
Mengusung tema “NgabubuReads: Dari Buku Ke Buka”, kegiatan ini diselenggarakan dalam suasana bulan suci Ramadan, sebuah waktu yang tidak hanya dimaknai sebagai ibadah menahan lapar dan haus, tetapi juga sebagai kesempatan memperkuat nilai kebersamaan, silaturahmi, serta refleksi diri. Melalui konsep ngabuburit yang produktif, peserta diajak mengisi waktu menjelang berbuka puasa dengan aktivitas yang bernilai intelektual dan spiritual, yakni membaca dan mendiskusikan buku. Tema ini merefleksikan pesan bahwa Ramadan dapat menjadi ruang perjumpaan antara penguatan iman dan penguatan literasi—bahwa menunggu waktu berbuka dapat diisi dengan memperkaya pikiran sekaligus mempererat hubungan sosial.

Rangkaian kegiatan diawali dengan baca buku bersama, di mana peserta dari berbagai latar usia—anak-anak, remaja, hingga dewasa—membaca buku pilihan masing-masing dalam suasana yang tenang dan kondusif. Kegiatan ini tidak sekadar membaca secara individual, melainkan membangun atmosfer kolektif bahwa membaca adalah aktivitas yang dapat dilakukan bersama dan menjadi budaya. Setelah sesi membaca, acara dilanjutkan dengan diskusi terbuka, memberikan ruang bagi peserta untuk menyampaikan gagasan, kesan, dan refleksi atas bacaan mereka. Diskusi ini menjadi wadah pertukaran pemikiran yang sehat dan inklusif, sekaligus melatih keberanian berpendapat serta kemampuan berpikir kritis.

Sebagai bagian dari refleksi Ramadan, peserta juga diajak menuliskan “kertas harapan”, sebuah sesi simbolik di mana setiap individu menuangkan harapan, cita-cita, maupun komitmen pribadi terhadap budaya membaca dan pengembangan diri. Kertas-kertas tersebut menjadi representasi bahwa literasi bukan sekadar kegiatan sesaat, melainkan perjalanan jangka panjang yang memerlukan kesadaran dan konsistensi. Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan buka puasa bersama, memperkuat makna kebersamaan yang menjadi inti dari acara ini. Momen berbagi hidangan sederhana tersebut menjadi simbol bahwa literasi dan kebersamaan dapat berjalan beriringan.
Kolaborasi antara komunitas dan toko buku dalam kegiatan ini menunjukkan bahwa peningkatan minat baca tidak dapat dilakukan secara parsial. Dibutuhkan kerja sama berbagai pihak—komunitas, pelaku usaha perbukuan, dan masyarakat—untuk menciptakan ekosistem literasi yang hidup dan berkelanjutan. Kehadiran Gramedia Cileungsi sebagai ruang pelaksanaan kegiatan sekaligus mitra strategis memperlihatkan bahwa toko buku tidak hanya berfungsi sebagai tempat transaksi, tetapi juga sebagai ruang edukasi dan interaksi publik.

Melalui penyelenggaraan NgabubuReads, diharapkan tumbuh kesadaran kolektif bahwa membaca adalah kebutuhan dasar dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Kegiatan ini menjadi langkah kecil namun bermakna dalam mendorong Cileungsi sebagai kecamatan yang semakin peduli terhadap buku dan literasi. Harapannya, inisiatif semacam ini dapat terus berlanjut dan berkembang, menghadirkan lebih banyak ruang baca, diskusi, dan kolaborasi di masa mendatang, sehingga budaya membaca tidak berhenti sebagai wacana, melainkan menjadi gerakan nyata yang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas.