BANDUNG – Banyak orang masih memandang dunia peternakan sebagai bidang yang identik dengan pekerjaan lapangan, lingkungan yang keras, dan dominasi laki-laki. Namun di tengah pandangan tersebut, Dea Amara Syahfitri membuktikan bahwa perempuan juga mampu berkembang, memimpin, dan membawa perspektif baru dalam dunia peternakan modern.
Berangkat dari latar belakang keluarga peternakan, Dea tidak hanya berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana dalam waktu 3,5 tahun dengan predikat cumlaude, tetapi juga melanjutkan perjalanan akademiknya melalui program fast track S1–S2 di Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran. Di saat yang sama, ia juga memperluas pengalaman hingga tingkat internasional melalui program Global Volunteer AIESEC di Thailand selama dua bulan.
Perjalanan tersebut bukan hanya tentang pencapaian akademik, tetapi tentang keberanian seorang perempuan untuk keluar dari zona nyaman, memahami dunia lebih luas, dan terus berkembang melalui setiap proses kehidupan.
-Tumbuh Bersama Dunia Peternakan-
Dea Amara Syahfitri berasal dari keluarga yang telah lama bergerak di bidang peternakan. Sejak kecil, ia sudah akrab dengan lingkungan peternakan melalui aktivitas sang ayah yang berkecimpung dalam bisnis tersebut.
Kedekatan itu perlahan menumbuhkan rasa penasaran dan ketertarikan yang semakin besar terhadap dunia peternakan. Baginya, peternakan bukan hanya tentang memelihara hewan, tetapi tentang sistem, tanggung jawab, manajemen, dan hubungan antara manusia dengan makhluk hidup lainnya.
“Dari kecil saya sering melihat bagaimana ayah menjalankan usaha peternakan. Dari situ saya merasa tertarik untuk memahami dunia peternakan lebih dalam, terutama bagaimana sistem produksi dan pengelolaannya berjalan,” ungkap Dea.
Ketertarikan tersebut akhirnya membawanya memilih Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran sebagai tempat untuk mengembangkan ilmu dan masa depannya.
-Perempuan di Dunia yang Penuh Tantangan-
Sebagai perempuan, Dea menyadari bahwa dunia peternakan masih sering dipandang sebagai bidang yang cukup menantang. Banyak pekerjaan lapangan yang identik dengan aktivitas fisik dan lingkungan kerja yang didominasi laki-laki.
Namun bagi Dea, hal tersebut bukan alasan untuk merasa terbatas.
“Tentu pernah merasa bahwa dunia peternakan dipandang cukup berat untuk perempuan. Tetapi menurut saya, perempuan juga memiliki kemampuan yang sama untuk berkembang selama mau belajar dan beradaptasi,” jelasnya.
Ia justru melihat bahwa perkembangan peternakan modern membutuhkan lebih dari sekadar tenaga fisik. Dunia peternakan saat ini membutuhkan kemampuan manajemen, komunikasi, inovasi, penelitian, hingga kemampuan memahami animal welfare secara lebih komprehensif.
Menurutnya, perempuan memiliki ketelitian, sensitivitas, dan kemampuan adaptasi yang dapat memberikan kontribusi besar dalam perkembangan industri peternakan masa depan.
-Menjalani Fast Track di Tengah Banyak Tanggung Jawab-
Perjalanan akademik Dea bukanlah proses yang berjalan tanpa tantangan. Selama menjalani perkuliahan sarjana, ia aktif dalam organisasi, pengembangan diri, hingga kegiatan internasional.
Di tengah berbagai aktivitas tersebut, ia berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana dalam waktu sekitar 3,7 tahun dengan predikat cumlaude, sambil mulai menjalani perkuliahan magister melalui program fast track.
Menurut Dea, tantangan terbesar selama kuliah adalah ketika harus menjalani ritme akademik yang sangat padat dalam waktu bersamaan.
“Salah satu tantangan terbesar adalah ketika saya masih menjalani perkuliahan S1 dengan mata kuliah yang cukup padat, tetapi di saat yang sama juga sudah mulai menjalani perkuliahan S2 melalui program fast track. Bersamaan dengan itu, saya juga harus menyelesaikan penelitian dan tetap aktif di organisasi,” tuturnya.
Situasi tersebut membuatnya belajar banyak tentang manajemen waktu, disiplin, dan pengelolaan mental.
Baginya, menjaga konsistensi bukan berarti selalu kuat setiap saat, tetapi tentang bagaimana tetap melanjutkan proses meskipun sedang lelah.
“Tentu pernah merasa lelah dan ingin menyerah. Tetapi saya belajar bahwa beristirahat juga penting agar kita bisa kembali menjalani semuanya dengan lebih baik,” katanya.
-Membawa Semangat Pendidikan hingga Thailand-
Salah satu pengalaman yang paling membentuk cara pandang Dea adalah ketika mengikuti program Global Volunteer dari AIESEC di Thailand selama delapan minggu. Program tersebut berfokus pada Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 4 tentang quality education.
Dalam program tersebut, Dea mengajar bahasa Inggris untuk anak-anak di daerah pedesaan Thailand. Namun baginya, pengalaman itu jauh lebih besar daripada sekadar mengajar.
Ia belajar tentang adaptasi budaya, komunikasi lintas negara, hingga memahami bagaimana pendidikan dapat menjadi sesuatu yang sangat berarti dalam kehidupan seseorang.
“Saya ingin mencoba keluar dari zona nyaman dan melihat bagaimana kehidupan serta pendidikan berjalan di negara lain. Dari situ saya belajar banyak tentang cara berpikir, budaya, dan bagaimana memahami orang lain dengan lebih terbuka,” jelasnya.
Selama berada di Thailand, Dea tidak hanya menghadapi tantangan budaya dan bahasa, tetapi juga pengalaman kehilangan barang penting serta rasa homesick karena jauh dari keluarga. Namun di balik semua itu, ia menemukan banyak pelajaran hidup yang membentuk dirinya menjadi lebih dewasa.
Salah satu momen yang paling membekas baginya adalah ketika melihat anak-anak yang awalnya malu berbicara bahasa Inggris perlahan mulai berani dan percaya diri.
“Hal sederhana seperti melihat mereka mulai berani berbicara ternyata menjadi pengalaman yang sangat membekas bagi saya,” ungkapnya.
Pengalaman internasional tersebut membuat Dea semakin memahami bahwa pendidikan bukan hanya tentang nilai akademik, tetapi juga tentang membangun rasa percaya diri dan lingkungan belajar yang suportif.
-Tentang Proses, Tekanan, dan Bertumbuh-
Di balik berbagai pencapaian yang dimiliki, Dea tetap melihat dirinya sebagai seseorang yang masih terus belajar.
Ia percaya bahwa setiap proses, baik menyenangkan maupun sulit, selalu membawa pelajaran yang membentuk karakter seseorang menjadi lebih kuat dan dewasa.
Menurutnya, berprestasi bukan hanya soal penghargaan atau pengakuan dari orang lain.
“Berprestasi bukan hanya tentang nilai atau pencapaian yang terlihat. Berprestasi juga berarti bagaimana seseorang terus berkembang, mau belajar dari proses, dan mampu memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitarnya,” ujarnya.
Prinsip tersebut menjadi alasan mengapa ia terus mendorong dirinya untuk mencoba berbagai kesempatan baru, termasuk pengalaman internasional dan pengembangan akademik di bidang animal welfare yang saat ini menjadi fokus ketertarikannya.
-Perempuan yang Tidak Berhenti Berkembang-
Ke depan, Dea ingin terus berkembang baik secara akademik maupun personal. Ia berharap dapat memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya animal welfare dalam perkembangan peternakan modern Indonesia.
Namun lebih dari itu, ia ingin dikenal sebagai pribadi yang terbuka terhadap banyak hal baru dan tidak berhenti belajar.
Baginya, keberanian keluar dari zona nyaman sering kali menjadi titik awal dari perubahan besar dalam hidup seseorang.
“Kadang pengalaman yang paling mengubah diri kita justru datang dari hal-hal yang awalnya terasa asing dan menantang,” katanya.
Perjalanan Dea Amara Syahfitri menjadi bukti bahwa perempuan di dunia peternakan tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga mampu berkembang, membawa perspektif global, dan menjadi bagian dari perubahan masa depan peternakan Indonesia.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































