Ada mimpi yang diperjuangkan dengan penuh keyakinan. Ada pula mimpi yang terus dirawat meski berkali-kali terasa mustahil untuk diraih.
Adila Azfar Putri Nurohman, murid kelas XII E MAN 1 Yogyakarta, mengenal perasaan yang kedua. Tahun ini, ia berhasil lolos Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026 dan diterima di Program Studi Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (UGM). Namun perjalanan menuju titik itu tidaklah mudah.
Saat banyak orang melihat hasil akhirnya, sedikit yang mengetahui bahwa Adila pernah berulang kali menangisi hasil tryout. Skor yang diperoleh sering kali berada di bawah target. Rasionalisasi menunjukkan peluang yang kecil untuk masuk jurusan impian, sementara teman-teman di sekelilingnya tampak melangkah lebih jauh.
“Kalau harus menggambarkan perjuangan menuju SNBT dengan satu kata, mungkin ‘gila’,” ungkapnya.
Bukan karena materi yang terlalu sulit atau jadwal belajar yang terlalu padat. Yang paling berat justru pertarungan di dalam dirinya sendiri. Adila kerap dihantui rasa takut gagal, takut mengecewakan ayah dan bunda, bahkan takut menjadi beban bagi orang tuanya.
Di tengah berbagai keraguan itu, Adila menemukan cara bertahan yang tidak selalu berkaitan dengan buku atau latihan soal. Ia memilih mendekat kepada Allah. Bagi Adila, keberhasilannya hari ini bukan semata hasil kerja keras di meja belajar. Ia bahkan mengaku tidak pernah memaksakan diri untuk belajar hingga larut malam. Sebaliknya, ia berusaha belajar semaksimal yang mampu dilakukan, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Ia memiliki prinsip sederhana: jika merasa kalah di jalur dunia, jangan sampai kalah di jalur langit. Keyakinan itu menjadi pegangan setiap kali hasil tryout kembali mengecewakan. Perlahan, ia belajar menerima bahwa hasil terbaik tidak selalu datang sesuai perhitungan manusia.
Perubahan terbesar yang ia rasakan selama masa persiapan SNBT bukanlah peningkatan kemampuan akademik, melainkan hubungan yang semakin dekat dengan Sang Pencipta. Ia semakin yakin bahwa tidak ada mimpi yang terlalu besar bagi Allah dan tidak ada hasil yang perlu dikhawatirkan secara berlebihan.
Momen yang paling ditunggu akhirnya tiba ketika pengumuman SNBT dibuka. Di ruang keluarga, ditemani ayah dan bunda, Adila melihat namanya tercantum sebagai mahamurid baru Kedokteran Gigi UGM. Alih-alih langsung bersorak, ia justru berkali-kali memeriksa layar pengumuman untuk memastikan bahwa dirinya tidak salah melihat.
Baginya, keberhasilan itu terasa sulit dipercaya. Apalagi selama ini ia sering melihat tatapan ragu dari orang-orang yang menganggap mimpinya terlalu tinggi. Bahkan, keluarganya sudah menyiapkan kata-kata penghiburan jika hasilnya tidak sesuai harapan. Namun ternyata mimpi tidak selalu mengikuti angka-angka tryout.

Di balik keberhasilannya, ada sosok yang sangat berpengaruh: sang bunda. Menurut Adila, ibunya tidak pernah membebaninya dengan ekspektasi yang berlebihan. Ia hanya diminta untuk belajar dan berusaha sebaik mungkin, sementara hasilnya diserahkan kepada Allah. Sikap itulah yang membuat Adila menjalani proses panjang menuju SNBT dengan lebih tenang. Ia juga banyak belajar dari semangat bundanya yang hingga kini masih terus belajar dan mengembangkan diri.
Menariknya, alasan Adila memilih Kedokteran Gigi berangkat dari pengalaman masa kecil yang cukup personal. Saat duduk di bangku Sekolah Dasar, ia pernah merasa minder karena kondisi giginya. Pengalaman itu sempat membuatnya kehilangan rasa percaya diri. Kini, justru senyum menjadi bagian dari dirinya yang paling ia syukuri. Barangkali karena itulah dunia kedokteran gigi terasa begitu dekat di hatinya.
Sebagai Ketua Majelis Perwakilan Murid (MPS) MAN 1 Yogyakarta periode 2024/2025, Adila juga tumbuh di lingkungan yang penuh dengan teman-teman berprestasi dan bercita-cita tinggi. Dukungan mereka menjadi sumber semangat yang membuatnya terus bergerak maju.
Hari ini, setelah berhasil menembus kampus impiannya, Adila percaya bahwa kegagalan maupun hasil ujian tidak pernah menentukan nilai seseorang sepenuhnya. Kadang, jalan menuju cita-cita memang harus melewati fase ketika semuanya terlihat mustahil.
Sebab pada akhirnya, harapan tidak selalu lahir dari keyakinan bahwa kita pasti bisa. Terkadang, harapan justru tumbuh ketika kita tetap melangkah, bahkan saat tidak banyak alasan yang membuat kita percaya.
Penulis: Deti Prasetyaningrum (Guru MAN 1 Yogyakarta)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer






























































