GROBOGAN— Sebanyak 40 ibu balita di Desa Tlogorejo, Kecamatan Tegowanu, Kabupaten Grobogan, mengikuti kegiatan edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sebagai upaya meningkatkan pemahaman masyarakat dalam mencegah stunting. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat tersebut dilaksanakan pada 11 Agustus 2026 dengan pendekatan edukasi partisipatif selama sekitar dua jam.
Kegiatan tersebut menempatkan ibu balita sebagai peserta aktif melalui penyampaian materi, diskusi, tanya jawab, serta berbagi pengalaman mengenai kondisi kesehatan dan pemenuhan gizi keluarga. Materi disampaikan oleh tim KKN menggunakan media PowerPoint yang membahas sejumlah aspek penting dalam pencegahan stunting.
Materi yang diberikan meliputi pengertian stunting dan dampaknya terhadap pertumbuhan anak, konsep 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), 10 indikator PHBS di rumah tangga, pemenuhan gizi ibu dan anak, strategi pemberian ASI dan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI), pemanfaatan kearifan lokal, peran keluarga, hingga praktik PHBS dalam kehidupan sehari-hari.
Pemilihan Desa Tlogorejo sebagai lokasi kegiatan berkaitan dengan kondisi stunting yang masih menjadi perhatian di wilayah tersebut. Berdasarkan kegiatan Rembug Stunting yang dilaksanakan pada 1 Juli 2026, tercatat 16 anak terindikasi stunting dan tujuh ibu hamil mengalami kondisi kekurangan energi kronis. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya upaya pencegahan yang melibatkan keluarga, kader kesehatan, dan masyarakat.

Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya 1.000 HPK sebagai periode penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Periode tersebut mencakup 270 hari masa kehamilan dan 730 hari kehidupan bayi. Selain itu, peserta diperkenalkan dengan berbagai indikator PHBS, seperti persalinan di fasilitas kesehatan, pemberian ASI eksklusif, penggunaan jamban sehat, mencuci tangan dengan sabun, penyediaan air minum yang aman, pengelolaan sampah, imunisasi lengkap, pemberian MP-ASI secara higienis, tidur yang layak, serta pemantauan tumbuh kembang anak.
Pendekatan partisipatif membuat kegiatan tidak hanya berfokus pada penyampaian informasi. Peserta diberikan ruang untuk menyampaikan pengalaman dan kendala yang mereka hadapi dalam menerapkan PHBS, memenuhi kebutuhan gizi keluarga, serta memberikan ASI dan MP-ASI. Interaksi tersebut juga membuka kesempatan bagi peserta untuk bertukar pengalaman dengan kader posyandu dan tim pelaksana.
Dalam sesi diskusi, sejumlah ibu balita menyampaikan berbagai persoalan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari, termasuk kesulitan memberikan MP-ASI yang bergizi, mengakses air bersih, dan menerapkan kebiasaan mencuci tangan menggunakan sabun. Peserta yang sebelumnya cenderung pasif mulai terlibat dalam diskusi setelah sesi tanya jawab dibuka.
Kegiatan juga mendorong peserta untuk menerapkan PHBS di lingkungan rumah tangga. Salah satu kebiasaan yang ditekankan adalah mencuci tangan menggunakan sabun sebelum menyiapkan makanan dan memberikan makanan kepada anak. Selain itu, peserta didorong untuk memanfaatkan pangan lokal, seperti kacang, ikan kecil, dan sayuran berdaun, sebagai bagian dari pemenuhan kebutuhan gizi balita.

Dampak edukasi tidak hanya dirasakan oleh ibu balita. Keluarga luas, termasuk nenek dan paman, juga dinilai memiliki peran dalam menentukan praktik pemberian makanan kepada anak. Karena itu, peningkatan pemahaman mengenai 1.000 HPK dan PHBS diharapkan dapat diterapkan secara lebih luas di lingkungan keluarga.
Meski demikian, kegiatan tersebut memiliki keterbatasan. Pelaksanaan yang hanya berlangsung selama dua jam dinilai belum cukup untuk menghasilkan perubahan perilaku PHBS secara signifikan. Selain itu, kegiatan tidak menggunakan instrumen pre-test dan post-test sehingga perubahan pengetahuan peserta tidak dapat diukur secara kuantitatif. Evaluasi yang dilakukan lebih menggambarkan perubahan pemahaman dan respons peserta selama kegiatan.
Untuk menjaga keberlanjutan upaya pencegahan stunting, kegiatan tersebut merekomendasikan pendampingan secara berkelanjutan oleh kader posyandu dan perangkat desa. Kerja sama dengan puskesmas untuk edukasi rutin di Posyandu serta kegiatan bagi ibu balita, seperti demonstrasi memasak MP-ASI berbahan pangan lokal, juga direkomendasikan.
Kegiatan edukasi PHBS di Desa Tlogorejo menunjukkan bahwa keterlibatan masyarakat dapat menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan stunting. Edukasi mengenai 1.000 HPK, PHBS, gizi ibu dan anak, serta ASI dan MP-ASI diharapkan dapat menjadi pengetahuan yang diterapkan dalam kehidupan keluarga secara berkelanjutan.
Penulis: Inas Musrifah Sari, Hanif Putra Indrayana, Mochamad Luqman Hakim, M. Faisol Agies, Dzaki Hibatullah Tanoeredja, Mey Roziana, Mila Danila, Novita Setyorini, Nabila Riski Anggraeni, Setyani Sekar Pinasti, Stevi Aulia Maharani Putri, Sifa Aulia Safitri, Akhmad Mustofa – Universitas Muhammadiyah Semarang
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan, foto, gambar, ilustrasi, apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer









































































