Veren Ariyani, srikandi Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) asal Sragen, Jawa Tengah, telah menorehkan perjalanan hidup penuh semangat dan keteguhan. Lahir di Sragen, ia merantau ke Bangka Belitung pada 2018 mengikuti orang tua. Di sana, pada 2021, Veren memulai latihan PSHT karena ingin meneladani ayahnya yang seorang pendekar. Bersama adiknya yang masih sabuk polos, ia bergabung di kelas latihan awal.
“Latihan pertama kali seru sekali, meski saya satu-satunya perempuan di antara delapan siswa,” kenang Veren. Setelah naik sabuk jambon, latihan dipindah ke tempat baru yang lebih ramai. Di sabuk hijau, ia kembali ke tempat semula dan bertahan bersama adik serta satu dulur lagi. Pada tes sabuk putih, hanya tiga siswa tersisa, termasuk Veren—adiknya belum disahkan karena usia. Pendadaran didampingi ayah, pelatih Mas Joelian, dan Mas Joni. Tak ketinggalan, tes ayam yang ia ikuti usai izin pulang cepat dari sekolah, setelah meminta doa restu ibu.
Puncaknya, pada 2022, Veren disahkan sebagai warga PSHT di gedung pengesahan, ditemani ayah dan Mas Joelian. Ia selalu didukung penuh keluarga dan pelatih. “Ayah melatih saya langsung, selalu nemenin tes sabuk, ayam, pendadaran, hingga pengesahan,” ujarnya. Kini, Veren punya enam siswa sendiri. Latihan dipindah ke rumahnya, dengan program khusus dari ayah. Syukuran diadakan meriah, mengundang dulur PSHT Cabang Sungailiat, Bangka Belitung. Meski beberapa siswa mundur karena latihan berat, semangat Veren tak pudar.
Tahun 2023, ia meraih prestasi atletik di SMK Yapensu Sungailiat. Mewakili sekolah di 02SN cabang pencak silat, Veren tampil meski sedang sakit. “Saya sempat pingsan, tapi Alhamdulillah juara 3 dan dapat hadiah uang dari sekolah,” ceritanya. Ia selalu ditemani orang tua dan Mas Joni sebelum tanding, termasuk ritual mencuci kaki ibu untuk doa restu.
Tak hanya olahraga, Veren aktif di media sosial. Akun TikTok pertamanya capai 20 ribu followers sebelum diblokir, lalu akun baru tembus 55 ribu dan sering dapat endorse. Pada 2024, demi lulus SMA, ia jarang latihan. Setelah wisuda, pulang ke Sragen dan kuliah di Universitas Alma Ata Yogyakarta. Di sana, ia ikut pengesahan cabang Sragen yang ramai, lengkap dengan konvoi dulur.
Hidupnya kian berwarna saat bertemu Raffi Gaza Godzali, dulur PSHT, pada November 2024. “Dia orang pertama yang rayain ulang tahunku, datang ke acara organisasi bareng, dan bikin hidupku penuh warna,” kenang Veren. Mereka pacaran, ikut tes sabuk dan pendadaran bersama, meski akhirnya putus. “Cinta dan pendidikan tak bisa bareng. Sekarang, saya fokus kuliah, karier orang tua, ibadah, dan perbaiki diri,” tegasnya.Kisah Veren menginspirasi generasi muda: dari siswi biasa menjadi srikandi PSHT, atlet juara, hingga konten kreator sukses. Dukungan keluarga jadi kunci utama perjalanannya.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer








































































