Baunya tengik, warnanya legam, tapi selama ini tak banyak yang tahu cara memanfaatkannya lebih dari itu. Begitulah nasib minyak jelantah di dapur-dapur warga Nagari Simpang Sugiran. Minyak itu dipakai berkali-kali sampai keruh, lalu berakhir menumpuk di pojok dapur sebelum akhirnya dibuang begitu saja.
Kegiatan penyuluhan berlangsung hangat dan akrab di salah satu rumah warga. Belasan ibu rumah tangga antusias mengikuti penjelasan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Negeri Padang (UNP) lewat diskusi yang interaktif. Peserta diajak memahami bahwa minyak jelantah yang selama ini tidak terlalu di hiraukan, ternyata bisa berdampak bagi kesehatan dan lingkungan jika digunakan atau dibuang secara tidak tepat. Di sisi lain, mereka juga diperkenalkan dengan inovasi pengolahan minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi bernilai ekonomi, sehingga limbah rumah tangga bisa berubah menjadi produk bermanfaat sekaligus menambah pendapatan keluarga.

“Biasanya diletakkan saja di tempat kayak botol gitu, terus disimpan saja. Kadang dibuang saja, kadang kalau belum terlalu hitam dipake lagi, atau kadang dipakai juga buat umpan api,” kata Ante Ari, salah satu peserta yang diwawancarai usai kegiatan workshop.
Anggapan itu, menurut mahasiswa KKN, justru berisiko. Minyak goreng yang dipanaskan berulang kali kehilangan kualitasnya dan mulai menghasilkan senyawa seperti radikal bebas, lemak trans, dan aldehida, yaitu zat yang bila terus-menerus masuk tubuh meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, hipertensi, hingga diabetes. Belum lagi kalau dibuang ke selokan atau tanah: minyak yang tak larut air ini mengendap, menyumbat saluran, mencemari sungai hingga mengganggu kehidupan organisme air, serta merusak kesuburan tanah di sekitarnya.
Berangkat dari persoalan itu, mahasiswa KKN UNP menggelar Workshop Pembuatan Lilin Aromaterapi dari Minyak Jelantah pada 19 Juli 2026, mengajak warga mengubah limbah dapur itu menjadi produk yang justru bisa dijual. Kegiatan ini didukung penuh oleh pemerintah Nagari Simpang Sugiran, mulai dari penyediaan tempat tinggal bagi mahasiswa selama masa pengabdian hingga fasilitas lokasi untuk pelaksanaan program kerja, ditambah dukungan dari Bundo Kanduang dan kader setempat.

Prosesnya ternyata tidak instan. Minyak jelantah lebih dulu disaring, lalu direndam bersama bubuk arang semalaman untuk menghilangkan bau tengik. Setelah itu disaring ulang, minyak dimasak dengan bleaching earth agar benar-benar jernih, didiamkan lagi seharian penuh, baru kemudian dicampur stearic acid dan palm wax dengan perbandingan 1:1, diberi pewangi serta pewarna sesuai selera, dan dituang ke cetakan kecil. Total prosesnya memakan waktu kurang lebih tiga hari sebelum lilin benar-benar siap dinyalakan. Prosesnya jauh dari kesan “asal jadi” yang sering melekat pada produk daur ulang.
Mahasiswa juga membekali peserta dengan hitung-hitungan sederhana agar produk ini bukan sekadar kerajinan iseng. Modal awal sekitar Rp108.500 ini mencakup cup, essential oil, bleaching earth, palm wax, dan sumbu, dan bisa menghasilkan 50 lilin dengan harga pokok produksi sekitar Rp2.200 per lilin. Dijual seharga Rp7.000 saja, tiap lilin sudah mengantongi untung sekitar Rp4.800; jika dikemas lebih cantik dan dilego Rp10.000, untungnya membengkak jadi sekitar Rp7.800.
“Programnya sangat bagus dan bermanfaat bagi masyarakat. Kehadiran mahasiswa sangat membantu kami dalam pemberdayaan di lingkungan nagari, apalagi UMKM yang sebelumnya kesulitan soal pemasaran, sekarang jadi lebih mudah menjangkau pasar yang lebih luas lewat media,” ujar Sekretaris Nagari Simpang Sugiran,Pak Ade.
Ke depan, ibu-ibu peserta pelatihan berencana melanjutkan produksi lilin ini sebagai usaha rumahan, mulai dari suvenir, hampers, hingga dijual online maupun dititipkan di warung-warung sekitar nagari. Rencana ini turut disambut pemerintah nagari, yang akan mengevaluasi program ini untuk pengembangan ekonomi produktif warga, termasuk mempertimbangkan dukungan dana nagari sesuai regulasi yang berlaku agar usaha ini terus berkembang.
“Untuk mahasiswa KKN, hati-hati di jalan nanti pulangnya. Semoga semangat mengabdi kepada masyarakat tidak berhenti meskipun sudah tidak lagi jadi mahasiswa. Untuk warga Simpang Sugiran, mari laksanakan dan kembangkan program-program yang sudah dirintis ini dengan sebaik-baiknya, supaya usaha dan nagari kita bisa lebih maju,” pesannya menutup perbincangan.
Bagi mahasiswa KKN UNP sendiri, pesan yang ingin mereka tinggalkan sederhana: kurangi limbah, ciptakan manfaat, dan tambah nilai. Sebagaimana falsafah Minangkabau yang mereka pegang selama mengabdi di nagari ini, “basamo mangko manjadi”, yang berarti bersama-sama, barulah sesuatu benar-benar terwujud.
Kelompok KKN UNP Nagari Simpang Sugiran, 19 Juli 2026
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer




































































