalkan dengan tiga jenis alat pemadam api ringan (APAR), yaitu jenis dry powder, CO₂, dan gas cair.

Bapak Sujarwanto selaku pembicara dari pihak Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Surabaya menyampaikan apresiasinya terhadap kesiapan sekolah. “Fasilitas APAR sudah bagus, sudah rapih, bersih, dan tertata,” ungkapnya. Ia pun berharap kegiatan serupa dapat terus berlanjut secara berkesinambungan. “Secara umum, keselamatan sekolah tidak hanya tanggung jawab tim pengajar dan penjaga, semua yang ada di sekolah termasuk siswa-siswi juga bisa terlibat menjaga keamanan, termasuk keamanan dari kebakaran,” tegasnya.
Kegiatan ini selaras dengan semangat kreativitas dan kompetensi dalam nilai Tarakanita, di mana siswa diberikan kesempatan untuk mengeksplorasi pengetahuan baru yang berguna untuk menjaga keselamatan diri serta orang-orang di sekitarnya.
Menjaga Bumi, Wujud Cinta Kasih yang Nyata
Sesi ketiga yang tidak kalah menarik datang dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, yang membuka wawasan para siswa tentang realita pengelolaan sampah di kota mereka. Fakta mengejutkan terungkap bahwa setiap hari, TPA Benowo menerima sekitar 600 ton sampah yang selanjutnya diolah menjadi energi oleh Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTS) dengan kapasitas pengolahan hingga 1.000 ton per hari.
Siswa diajarkan untuk memahami pentingnya memilah sampah sesuai dengan jenisnya. Sampah anorganik dapat dibawa ke bank sampah untuk diolah kembali menjadi barang berguna. Sampah organik bisa diubah menjadi kompos melalui proses budidaya maggot atau penimbunan secara alami. Sementara itu, sampah B3 yang termasuk bahan berbahaya dan beracun harus dikelola dengan cara yang khusus dan aman.
Pemahaman tersebut merupakan bentuk nyata dari nilai-nilai KPKC, Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan yang menjadi dasar pembentukan karakter siswa Santo Yosef. Menjaga kebersihan serta kelestarian lingkungan bukan hanya tanggung jawab semata, tetapi juga merupakan wujud rasa peduli dan kasih sayang terhadap sesama makhluk hidup serta bumi yang kita tinggali bersama.
Kegiatan sosialisasi ini disambut antusias oleh para siswa yang hadir. Vandita, salah satu siswi yang diwawancarai usai kegiatan, mengungkapkan kesannya dengan sederhana namun tulus, “Seru, materinya nggak bikin bosan.” Rekannya Yuanita juga menambahkan bahwa sosialisasi ini membawa manfaat nyata, “Jadi lebih waspada kalau ada bencana nanti.“

Ketika ditanya apakah sosialisasi ini membuat mereka lebih siap menghadapi situasi darurat, Ketiga siswa yaitu Vandita, Yuanita, dan Aisy kompak menjawab bisa. “Benar-benar penting ya untuk sekolah ini,” demikian pula yang mereka akui.
Kegiatan ini mencerminkan visi SMP Santo Yosef Surabaya sebagai institusi pendidikan yang sungguh-sungguh dalam membentuk karakter siswanya. Sekolah tidak hanya bertujuan mencapai prestasi akademik, tetapi juga menjadi tempat membentuk karakter siswa yang kuat, kritis, dan penuh empati.
Sejalan dengan nilai-nilai Kristiani yang menjadi dasar dari Yayasan Tarakanita, para siswa dihimbau untuk selalu berterima kasih atas kehidupan yang dimiliki, mempercayakan setiap langkah kepada Tuhan, serta memperlihatkan kasih melalui perbuatan nyata, salah satunya dengan menjaga kesehatan diri sendiri, orang lain, serta lingkungan sekitar.
Diliput oleh: Tim Liputan Mahasiswa UNESA
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer


































































