Bagi Takbir Cendekia Aswaja, kegagalan bukanlah akhir perjalanan. Kegagalan justru menjadi tanda bahwa seseorang harus memperbaiki strategi, menguatkan mental, dan kembali berjuang dengan lebih sungguh-sungguh.
Ketua OSIS MAN 1 Yogyakarta itu sempat merasakan pahitnya penolakan dalam seleksi masuk perguruan tinggi negeri. Namun, ia tidak membiarkan kekecewaan menghentikan langkahnya. Setelah melewati perjalanan panjang, Takbir akhirnya diterima di tiga perguruan tinggi negeri, yakni Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Universitas Sebelas Maret (UNS).
Perjuangannya dimulai sejak awal kelas XII. Saat itu, Takbir masih memegang amanah besar dalam rangkaian Puncak Lustrum XV MAN 1 Yogyakarta. Ia harus membagi fokus antara menyukseskan kegiatan madrasah dan mempersiapkan diri menghadapi seleksi perguruan tinggi.
Dalam situasi tersebut, Takbir menyadari bahwa keberhasilan membutuhkan pengorbanan dan kemampuan menentukan prioritas. “Yang harus saya korbankan adalah waktu bermain, bertemu dengan teman, dan kegiatan-kegiatan lain yang harus saya geser prioritasnya, bukan menggeser belajarnya,” ungkapnya.
Sejak awal, ia membuat perencanaan selama satu tahun, mulai dari persiapan Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP), Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT), hingga jalur mandiri. Menurutnya, menyiapkan berbagai kemungkinan bukanlah bentuk pesimisme, melainkan cara agar seseorang tidak kehilangan arah ketika rencana utama belum berhasil.
Takbir mulai mempelajari materi dasar UTBK sambil tetap meninjau materi sekolah untuk persiapan Tes Kemampuan Akademik. Keseriusannya terlihat dari kebiasaannya mengikuti tambahan belajar hingga tengah malam di lembaga bimbingan belajar Edulab. Karena padatnya jadwal, dalam satu pekan ia terkadang hanya pulang ke rumah dua atau tiga kali.
Saat dinyatakan tidak lolos SNBP, Takbir tidak berhenti. Ia memilih tinggal di rumah indekos selama satu bulan agar dapat mempersiapkan UTBK secara lebih intensif.
Menjelang 30 hari pelaksanaan UTBK, ia mengambil keputusan yang tidak biasa. Takbir berhenti mengikuti kelas reguler dan memilih fokus pada latihan soal serta evaluasi mandiri. Ia membuat program pribadi bertajuk “One Day One Tryout”.
Enam hari dalam sepekan, Takbir mengerjakan tryout dari berbagai aplikasi dan platform pembelajaran. Pagi hari dimulainya dengan joging atau berlatih di pusat kebugaran, kemudian sarapan. Sekitar pukul 09.00 WIB, ia menuju Collab Hub UGM untuk mengerjakan tryout hingga siang. Sore harinya digunakan untuk meninjau hasil, mempelajari kesalahan, dan berdiskusi bersama teman-teman hingga malam. Hari Minggu ia gunakan untuk beristirahat, berenang, atau bermain game. Baginya, belajar bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan. Kondisi fisik dan mental juga harus dijaga. “Masih ada faktor lain agar otak kita dapat berfungsi maksimal, seperti olahraga, pola makan, pola istirahat, dan refreshing,” katanya.

Namun, kerja keras itu belum langsung membuahkan hasil. Takbir kembali harus menerima kenyataan bahwa dirinya belum berhasil dalam SNBT. Ia mengakui bahwa kesedihan menjadi perasaan pertama yang muncul. Namun, Takbir tidak berusaha menyangkalnya. “Sedih adalah perasaan yang normal dan memang harus dikeluarkan sampai tuntas. Tetapi hidup bukan hanya tentang hari ini, bukan hanya tentang SNBT atau PTN. Hidup lebih dari itu,” tuturnya.
Takbir meyakini bahwa Tuhan telah menyiapkan jalan terbaik. Menurutnya, kegagalan bukan berarti seseorang tidak mampu. Bisa jadi, ia hanya perlu memperbaiki diri dan mencoba kembali melalui kesempatan lain. Keyakinan itu membuatnya segera bangkit. Ia teringat slogan Alnesa Competition 2024, “Dream on, until your Dream Comes True.” Kalimat tersebut menjadi pengingat bahwa mimpi harus terus diperjuangkan sampai menjadi kenyataan.
Dalam menghadapi ujian mandiri, Takbir mengubah strategi belajarnya. Jika pada persiapan SNBT ia banyak mengerjakan tryout, pada jalur mandiri ia lebih fokus membaca dan mengulang materi TKA yang telah banyak terlupakan.
Di UGM, ia mendaftar Ilmu Aktuaria dan Teknik Sipil. Di ITB, ia memilih Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan serta Fakultas Teknologi Industri. Sementara di UNS, ia mendaftar Teknik Sipil. Takbir mengaku cukup idealis dalam menentukan jurusan. Ia hanya memilih bidang yang benar-benar sesuai dengan minatnya dan tidak sekadar mengejar nama besar perguruan tinggi.
Perjuangannya akhirnya terbayar. Ia dinyatakan diterima di UGM, ITB, dan UNS. “Alhamdulillah, saya benar-benar bersyukur masih diberi kesempatan untuk berkuliah di tempat yang baik. Saya sangat senang karena jerih payah saya akhirnya terbayarkan,” ungkapnya.
Setelah menyusun skala prioritas, Takbir memilih UGM sebagai tempat melanjutkan pendidikan. Keputusan tersebut diambil setelah mempertimbangkan jurusan, lingkungan, dan rencana masa depannya.
Di balik keberhasilannya, Takbir menyebut orang tua sebagai sosok yang paling berperan. Mereka selalu memberikan dukungan dan kebebasan dalam menentukan pilihan tanpa memberikan tekanan. Dukungan juga datang dari Edulab serta teman-teman belajarnya yang selalu menjadi ruang diskusi dan sumber motivasi.
Kepada adik-adik kelas, Takbir berpesan agar mulai menentukan prioritas sejak memasuki kelas XII. Kegiatan organisasi tetap dapat dijalankan selama mampu mengelola waktu dengan baik. “Ingat, yang dikurangi bukan belajarnya, tetapi kegiatan yang lain. Buat rencana sejak awal dan selalu siapkan diri untuk kemungkinan terburuk,” pesannya.
Perjalanan Takbir membuktikan bahwa satu penolakan tidak pernah cukup untuk menentukan masa depan seseorang. Selama tidak berhenti berusaha, kata “Belum Berhasil” dapat berubah menjadi beberapa kata “Selamat” sekaligus.
Penulis: Deti Prasetyaningrum, S.Pd (Guru MAN 1 Yogyakarta)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer






































































