Imam Sahroni Darmawan, pendamping desa asal Sampang yang bertugas di Bangkalan, terpilih sebagai penulis eksternal Majalah Warta Perpusnas RI lewat program call for articles pada Jumat (17/7/2026).
Naskah karya Imam Sahroni Darmawan yang berjudul “Fenomena Algoritma: Kurasi Pustakawan Versus Mesin Pencari” berhasil diterbitkan pada halaman 37 Majalah Warta Perpustakaan Nasional RI Volume XXXIII Nomor 1 Tahun 2026. Berdasarkan informasi yang diperoleh redaksi, proses kurasi administratif dan substansi dalam program panggilan karya tulis ini berlangsung sangat ketat. Dari seluruh naskah luar lingkungan Perpustakaan Nasional RI (Perpusnas RI) yang masuk, hanya ada tiga artikel penulis eksternal yang dinyatakan lolos seleksi untuk diterbitkan.
Sebagai bentuk apresiasi atas sumbangsih pemikiran tersebut, pihak Perpusnas RI juga memberikan hak honorarium resmi kepada para penulis yang karyanya terpilih.
“Saya bersyukur tulisan ini bisa dimuat. Ini kesempatan berharga untuk membawa perspektif dari daerah ke media publikasi tingkat nasional,” kata pria yang akrab disapa Rony tersebut saat dihubungi pada Jumat (17/7/2026).
Dalam artikelnya, pria yang berasal dari Desa Komis, Kecamatan Kedungdung, Kabupaten Sampang ini membedah kecenderungan platform digital dalam menyajikan informasi yang condong pada preferensi pengguna dan popularitas kata kunci semata. Pola kerja sistem digital ini dinilai berpotensi membatasi sudut pandang publik karena informasi yang disajikan menjadi seragam.
Rony memosisikan peran pustakawan sebagai penyeimbang yang melakukan kurasi informasi kredibel sebelum dikonsumsi oleh masyarakat luas.
“Mesin pencari menyajikan data berdasarkan popularitas dan kecocokan kata kunci. Sementara itu, pustakawan bekerja berdasarkan kebenaran ilmiah dan kebutuhan riil pengguna informasi,” ujar Rony.
Meskipun teknologi digital menawarkan kecepatan dalam penemuan data, kualitas dan validitas informasi tetap membutuhkan proses verifikasi oleh manusia.
“Teknologi membantu kita menemukan informasi dengan cepat. Namun, manusia tetap membutuhkan kemampuan untuk memverifikasi dan menilai kualitas informasi tersebut,” tambahnya.
Sudut pandang Rony dalam menulis isu ini dipengaruhi oleh profesinya sehari-hari sebagai tenaga pendamping profesional di bawah Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendesa PDT). Saat bertugas mendampingi pemberdayaan masyarakat di Kecamatan Sepulu, Kabupaten Bangkalan, ia mendapati bahwa tantangan literasi di pedesaan telah mengalami pergeseran platform.
Hambatan utama di tingkat akar rumput saat ini bukan lagi sekadar persoalan buta aksara, melainkan rendahnya kecakapan masyarakat dalam memilah informasi yang masuk ke gawai mereka. Kerawanan terhadap informasi palsu serta penipuan digital menjadi dampak nyata dari belum meratanya kecakapan literasi digital di tingkat desa.
“Pembangunan di desa bukan hanya tentang infrastruktur fisik seperti jalan atau jembatan, melainkan juga pembangunan kapasitas manusianya,” tutur Rony.
Bagi masyarakat pedesaan, kemampuan menyaring informasi berfungsi sebagai proteksi awal terhadap risiko kerugian material maupun sosial.
“Kemampuan menyaring informasi ini adalah benteng pertahanan pertama agar warga desa terhindar dari berbagai kerugian ekonomi maupun sosial akibat informasi yang salah,” jelasnya.
Majalah Warta Perpustakaan Nasional RI edisi terbaru ini telah didistribusikan dalam bentuk cetak ke jaringan perpustakaan daerah serta instansi pendidikan di seluruh Indonesia. Selain format fisik, masyarakat umum juga dapat mengunduh versi digital majalah tersebut secara gratis melalui portal resmi Perpusnas RI.
Melalui capaian ini, Rony berharap agar para penggerak literasi di tingkat lokal tidak ragu untuk mulai menuangkan gagasan mereka ke dalam bentuk tulisan yang dapat diakses publik secara luas.
“Semoga ini bisa memotivasi rekan-rekan di daerah untuk terus berbagi gagasan. Jarak geografis bukan menjadi pembatas untuk menyumbangkan pemikiran bagi pengembangan literasi nasional,” ujar Rony.
Pustakawan memiliki peran melakukan seleksi, pengelolaan, dan penyediaan sumber informasi yang kredibel sesuai kebutuhan pengguna. Sementara itu, mesin pencari bekerja menggunakan algoritma yang mengurutkan informasi berdasarkan berbagai faktor, termasuk relevansi kata kunci dan perilaku pengguna.
Kedua mekanisme tersebut memiliki fungsi berbeda sehingga saling melengkapi dalam membantu masyarakat memperoleh informasi yang akurat. Melalui pemahaman atas perbedaan cara kerja ini, publik diharapkan dapat lebih bijak dalam memilah informasi yang disajikan oleh sistem digital.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer








































































