Matahari perlahan muncul di balik dan diantara pegunungan. Sinar berwarna keemasan menyentuh pepohonan, sementara kabut tipis menggantung di antara bukit. Dari ketinggian, gunung-gunung terlihat seperti susunan siluet yang membentang tanpa ada batas. Pemandangan seperti inilah yang sering membuat seseorang rela bangun sebelum matahari terbit, berjalan dalam gelap, kemudian menunggu berjam-jam hanya untuk mendapatkan satu momen yang dianggap sempurna.
Foto pemandangan gunung yang kita lihat terdapat perjalanan, alam, serta pengalaman yang jauh lebih panjang. Sayangnya, dalam perkembangan media sosial saat ini, pengalaman menikmati alam terkadang justru berakhir pada pertanyaan yang sederhana: “Fotonya sudah bagus belum?”
Gunung seolah tidak lagi hanya menjadi tempat atau wadah untuk menikmati alam. Ia juga menjadi latar belakang untuk menunjukkan pengalaman, gaya hidup, bahkan identitas seseorang di media sosial. Foto sunrise, lautan awan, tenda di atas gunung, hingga pemandangan dari puncak dengan cepat berubah menjadi konten yang dapat dibagikan kepada banyak orang.
Fenomena tersebut sebenarnya tidak sepenuhnya salah. Media sosial dapat membantu memperkenalkan destinasi wisata alam kepada masyarakat yang lebih luas. Situs resmi Indonesia Travel, misalnya, juga menjadikan panorama sunrise dan lanskap pegunungan sebagai bagian dari daya tarik berbagai destinasi pendakian di Indonesia. Gunung Prau, Gunung Bismo, hingga Gunung Sindoro atau Sumbing dipromosikan antara lain melalui pengalaman menikmati panorama alam serta matahari terbit.
Persoalannya muncul ketika keinginan untuk mendapatkan pengalaman yang “instagramable” tidak diimbangi dengan kesadaran bahwa gunung bukan sekadar ruang untuk menghasilkan foto. Alam juga memiliki batas. Jalur pendakian, tumbuhan, satwa, sumber air, serta lingkungan sekitar merupakan bagian dari ekosistem yang keberadaannya tidak bisa digantikan hanya karena ulah manusia ingin mendapatkan pemandangan yang bagus.
Masalah sampah menjadi salah satu contoh yang memperlihatkan persoalan tersebut. Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem mencatat bahwa sampah merupakan salah satu persoalan di kawasan wisata, termasuk kawasan konservasi dan jalur pendakian. Pengelolaan sampah tidak hanya menjadi tanggung jawab pengelola, tetapi juga membutuhkan kesadaran dari pengunjung dan masyarakat sekitar.
Bahkan, persoalan tersebut bukan sesuatu yang hanya terjadi dalam teori. Pada Februari 2025, Kompas.com memberitakan keresahan pendaki senior Djukardi Adriana atau Abah Bongkeng mengenai kondisi sejumlah gunung di Indonesia yang masih ditemukan banyak sampah. Ia juga menekankan pentingnya etika dalam pendakian serta menjaga kondisi alam agar tetap lestari.
Artinya, semakin populernya wisata pendakian seharusnya tidak hanya dilihat sebagai kabar baik bagi para sektor pariwisata. Popularitas juga membawa konsekuensi. Semakin banyak orang datang, semakin besar pula kebutuhan untuk mengatur jumlah pengunjung, mengelola sampah, menyediakan fasilitas yang memadai, serta memberikan edukasi mengenai perilaku wisata yang bertanggung jawab.
Contohnya dapat dilihat dari pengelolaan Gunung Rinjani. Pada tahun 2025, Balai Taman Nasional Gunung Rinjani menerapkan konsep zero waste untuk mengurangi potensi sampah yang dibawa ke kawasan pendakian. Penutupan pendakian pada periode tertentu juga dilakukan sebagai bagian dari upaya memberikan waktu untuk pemulihan lingkungan.
Menurut saya, dari sinilah kita perlu belajar serta mengubah cara melihat pendakian. Mendaki gunung tidak seharusnya hanya menjadi perlombaan untuk mendapatkan foto terbaik, jumlah likes terbanyak, atau membuktikan bahwa kita pernah berada di suatu tempat. Foto memang dapat menjadi cara untuk mengabadikan pengalaman, tetapi foto seharusnya tidak menghilangkan kesadaran bahwa ada alam yang harus tetap dijaga setelah kamera dimatikan.
Sebab, keindahan dalam foto yang kita lihat hari ini bukan sesuatu yang muncul begitu saja. Ada hutan yang tumbuh, pepohonan yang menjaga tanah, kabut yang terbentuk, udara yang bersih, serta ekosistem yang bekerja jauh sebelum manusia datang membawa kamera. Kalau semua itu rusak karena ulah manusia yang hanya ingin menikmati keindahannya tanpa menjaga keberadaannya, pada akhirnya kita hanya akan memiliki foto tentang sesuatu yang sudah tidak lagi sama.
Maka, mungkin pertanyaan yang lebih penting setelah melihat foto sunrise seperti ini bukan hanya “Di mana tempatnya?” atau “Bagaimana cara mendapatkan foto seperti itu?”, melainkan “Apa yang bisa kita lakukan agar pemandangan seperti ini masih dapat dinikmati orang lain di masa depan?”
Karena pada akhirnya, gunung tidak membutuhkan kita untuk mengabadikannya. Kitalah yang membutuhkan gunung untuk terus selamanya ada.
Penulis: Decitra Prasetyo
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan, foto, gambar, ilustrasi, apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer










































































